NERACAONLINE – Cara pemerintah dengan memotong biaya aplikator dari yang awalnya 20% menjadi 8% dinilai oleh mitra Ojek Online (Ojol) tidak banyak memberikan manfaat bagi para mitra. Jutru Ojol melihat dengan dipotongnya komisi membuat penghasilan para ojol jadi ikut menurun.
Denis, perwakilan Ojol dari Depok menyampaikan bahwa potongan aplikator yang awalnya 20% menjadi 8% membuat aplikator tidak lagi memberikan program diskon kepada konsumen sehingga membuat penurunan pelanggan. “Mungkin bisa berkurang hingga setengahnya, karena diskonnya sudah tidak ada lagi,” kata Denis dalam Diskusi Dinamika Regulasi dan Kemitraan Ekosistem Ojol di Indonesia yang digelar oleh Asosiasi Mobilitas dan Pengantaran Digital Indonesia (Modantara) di Jakarta, Kamis (5/11).
Denis tidak sendiri merasakan hal itu, mitra ojol lainnya juga merasakan yang sama. Neti Simangunsong dari LadyOjol menyuarakan keresahannya. Saat ini, kata dia, mulai banyak perempuan dan emak-emak yang menjadi Ojol hal itu lantaran hidup sudah semakin sulit. “Jadi, perempuan itu tak hanya tulang rusuk kini sudah menjadi tulang punggung,” kata Neti.
Neti menyampaikan bahwa kelompok ladyojol telah memiliki 1.500 anggota yang mana mayoritas dari mereka menyatakan keresahannya lantaran aplikator sudah jarang memberikan promo. “Ketika potongan aplikator itu 20%, banyak sekali program yang dibuat oleh aplikator untuk kalangan perempuan. Namun ketika itu dipotong maka program untuk perempuan juga dipotong sehingga kurang mensejahterakan,” katanya.

Yodhi M Ahyad dari URC New Jabodetabek merasakan ada penurunan jumlah pelanggan karena biaya promosi yang digunakan oleh aplikator itu dipotong oleh pemerintah. “Kami mengapresiasi keberpihakan pemerintah kepada ojol namun juga ketika membuat kebijakan, ditanyakan dulu kepada kami sebagai mitra ojol,” jelasnya.
Untuk itu, ia berharap agar pemerintah juga mengevaluasi tarif batas bawah dan batas atas. “Jika niatnya ingin mensejahterakan kami para mitra ojol, maka tarifnya diperbaiki juga. Karena tarif sekarang ini masih menggunakan aturan Permenhub tahun 2022 sebesar Rp10.500 sementara sekarang sudah 2026, artinya sudah banyak berubah kondisinya,” kata Yodhi.
Perwakilan URC Bergerak, Roy, mengatakan, persoalan utama yang dihadapi pengemudi ojol saat ini bukan semata-mata besaran komisi yang dipotong aplikator, melainkan semakin terbatasnya jumlah pesanan yang diterima mitra pengemudi.
Menurut dia, pengemudi lebih membutuhkan peningkatan jumlah pesanan dibandingkan sekadar penurunan komisi atau perubahan tarif yang berpotensi membebani konsumen. “Kita ingin order dibanyakin dibandingkan komisi yang diturunkan,” ujar Roy.
Ia menjelaskan, keberadaan aplikator juga memberikan sejumlah manfaat bagi mitra pengemudi, mulai dari penanganan pesanan fiktif hingga berbagai program peningkatan kapasitas dan pendidikan bagi keluarga mitra.
Roy mencontohkan, dalam kasus pesanan fiktif, pihak aplikator menanggung kerugian pembayaran yang nilainya disebut bisa mencapai Rp120 juta per bulan. Selain itu, terdapat program sosial seperti kursus memasak, pelatihan bahasa Inggris, hingga bantuan pendidikan berupa kuliah bagi anak mitra pengemudi.
Meski demikian, ia mengakui berbagai manfaat tersebut berpotensi berkurang apabila beban operasional aplikator semakin besar. Kondisi itu dikhawatirkan lebih berdampak terhadap mitra pengemudi di daerah yang memiliki keterbatasan akses dan kesempatan memperoleh penghasilan tambahan.
Di sisi lain, Roy menilai keberlangsungan perusahaan aplikator juga perlu diperhatikan karena ekosistem ekonomi digital yang dibangun turut melibatkan jutaan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Ia menyebutkan, terdapat sekitar 5 juta merchant GrabFood yang memanfaatkan platform digital untuk mengembangkan usaha. Ekosistem serupa juga dibangun oleh layanan pesan antar makanan lainnya. “UMKM yang tumbuh lewat online, ada 5 juta Grab merchant food, GoFood juga sama. Aplikator perlu dijaga karena mereka yang mengelola itu semua,” katanya.
Menurut Roy, aplikator juga masih menghadapi berbagai beban, termasuk pajak atas layanan aplikasi. Karena itu, kebijakan tarif perlu mempertimbangkan keberlangsungan seluruh ekosistem, bukan hanya melihat kepentingan satu pihak.
Bagi pengemudi ojol, kebijakan yang paling dibutuhkan saat ini adalah peningkatan permintaan layanan agar jumlah pesanan bertambah. Dengan demikian, peluang memperoleh pendapatan yang lebih baik dapat meningkat tanpa harus membebani pelanggan melalui kenaikan tarif.






































