Beranda CSR Japfa For Kids Langkah Kecil Menekan Angka Malagizi Sejak Dini

Japfa For Kids Langkah Kecil Menekan Angka Malagizi Sejak Dini

15
0

Investasi terbaik adalah investasi pada generasi masa depan karena negara yang besar tercermin dari generasi mudanya yang sehat, kuat, dan produktif. Investasi pada kesehatan fisik, mental, dan pendidikan anak muda adalah kunci utama untuk membawa sebuah bangsa menuju masa depan yang maju dan berdaya saing global.

Langkah kecil inilah yang dilakukan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), perusahaan unggas dan makanan olahan yang melakukan edukasi kesehatan dari gerakan sosial menjadi aksi nyata dan berdampak pada masyarakat. Lewat program satu hari satu telur Japfa for Kids (JFK) telah menjangkau ribuan siswa penerima manfaat dan mampu menekan angka gizi buruk. Dalam pelaksanaan dua tahun terakhir pada 2024, dari 1.479 siswa yang teridentifikasi mengalami gizi kurang dan gizi buruk, 762 siswa atau 51,5% berhasil meningkat menjadi status gizi baik.

Kemudian 2025, program menjangkau 123 sekolah di sembilan kabupaten/kota. Dari 1.034 siswa yang menjadi sasaran karena kondisi malnutrisi, sebanyak 646 siswa atau 62,5% mengalami peningkatan status gizi menjadi baik. Langkah ini menjadi semangat dan komitmen bersama pelaku usaha untuk mendukung pemerintah menekan angka gizi buruk. Pasalnya, persoalan gizi masih menjadi tantangan dan menurut data Survei Kesehatan Indonesia 2023 mencatat 11% anak usia 5–12 tahun berada pada kategori gizi kurang dan gizi buruk. Sementara data internal di sejumlah lokasi program pada 2025 menunjukkan 6,6% siswa masih menghadapi kondisi serupa.

Akhtar, siswa kelas III SDN Sukamanah 01, Megamendung Puncak Bogor begitu lahap memakan telur dan susu yang disajikan fasilitator JFK,”Enak dan habis telurnya. Apalagi kalau diolah dengan disemur, didadar karena telor banyak protein,”ungkapnya.

Ya, Akhtar termasuk satu dari 29 murid di sekolahnya yang tercatat sebagai penerima manfaat satu butir telur setiap hari dari program JAPFA for Kids, di luar menu makan gratis pemerintah. Sementara Leni (40), selaku orangtua Akhtar bercerita bahwa sebelum adanya program Japfa for Kids, dirinya tidak tahu bahwa anaknya masuk dalam kategori anak dengan gizi kurang. “Iya saya enggak tahu (anak kondisi kurang gizi) karena jarang ke Puskesmas dan kelihatan sehat-sehat saja. Tapi ketika ada JAPFA ini dikasih tahu bahwa kurang (gizi). Jadi katanya kurus dan memang anak saya agak pilih-pilih makanan,”kata Leni.

Menurut Leni, putra keduanya tersebut saat masih bayi justru terlihat gemuk. Selain itu, ayahnya dan juga kakaknya tidak mengalami kondisi gizi kurang.  Meskipun demikian, kehadiran program Japfa for Kids ini menjadi pengingat bagi dirinya untuk memenuhi gizi anak agar tidak mengalami kondisi stunting. “Anak saya jadi bertambah berat badannya sekarang. Jadi program ini membantu banget. Apalagi anak saya cita-citanya jadi Polisi. Semoga bisa tercapai,” jelasnya.

Di SDN Sukamanah 01, Megamendung, Puncak, Bogor, Jawa Barat sendiri sebanyak 29 anak merupakan penerima manfaat dari sekitar 600 siswa. Mereka sudah menerima program Japfa for Kids sejak Juli 2026 atau bertepatan dengan pelaksanaan pembelajaran di sekolah. Evaluasi pelaksanaan program ini sendiri dilakukan setiap satu bulan sekali dan program ini akan berjalan selama 6 bulan atau satu semester.

 

Tiga Program Utama

Fasilitator Japfa for Kids Wilayah Megamendung, Muhammad Trisna Kusuma Wardana mengatakan bahwa di Megamendung sebanyak 7 satuan pendidikan mendapatkan dukungan dari Japfa lewat program ini.“Memang program ini didesain untuk mengurangi angka malnutrisi. Jadi kita awalnya memang melakukan pengukuran screening bersama Puskesmas untuk melihat anak-anak yang memang termasuk dalam gizi kurang dan gizi buruk. Lalu setelah itu kami setelah menemukan anak-anak yang memang gizi buruk dan gizi kurang, kami tidak langsung serta-merta memberikan program ini kepada anak-anak tersebut. Kami ada pertemuan orangtua untuk menjelaskan apa sih pentingnya program ini, kenapa sih program ini sangat penting untuk anak-anaknya, karena di usia anak SD ini sangat menentukan gitu bagaimana asupan mereka saat pertumbuhan nanti,” ungkapnya.

Dalam program Japfa for Kids di SDN Sukamanah 01, terdapat tiga progran utama yang dilakukan. Pertama ialah pelaksanaan program satu telur satu hari untuk anak-anak yang mengalami gizi kurang dan gizi buruk,“Tadi untuk anak-anak yang terjaring itu anak-anaknya diberikan 7 butir telur omega. 7 butir telur omega itu diberikan kepada anak-anak untuk dikonsumsi setiap harinya, di mana setiap hari Senin sampai Jumat itu dikonsumsinya di sekolah. Jadi orangtuanya mengolahkan hidangan telur dan itu sebagai protein tambahan dari adanya MBG di sini. Tapi kalau Sabtu dan Minggu atau Tanggal Merah, nanti orang tuanya sendiri yang memastikan anaknya itu tadi ada tambahan protein telurnya, dimakan lalu difotokan ke gurunya, lalu dicek. Jadi kita tetap memonitoring bagaimana konsumsinya selama setiap minggu,” tegas Trisna.

Sejumlah siswa menunjukkan telur bebek saat kegiatan Gerakan Gemar Makan Telur di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 3 Bringin, Batealit, Jepara, Jawa Tengah, Selasa (30/8/2022). Gerakan makan telur yang diikuti seluruh siswa tersebut untuk pemenuhan gizi protein hewani untuk anak agar terhindar dari masalah stunting atau gagal tumbuh pada anak agar menghasilkan generasi yang lebih unggul. ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho/aww.

Program selanjutnya ialah Hari Sehat Japfa yang bertujuan membangun budaya hidup bersih dan sehat serta memantau status gizi anak. Program ini dijalankan dengan melakukan senam sehat, edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), makan bekal bersama, dan intervensi gizi,“Hari Sehat Japfa kita lakuin setiap minggu. Kalau di sini kita di hari Selasa, kita lakukan edukasi tentang gizi seimbang, PHBS, cuci tangan pakai sabun, cek kuku, dan makan bersama,” tuturnya.

Terakhir dilaksanakan program pertemuan orangtua untuk memberikan evaluasi terhadap perkembangan anaknya dalam kurun waktu satu bulan,“dua atau tiga minggu setelah program dimulai, kita melakukan MCU untuk semua anak yang menerima manfaat. Jadi kita sudah melihat ini, ada tidak anak yang punya riwayat sakit dan lainnya Itu yang menjadi indikator kita melihat bagaimana atau apa penyebab anak-anak nanti kalau pertumbuhannya kurang signifikan setelah 1 bulan,” kata dia.

Sementara Kepala Sekolah SDN Sukamanah 01, Susi Susanti mengapresiasi kehadiran program Japfa for Kids di sekolahnya. Menurutnya untuk mengatasi persoalan stunting atau gizi kurang dan gizi buruk membutuhkan dukungan dari berbagai pihak,“Kami bersyukur sekali Japfa bisa bekerja sama dengan kami dan orangtua juga sangat merespons baik kehadiran Japfa,”ungkapnya.

Ya, program JFK yang sudah berjalan 18 tahun menjadi konsistensi Japfa Comfeed dalam mewujudkan generasi muda yang tanguh dan cerdas dengan memenuhi kebutuhan gizi yang seimbang.“Komitmen kami terhadap bangsa tidak pernah surut. Sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045, kami berinvestasi pada kecukupan gizi dan ketersediaan pangan demi membangun generasi muda yang tangguh di masa depan,”kata Direktur Utama sekaligus Ketua Komite Keberlanjutan Japfa Comfeed Indonesia, Renaldo Santosa.

Sejak pertama kali dijalankan pada 2008 hingga 2025, program Jafpa for Kids telah menjangkau 201.056 siswa di 1.214 sekolah yang tersebar di 105 kabupaten/kota. Sementara untuk Japfa for Kids 2026 menargetkan pemeriksaan 16.000 siswa di 9 wilayah, yakni Padang Pariaman, Bintan, Lampung Selatan, Bogor, Tegal, Karanganyar, Lamongan, dan Sofifi.

Disampaikan Renaldo, momentum 18 tahun ‘Japfa for Kids’ memperkuat strategi keberlanjutan atau Environmental, Social, and Governance (ESG) perseroan. Dalam laporan ‘Keberlanjutan 2025’ perusahaan yang bertema ‘Berkelanjutan dari Dalam ke Luar’, Japfa menegaskan bahwa keberlanjutan bukan sekadar laporan administratif, melainkan praktik nyata yang dibangun dari penguatan sumber daya manusia, inovasi operasional, hingga keterlibatan masyarakat.

Dalam laporan keberlanjutannya, Japfa mengakui bahwa keberlanjutan kini menjadi bagian penting strategi bisnis jangka panjang perusahaan. Karena itu, perusahaan mulai memperkuat investasi sosial dan lingkungan secara agresif. Bahkan menurut penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Pembangunan Manusia Volume 2 Nomor 1 Tahun 2021 itu menemukan bahwa program ‘Japfa for Kids’ berhasil menciptakan perubahan perilaku nyata di sekolah. Salah satu perubahan paling terlihat adalah pengurangan penggunaan plastik sekali pakai.

Siswa diwajibkan membawa kotak makan dan botol minum sendiri dari rumah. Bahkan pedagang sekolah sepakat tidak melayani siswa yang tidak membawa wadah makan dan minum pribadi. Artinya, keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah bantuan yang diberikan, tetapi sejauh mana masyarakat mampu melanjutkan kebiasaan baik setelah pendampingan selesai.

Rachmat Indrajaya, Direktur Corporate Affairs Japfa menambahkan, selama 18 tahun, JFK hadir sebagai bentuk komitmen berkelanjutan perusahaan dalam mendukung peningkatan kualitas gizi dan kesehatan anak Indonesia,”Kami percaya bahwa membangun masa depan Indonesia dimulai dari memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang baik dan tumbuh dalam lingkungan yang mendukung pola hidup sehat,”ujarnya.

Disampaikan Retno Artsanti, Head of Social Investment Japfa, Japfa for Kids dalam implementasinya menjalankan berbagai strategi terintegrasi, mulai dari pemberian asupan protein hewani berupa telur setiap hari selama enam bulan bagi siswa dengan kondisi malagizi, pemantauan rutin berat dan tinggi badan siswa melalui aplikasi digital, hingga pembiasaan perilaku hidup sehat melalui program Hari Sehat Japfa. “Program ini juga dilengkapi dengan edukasi kesehatan, pelatihan guru, pendampingan orang tua, serta monitoring berkala guna memastikan dampak program dapat terukur secara konsisten,”ungkapnya.

 

Penerapan Gizi Seimbang

Memenuhi kebutuhan protein anak tidak selalu harus dengan bahan pangan yang mahal, keluarga dapat memanfaatkan beragam sumber pangan yang mudah diperoleh dan menyesuaikannya dengan kemampuan ekonomi rumah tangga.

Kata ahli nutrisi, Tara Mutiara Ramdani, pemenuhan protein merupakan bagian penting dari penerapan gizi seimbang bagi anak. Menurutnya, keluarga dapat menyusun pola makan lengkap dan beragam dengan memanfaatkan berbagai bahan pangan yang tersedia di sekitar.“Definisi sehat adalah kita harus menerapkan gizi seimbang, lengkap, dan juga bervariasi. Itu yang paling penting,”ujarnya.

Disampaikannya, keluarga tidak perlu bergantung pada sumber protein tertentu untuk memenuhi kebutuhan gizi anak. Beragam bahan pangan lokal dapat menjadi pilihan, sehingga pemenuhan nutrisi tetap dapat disesuaikan dengan anggaran belanja.

Menurut Tara, pemahaman mengenai nutrisi menjadi penting agar orang tua mampu menentukan pilihan makanan sesuai kebutuhan anak sekaligus menjaga keberagaman dan keseimbangan pola makan.“Perlu lebih mindful, perlu lebih mengerti, dan punya literasi gizi,” ujarnya.

Kemudian Tara menekankan bahwa edukasi nutrisi diperlukan agar orang tua memahami kebutuhan protein dan zat gizi lainnya dalam mendukung tumbuh kembang anak. Dengan mengenali beragam sumber pangan dan menyusun menu secara seimbang, keluarga dapat memenuhi kebutuhan protein anak tanpa harus bergantung pada bahan pangan yang mahal.

Pakar gizi masyarakat dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Sandra Fikawati menilai, edukasi mengenai gizi seimbang masih perlu diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor. Menurut Sandra, pemenuhan gizi anak berkaitan dengan sejumlah faktor, mulai dari akses dan daya beli hingga kebiasaan konsumsi serta pemahaman masyarakat mengenai pola makan seimbang.“Peningkatan kualitas gizi anak memerlukan keterlibatan banyak pihak,” ujar Sandra.

Sementara itu, Kepala Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) I Dewa Gede Karma Wisana mengatakan, pilihan makanan dalam rumah tangga turut memengaruhi kualitas konsumsi pangan keluarga.

Menurut dia, perhatian terhadap kualitas makanan perlu dilakukan agar kebutuhan nutrisi seluruh anggota keluarga, termasuk anak, tetap terpenuhi.

Artikulli paraprakMenhub Apresiasi Gojek Berangkatkan Puluhan Driver Legend Umrah
Artikulli tjetërGebyar Kursus 2026: LKP Lepas 4.021 Alumni untuk Bekerja di 11 Negara

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini