Beranda Ekonomi Daerah FAKTA Indonesia Edukasi Warga Soal MBG Lewat Lomba Menu Bergizi

FAKTA Indonesia Edukasi Warga Soal MBG Lewat Lomba Menu Bergizi

20
0

NERACAONLINE – Forum Warga Kota (FAKTA) Indonesia mendorong, evaluasi terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar lebih tepat sasaran dan melibatkan masyarakat dalam pengelolaannya.

‎Ketua FAKTA Indonesia, Ari Subagio Wibowo mengatakan, kegiatan edukasi serta lomba yang digelar bersama masyarakat di Cipinang Besar Selatan, Jatinegara, Jakarta Timur, Senin (31/8/2026) menjadi pembelajaran untuk melihat sejauh mana masyarakat mampu mengelola makanan bergizi dengan anggaran yang tersedia.

‎Ia menyebut, masyarakat dapat dilibatkan secara langsung dalam menentukan kebutuhan makanan, termasuk memilih menu yang sesuai dengan kebutuhan gizi anak. Dengan begitu, subsidi pemerintah dapat dirasakan secara langsung oleh kelompok masyarakat yang memang membutuhkan.

‎”Ini pembelajaran untuk masyarakat untuk melihat kembali MBG sebenarnya. Kalau itu dikelola oleh masyarakat sendiri, itu berarti mampu tanpa harus melibatkan pihak-pihak lain,” kata Ari usai kegiatan.

‎Ia menilai, pola pelaksanaan MBG saat ini masih terlalu bersifat top-down atau dari pemerintah ke masyarakat. Padahal, menurut dia, masyarakat juga memiliki kemampuan untuk menentukan kebutuhan dan mengelola anggaran makanan bergizi secara mandiri.

‎”Masih tidak kurang tepat karena top-down, dari atas ke bawah. Kalau ini dari masyarakat kita tentukan dananya segini, dia memilih,” ujarnya.

‎Ari menegaskan, pemerintah perlu mengevaluasi kembali sasaran penerima MBG. Menurutnya, tidak seluruh sekolah harus mendapatkan prioritas yang sama karena kondisi ekonomi dan kebutuhan gizi peserta didik berbeda-beda.

‎Sekolah yang berada di wilayah pinggiran, kawasan dengan tingkat ekonomi masyarakat rendah, maupun wilayah perbatasan, semestinya menjadi kelompok yang lebih diprioritaskan.

‎”Siapa yang punya dampak besar harusnya diutamakan. Tidak semua sekolah yang mampu dikasih. Yang di pinggiran atau yang miskin sekolahnya atau yang di perbatasan itu lebih penting,” tegasnya.

‎Ari menyatakan, pelibatan masyarakat juga dapat menjadi mekanisme kontrol terhadap pelaksanaan MBG. Masyarakat dapat mengetahui secara langsung besaran anggaran yang digunakan, harga makanan, hingga kualitas dan kandungan gizi yang diberikan kepada anak.

‎Ia mengungkapkan, masyarakat harus diberi ruang untuk menyampaikan kritik dan melakukan pengawasan terhadap program tersebut. Kritik, kata Ari, bukan berarti menolak MBG, melainkan memastikan makanan yang diberikan benar-benar memenuhi kebutuhan gizi anak.

‎”Ini menggambarkan dinamika di masyarakat bahwa mereka kalau dikasih sesuatu untuk dianggarkan, mereka mampu mengelola. Ini pembelajaran untuk publik,” ungkapnya.

‎Ari juga menekankan pentingnya keterlibatan fasilitas pelayanan kesehatan, khususnya puskesmas, dalam pelaksanaan MBG. Setiap puskesmas memiliki tenaga ahli gizi yang dapat dilibatkan untuk memastikan makanan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan anak.

‎”Setiap puskesmas itu ada ahli gizi. Kalau itu dilibatkan semakin baik. Ada dokter, ada ahli gizi. Jadi pelibatan puskesmas itu penting, jangan dilepas begitu saja,” tuturnya.

‎Ia berharap keterlibatan masyarakat, dokter, ahli gizi, dan puskesmas dapat mendorong perubahan dalam pelaksanaan MBG sehingga program tersebut tidak sekadar memberikan makanan, tetapi benar-benar meningkatkan pemenuhan gizi anak.

‎”Harapannya ada perubahan untuk pemberian gizi ke makan gizi gratis ini, sehingga ada perubahan yang besar. Yang menerima benar-benar yang punya dampak, bukan asal sekarang,” ucap Ari.

‎Sebagai bagian dari edukasi tersebut, FAKTA Indonesia juga menggelar kegiatan memasak makanan bergizi bersama warga. Ari mengatakan kegiatan tersebut akan diperluas ke sejumlah wilayah lain di Jakarta sebagai contoh bagaimana masyarakat dapat terlibat langsung dalam penyediaan makanan bergizi.

‎”Kita punya banyak kampung. Sekarang di RW Cipinang Besar Selatan, nanti bisa di Cililitan, Jakarta Utara atau Jakarta Pusat. Ini hanya sebuah contoh dinamika kecil, tetapi akan kita kembangkan lebih luas,” bebernya.

‎Sementara itu, warga RT 02/RW 02 Cipinang Besar Selatan, Jatinegara, Ana (50) mengatakan, kegiatan memasak tersebut memberikan pengalaman kepada warga mengenai cara menyiapkan makanan bergizi dengan anggaran terbatas.

‎Ana bersama timnya, Bolo-Bolo, meraih juara pertama dalam lomba memasak. Menu yang disajikan berupa nasi berbentuk boneka, ayam goreng mentega, melon, brokoli, wortel, dan telur dadar.

‎Ia mengatakan, seluruh bahan makanan untuk satu porsi menghabiskan biaya Rp9.603, belum termasuk gas.

‎”Kita dirinci semuanya Rp9.603 belum sama gas,” kata Ana.

‎Ana membeberkan, kegiatan tersebut menunjukkan bahwa dengan anggaran sekitar Rp10 ribu, masyarakat tetap dapat membuat makanan yang enak sekaligus memperhatikan kebutuhan gizi anak, mulai dari karbohidrat, protein, zat besi, hingga serat.

‎Ana juga menilai menu MBG perlu mempertimbangkan selera anak. Ia mengaku mengetahui anak sekolah di sekitar rumahnya yang kerap tidak menghabiskan makanan MBG karena menu yang diberikan tidak sesuai dengan selera mereka.

‎Makanan untuk anak sekolah, khususnya jenjang sekolah dasar, perlu disesuaikan dengan karakteristik dan selera anak agar makanan yang diberikan benar-benar dikonsumsi.

‎”Kalau anak-anak yang SD, saya membuatnya untuk yang setara masih SD. Jadi tidak ada rasa pedas, tidak ada rasa cabai,” pungkas Ana.

Artikulli paraprakLebih Satu Dekade Pemerintah Abai, Cukai MBDK Resmi Digugat Lewat PTUN

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini