Beranda Perbankan Melek Litreasi dan Cerdas Finansial Jurus Anti Boncos di Era Cashless

Melek Litreasi dan Cerdas Finansial Jurus Anti Boncos di Era Cashless

8
0

Senja berganti malam, Shasa (27) salah satu pegawai perusahaan konsultan di kawasan Kuningan Jakarta, mulai beranjak pulang kantor. Namun gadis lajang ini tak langsung pulang ke kosan tetapi melipir di salah satu kafe SCBD untuk hangout bersama teman melepas kepenatan seharian di kantornya. Bercanda ringan dan tertawa lepas di iringi musik penyanyi di depan panggung, ngobrol ngalor ngidul menjadi caranya tetap waras di tengah deadline kerjaan kantor yang selalu menghantuinya.

Apalagi di Jum’at akhir pekan dan tanggal muda, saldo rekening gajinya masih tebel menjadi malam panjangnya untuk nongkrong hingga larut malam. Ya, kehidupan yang hedonis, mengikuti tren dan konsumtif seperti gambaran indentitas anak Gen Z saat ini membawanya pada sikap yang tidak cakap dalam perencanaan keuangan. Terlebih lagi di era digital saat ini yang setiap transaksi kebanyakan cashless membuat hidupnya begitu singkat menikmati hasil jerih payah hasil kerjanya, “Kalau abis gajian, beli sana dan beli sini online selalu gelap mata dan akhirnya gak ada tabungan dan malah boncos,”ujarnya.

Diakuinya, di balik kemudahan dan kecepatan yang ditawarkan dalam transaksi digital, terdapat tantangan baru berupa meningkatnya risiko pengeluaran impulsif yang sering kali luput dari perhatian. Kebiasan buruknya ini membawa pada kondisi yang mengkhawatirkan hingga terjebak pinjaman online (pinjol) hanya karena ingin membeli tiket konser salah satu band idolanya di Singapura. Selain itu, mengikuti tren juga menjadi pengalaman pahitnya yang memaksakan meminjam uang ke teman untuk membeli iphone terbaru.”Saya sempat kejebak pinjol hanya untuk membeli tiket konser dan saat itu, debt collector baru sebulan menghantui saya dengan teror menagih pelunasan hingga bunganya,”ungkapnya.

Namun sejak berhasil keluar dari lilitan utang pinjol, dirinya tersadar dan menjadi titik balik untuk lebih cerdas dan cakap dalam perencanaan keuangan untuk memujudkan masa depan yang lebih indah. Selain itu, Shasa juga mulai bijak memanfaatkan transaksi dompet digital dalam setiap transaksi untuk memenuhi kebutuhan bulannya,”Emang sih di era digital, segala  macam transaksi makin mudah bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja, tetapi juga harus di rem dan memilah mana kebutuhan dan keinginan,”tandasnya.

Semakin terintegrasinya pembayaran digital saat ini dalam berbagai aktivitas sehari-hari masyarakat membawa pertumbuhan pengguna. Tengok saja, mulai dari membeli makanan dan minuman (F&B), membayar transportasi, berbelanja kebutuhan rumah tangga, hingga memenuhi kebutuhan digital seperti paket data dan layanan hiburan, transaksi non-tunai telah menjadi bagian dari rutinitas harian banyak pengguna.

Bank Indonesia (BI) mencatat volume transaksi pembayaran digital mencapai 5,22 miliar transaksi pada Mei 2026 atau tumbuh 28,14% secara tahunan (year-on-year/yoy). Gubernur BI, Perry Warjiyo merinci, pertumbuhan tersebut didukung oleh semakin luasnya akseptasi pembayaran digital di masyarakat.

Volume transaksi melalui aplikasi mobile dan internet masing-masing tumbuh 26,16% dan 15,51% (yoy), sementara transaksi melalui QRIS melonjak 95,10% (yoy).”Kinerja positif tersebut didukung oleh peningkatan jumlah pengguna dan merchant,” kata Perry.

Meningkatnya data pertumbuhan transaksi digital tak lepas juga didukung oleh semakin luasnya adopsi QRIS, pembayaran digital tidak lagi hanya digunakan untuk kebutuhan online, tetapi juga untuk berbagai kebutuhan rutin masyarakat.

Semakin terintegrasinya pembayaran digital dalam aktivitas sehari-hari tentu memberikan banyak manfaat bagi masyarakat. Namun, ketika transaksi menjadi semakin cepat dan seamless, pengguna juga perlu semakin sadar akan kebiasaan pengeluaran mereka. Pengeluaran kecil yang rutin dilakukan kerap terasa ringan, tetapi dapat terakumulasi menjadi jumlah yang signifikan jika tidak dipantau dengan baik.

Kata Melvin Mumpuni, Certified Financial Planner sekaligus Founder Finansialku, gaya hidup cashless bukan sesuatu yang perlu dihindari, melainkan perlu diimbangi dengan kebiasaan finansial yang sehat.“Cashless lifestyle bisa sangat membantu jika digunakan dengan sadar. Yang penting, pengguna perlu rutin mengecek histori transaksi, membatasi budget harian, serta membedakan kebutuhan dan keinginan. Kebiasaan sederhana ini dapat membantu menjaga pengeluaran tetap terkendali meskipun transaksi kini semakin mudah dilakukan,” ujar Melvin.

Salah satu cara sederhana yang dapat dilakukan pengguna adalah meninjau kembali riwayat transaksinya secara berkala. Disampaikannya, pengguna dapat melihat kembali ke mana uang mereka digunakan, memahami kategori pengeluaran yang paling sering muncul, serta mengevaluasi kebiasaan finansial mereka secara lebih objektif.

Melvin juga menyoroti fenomena “gaji numpang lewat” yang kerap terjadi pada era cashless. Pengeluaran kecil yang dilakukan secara impulsif sering kali terasa ringan saat dilakukan, tetapi menjadi signifikan ketika terakumulasi dalam satu bulan. Karena itu, evaluasi pengeluaran secara berkala menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan finansial.

 

Menjawab Kesenjangan

Berangkat dari upaya membangun generasi muda cerdas finansial di era transaksi digital, AstraPay sebagai layanan pembayaran digital dari PT Astra Digital Arta, terus aktif melakukan literasi keuangan guna mendorong pertumbuhan inklusi yang berkualitas.

CEO AstraPay, Rina Apriana mengatakan, melayani lebih dari 17,5 juta pengguna dengan jumlah transaksi mencapai lebih dari 90 juta transaksi per tahun mendorong perseroan untuk lebih meningkatkan literasi keuangan. Di balik pertumbuhan AstraPay, capaian tersebut menunjukkan semakin tingginya kebutuhan masyarakat terhadap layanan pembayaran digital yang terintegrasi dengan berbagai ekosistem bisnis.

Dirinya juga tetap menghimbau masyarakat berhati-hati menggunakan fintech ilegal dengan menghindari penawaran yang terlalu menggiurkan, dan perhatikan dengan teliti semua syarat dan ketentuan yang tercantum dalam perjanjian pinjaman, sehingga masyarakat terhindar dari kerugian. Melalui berbagai inisiatif dan edukasi, AstraPay berupaya membekali penggunanya dengan pemahaman yang komprehensif mengenai keamanan bertransaksi digital, identifikasi potensi penipuan, dan pengelolaan keuangan yang bijak di era digital. Hal ini sejalan dengan visi untuk menciptakan ekosistem pembayaran yang aman, nyaman, dan bertanggung jawab.

Bagaimana pun juga, meningkatnya transaksi keuangan digital di Indonesia turut memperbesar risiko kejahatan siber dan penipuan (fraud) di sektor jasa keuangan. Data Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) di bawah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan sejak mulai beroperasi pada 22 November 2024 hingga 31 Mei 2026, lembaga tersebut menerima 579.459 laporan penipuan transaksi keuangan.

Dalam periode yang sama, sebanyak 998.558 rekening dilaporkan terkait dugaan penipuan, dengan 515.553 rekening berhasil diblokir. Nilai dana korban yang berhasil diamankan mencapai Rp638,9 miliar.

AstraPay sendiri selalu melakukan peningkatan sistem keamanan guna menekan jumlah kasus pada dompet digital. Hingga saat ini ada beberapa proteksi yang telah dijalankan oleh AstraPay sebagai bentuk perlindungan kepada pengguna. Proteksi yang telah terapkan antara lain meliputi enkripsi data, autentikasi dua faktor, serta pemantauan transaksi secara real-time untuk mendeteksi aktivitas mencurigakan.

Kasus yang sedang marak terjadi seperti saat ini menunjukkan pentingnya keamanan dalam layanan dompet digital. Hal ini selalu menjadi perhatian serius bagi penyedia layanan. Masih dalam rangka mengedukasi literasi keuangan, AstraPay menyediakan aplikasi yang dirancang dengan antarmuka yang mudah digunakan. Hal itu memungkinkan pengguna untuk belajar mengelola keuangan mereka melalui fitur-fitur praktis seperti pencatatan pengeluaran, perencanaan anggaran, dan pembayaran tagihan.“AstraPay berkomitmen meningkatkan literasi dan inklusi keuangan masyarakat Indonesia, melalui program layanan yang mudah diakses dan dimengerti,”ujar Rina.

Disampaikannya, menggunakan AstraPay dalam kegiatan sehari-hari mempermudah kontrol aliran uang, dari membayar tagihan hingga berinvestasi, sehingga masyarakat dapat membuat keputusan keuangan yang lebih bijak dan mencapai tujuan finansial mereka.

 

Perluas Dampak UMKM

Di usianya ke-6, AstraPay berkomitmen untuk memberikan dampak luas bagi masyarakat dalam mendorong budaya cashless. Disampaikan Rina Apriana, pertumbuhan industri digital perlu diiringi dengan pembangunan ekosistem yang inklusif dan berkelanjutan.“Digitalisasi tidak hanya berbicara mengenai transaksi, tetapi bagaimana teknologi dapat membantu masyarakat dan UMKM berkembang secara berkelanjutan.”katanya.

AstraPay, lanjutnya, ingin memastikan bahwa pertumbuhan bisnis yang dilakukan, juga sejalan dengan upaya memperluas akses keuangan digital, meningkatkan literasi, dan memperkuat daya saing UMKM Indonesia. Komitmen jangka panjang itu diwujudkan secara nyata dengan secara rutin menghadirkan program edukasi dan pemberdayaan UMKM di berbagai wilayah Indonesia. Programnya padat: mulai dari pelatihan digital marketing, pengelolaan bisnis, edukasi transaksi digital, hingga penguatan literasi keuangan bagi pelaku usaha.

Bukan itu saja, AstraPay juga menghadirkan dukungan akses pembiayaan usaha melalui kolaborasi bersama FIFGROUP. Mereka juga mengembangkan dashboard keuangan bisnis yang dirancang khusus untuk membantu UMKM memantau dan mengelola transaksi mereka secara lebih mudah dan efisien.

AstraPay terus tumbuh dengan mengusung visi sebagai mitra terpercaya dalam solusi pembayaran digital dan misi memberikan layanan finansial yang mudah, aman, dan inklusif.  Disampaikan Rina, pertumbuhan industri pembayaran digital harus dibangun melalui kolaborasi yang berkelanjutan,”Kedepan, AstraPay berkomitmen untuk terus memperluas kontribusinya dalam mendukung inklusi keuangan, mempercepat digitalisasi UMKM, serta memperkuat ekosistem ekonomi digital nasional melalui inovasi layanan yang relevan, aman, dan berdampak bagi masyarakat Indonesia,” kata Rina.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia, Abidin Abdul Haris pernah bilang, inovasi layanan yang aman dan adaptif menjadi faktor penting dalam mempercepat transformasi digital yang memberikan manfaat bagi masyarakat.”Kolaborasi antara regulator dan pelaku industri menjadi penting untuk memastikan transformasi digital berjalan inklusif dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas, termasuk UMKM,” tandas Haris.

Artikulli paraprakIbu-Ibu PNM Mekaar Jadi Wajah Perempuan Berdaya dalam Sensus Ekonomi 2026
Artikulli tjetërEcoFlow Perluas Akses Solusi Energi Pintar, Dukung Ketahanan Energi di Era Transisi Energi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini