Jatuh bangun usaha konveksi menjadi perjalanan hidup Toto Riyanto (54) yang sudah menjadi wirausaha sejak muda hingga berkeluarga saat ini. Dimulai sejak tahun 2002, pria asal Tasikmalaya ini sudah bekerja bersama sang kaka dengan memiliki mesin konveksi hasil menabung,”Saya sejak ikut kerja sama kakak, udah punya mesin sendiri meski barang second,”ujarnya kepada Neraca.
Usahanya sebagai konveksi baru bisa sendiri seiring dengan menambah mesin baru dan mulai memberanikan diri membuat desain sendiri dan beranikan beli kain. Produksi konveksinya sendiri adalah celana dalam pria dan wanita. Berbekal pengalaman tersebut, dirinya terus mempromosikan usahanya ke berbagai toko dan mendapat order langsung dalam partai besar. “Waktu itu sempat punya 34 anak buah, namun seiring banyak liburnya dan tidak sanggup penuhi target order, terpaksa usahanya di sub ke orang lain,”paparnya.
Kini usahanya lebih difokuskan pada bordir dan hal tersebut diraskan ringan dengan hanya mempekerjakan karyawan tetapi masih bisa menerima order konveksi dengan mensub ke orang lain yang sebagian besar adalah bekas karyawannya.”Dari usaha bordir ini, sehari bisa mengantongi omset Rp6 juta dan bahkan bisa lebih kalau ada musim ajaran tahun baru,”katanya.
Di balik usahanya, dukungan BRI sebagai modal usaha memberikan kontribusi besar.”Saya dapat pinjaman dari BRI mulai Rp100 juta hingga Rp700 juta untuk beli mesin,”ujarnya.
Menurutnya, dengan biaya mesin konveksi yang mahal tak bisa dari kocek sendiri dan harus ditopang dari perbankan yang peduli pada UMKM dan peran BRI, kata Toto dirasakan betul dampaknya. Alhasil dari usahanya tersebut dirinya bisa memenhi ekonomi keluarga dan mampu membeli tiga rumah, buat usaha dan tempat tinggal,”Ke depan saya masih punya target bisa memiliki gerai toko sendiri, hasil produksi bisa langsung di jual di toko sendiri,”ungkapnya.
Dukung UMKM Maju
Peran KUR bagi pedagang kecil atau UMKM berperan penting untuk maju dan berkembang dalam urusan permodalan. Usaha mikro kecil menengah (UMKM) terus menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia melalui kontribusinya dalam menciptakan lapangan kerja sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Untuk memperkuat peran tersebut, pemerintah bersama berbagai pemangku kepentingan terus menghadirkan kemudahan berusaha, memperluas akses pembiayaan, termasuk melalui penyaluran KUR, serta mendorong transformasi digital agar UMKM semakin berdaya saing dan mampu naik kelas.
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan, pemerintah terus berupaya memberikan program pembiayaan bagi masyarakat yang membutuhkan “UMKM ini mendapatkan KUR yang besarnya hampir Rp 300 triliun dan capaiannya sudah mencapai 50,83%,” ujarnya.
Hingga 28 Juni 2026, realisasi penyaluran KUR telah mencapai Rp 147,70 triliun kepada 2,32 juta debitur, atau sebesar 50,83% dari target plafon penyaluran KUR pada 2026. Capaian tersebut mencerminkan komitmen pemerintah untuk terus memperluas akses pembiayaan bagi pelaku UMKM sebagai salah satu penggerak utama perekonomian nasional.
Airlangga juga menegaskan, pemerintah terus memperluas instrumen pembiayaan yang dapat dimanfaatkan pelaku usaha. Selain KUR, pemerintah juga menyediakan pembiayaan ekspor melalui lembaga pembiayaan ekspor, kredit industri bagi sektor padat karya dan padat modal, termasuk sektor tekstil, produk tekstil, furnitur, kayu, dan sektor strategis lainnya.






































