NERACAONLINE – Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) menggelar Indonesia Digital Bank Summit (IDBS) 2026 pada Selasa (7/7). Dalam momentum tersebut, Aftech juga meluncurkan Annual Members Survey (AMS) 2025-2026 terhadap 141 anggotanya.
Ketua Aftech Pandu Sjahrir menyampaikan bahwa fintech Indonesia memasuki fase pertumbuhan yang lebih matang. Sekitar 43% responden telah membukukan laba, 84% telah mengadopsi Artificial Intellegence (AI) dan 86% menilai regulasi saat ini cukup mendukung lahirnya inovasi.
Pandu menjelaskan bahwa Indonesia saat ini tengah memasuki era financial convergence, yang mana ketika perbankan, fintech, sistem pembayaran dan aset keuangan digital semakin terintegrasi dalam satu ekosistem.
Menurutnya, tren ini diperkuat dengan oleh universal banking, berkembangnya open finance, pemanfaatan Artificila Intelligence (AI) serta semakin pentingnya digital public infrastructure dan digital financial infrastructure sebagai fondasi transformasi sektor keuangan Indonesia.
“Fintech kini bukan lagi alternatif bagi perbankan, melainkan sebagai mitra strategis dalam membangun sistem keuangan masa depan. Momentum IDBS 2026 ini juga menegaskan bahwa fintech siap untuk naik kelas, memperkuat kolaborasi dengan perbankan, regulator serta memastikan inovasi keuangan digital memberikan dampak yang nyata bagi masyarakat dan sektor riil,” kata Pandu dalam pembukaan IDBS 2026.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Dewan pengawas Aftech Arsjad Rasjid mengatakan bahwa fintech tetap menjadi penggerak inovasi yang melengkapi layanan perbankan melalui inovasi, teknologi, data dan jangkauan ke segmen yang belum sepenuhnya terlayani.
“Dalam era universal banking dan beyond banking, fintech dan perbankan berperan sebagai mitra yang saling melengkapi. Aftech juga ingin memastikan output forum IDBS 2026 mencerminkan kepentingan kolektif anggota sekaligus menjadi masukan konstruktif bagi regulator,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua Dewat Etik Aftech, Harus Reksodiputro menambahkan bahwa integrasi fintech dan perbankan harus diiringi dengan penguatan tata kelola industri, mulai dari manajemen risiko, keamanan siber, perlindungan konsumen, tata kelola data hingga kesiapan menghadapi risiko baru seperti AI. “Tata kelola yang kuat bukanlah penghambat inovasi, melainkan fondasi utama bagi pertumbuhan industri yang berkelanjutan,” ujar Harun.






































