Beranda UMKM Berburu Takjil Bukan Sekedar Self Reward

Berburu Takjil Bukan Sekedar Self Reward

35
0

 

NERACAONLINE – Kata ‘takjil’ berakar dari kata ‘ajila’ yang dalam bahasa Arab berarti menyegerakan untuk berbuka puasa. Namun, di Indonesia kata takjil sendiri telah mengalami pergeseran makna menjadi panganan dan minuman untuk berbuka puasa. Riset terbaru Populix menemukan pergeseran lain soal aktivitas berburu takjil, yang dulu hanya dianggap sebagai aktivitas menjelang berbuka, kini telah berakulturasi menjadi tradisi yang tidak dapat dipisahkan dari bulan Ramadan.

Research Director Populix, Susan Adi Putra menjelaskan bahwa saat ini fenomena berburu takjil menjadi aktivitas ngabuburit yang paling populer di kalangan Gen Z dan milenial. Bahkan jauh terpaut dengan aktivitas lain seperti scroll media sosial maupun memasak untuk keperluan berbuka.

“Tak hanya itu, 41% anak muda menganggap kegiatan berburu takjil bukan sekadar self-reward setelah seharian berpuasa, melainkan menjadi sebuah tradisi khas bulan Ramadan yang tidak tergantikan,” jelas Putra.

Temuan ini dipertegas oleh frekuensi berburu takjil yang kini menjadi rutinitas selama bulan puasa. Hal ini dilakukan baik oleh laki-laki maupun perempuan, di mana lebih dari setengahnya mengaku membeli takjil hampir setiap hari. Hanya 5% responden yang mengaku akan membeli takjil kurang dari seminggu sekali atau tidak sama sekali.

Ketika ditanya jenis kudapan apa yang paling dicari, minuman manis, seperti es teh, es buah, es campur, masih menjadi pilihan utama, khususnya bagi Gen Z. Sedangkan bagi perempuan dan milenial ada kecenderungan untuk lebih menyukai kue tradisional. Selain itu, menu favorit lainnya adalah gorengan, buah kurma, dessert kekinian, lalu makanan berat seperti nasi, lontong, dan lain sebagainya.

“Meskipun mayoritas cenderung membeli takjil secara langsung dari pedagang kaki lima, penjualan secara online juga membuka peluang untuk meraup omzet lebih tinggi. Pasalnya, sekitar sepertiga responden, khususnya perempuan, mengaku membeli takjil melalui aplikasi pesan makanan online maupun via media sosial atau aplikasi pesan instan,” tambah Putra.

Survei tentang “Berburu Takjil Menurut Gen Z dan Milenial” dilakukan pada 18-19 Februari 2025 melalui platform PopSurvey. Penelitian ini dilakukan kepada 1.000 orang milenial dan Gen Z, dengan perbandingan responden laki-laki dan perempuan yang seimbang. 93% responden beragama Islam dan berasal dari tingkat ekonomi menengah ke atas.

Dalam laporan bertajuk Berburu Takjil Menurut Gen Z dan Milenial. Laporan ini mengulas tentang kegiatan berburu takjil yang saat ini berakulturasi menjadi tradisi yang tidak dapat dipisahkan dari Bulan Ramadan. Termasuk juga preferensi dan kebiasaan berburu takjil generasi masa kini.

Beberapa temuan kunci dari laporan ini adalah:

  • Makna berburu takjil bagi generasi muda:
  1. Tradisi yang tidak dapat dipisahkan dari Bulan Ramadan: 41%
  2. Momen kebersamaan: 24%
  3. Self-reward setelah berpuasa: 20%
  4. Kebutuhan praktis: 15%
  5. Mengikuti tren: 1%
  • Aktivitas ngabuburit favorit Gen Z dan milenial:
  1. Jalan-Jalan mencari takjil: 73%
  2. Scroll media sosial: 56%
  3. Masak untuk keperluan berbuka: 43%
  4. Ibadah: 33%
  5. Nonton film: 25%
  6. Olahraga ringan: 18%
  • Frekuensi berburu takjil:
  1. Hampir setiap hari: 41%
  2. 3-4 kali seminggu: 24%
  3. 1-2 kali seminggu: 20%
  4. Kurang dari seminggu sekali: 15%
  5. Tidak berencana membeli sama sekali: 1%
  • Top 6 menu takjil pilihan:
  1. Minuman manis: 88% (lebih tinggi di Gen Z)
  2. Gorengan: 70%
  3. Kue tradisional: 50% (lebih tinggi di perempuan dan milenial)
  4. Kurma: 38%
  5. Dessert kekinian: 33%
  6. Makanan berat: 31%
  • Top 3 destinasi berburu takjil:
  1. Pedagang kaki lima: 95%
  2. Aplikasi pesan makanan online: 37%
  3. UMKM online (via medsos/WhatsApp): 34%

 

 

Artikulli paraprakJika PT. Agrinas tetap melanjutkan Import 105 ribu Pik Up India, KSPN minta KPK dan BPK segera lakukan audit
Artikulli tjetërBerkah Ramadan, Usaha Kue Kering UMKM Binaan BAZNAS Raup Omzet Rp16 Juta

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini