Islamic Insurance Society (IIS) sukses menyelenggarakan The 4th Sharia Insurance Experts Forum (SIEF) 2026, Forum tahunan ini diikuti oleh 120 peserta yang terdiri atas regulator, akademisi, praktisi industri dan peneliti dari berbagai daerah di Indonesia. Momentum tersebut semakin istimewa dengan peluncuran logo baru Islamic Insurance Society (IIS) sebagai simbol transformasi organisasi menuju lembaga yang semakin profesional, adaptif, dan kolaboratif dalam mendukung pengembangan industri asuransi syariah Indonesia.
Melalui SIEF 2026, IIS menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis, antara lain penguatan kompetensi SDM melalui pelatihan berbasis standar nasional, pengembangan riset terapan sebagai dasar penyusunan kebijakan industri, serta penguatan kolaborasi antara regulator, asosiasi, akademisi, dan pelaku industri.
Rekomendasi tersebut diharapkan menjadi kontribusi nyata bagi percepatan pertumbuhan industri asuransi syariah yang sehat, inklusif, inovatif, dan berdaya saing global. Ketua Umum Islamic Insurance Society (IIS), Edi Setiawan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin mengatakan bahwa IIS akan terus memperkuat perannya sebagai lembaga pengembangan kompetensi dan pusat kajian asuransi syariah,”IIS berkomitmen membangun kompetensi melalui pelatihan kerja berstandar nasional dan membantu menggali potensi asuransi syariah melalui riset dan perumusan kebijakan. Kami ingin menjadi mitra strategis bagi industri dalam mencetak sumber daya manusia yang unggul sekaligus menghasilkan pemikiran yang mampu mendorong kemajuan industri asuransi syariah nasional,” ujar Edi.
Sementara Ketua Umum Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI), Fauzi menegaskan, pentingnya kolaborasi seluruh pemangku kepentingan dalam menjawab berbagai tantangan industri.”AASI berkolaborasi dengan IIS untuk memecahkan berbagai gap di industri asuransi syariah. Sinergi antara asosiasi, regulator, akademisi, dan pelaku usaha menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan industri yang sehat, inovatif, dan berkelanjutan,” katanya.
Dr. Siti Ma’rifah, Bendahara III Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), menyoroti masih rendahnya tingkat penetrasi, literasi, dan inklusi asuransi syariah di Indonesia.”Penetrasi, literasi, dan inklusi asuransi syariah masih sangat rendah. Karena itu diperlukan dukungan lembaga keahlian yang turun langsung membangun kapasitas SDM, seperti IIS, serta kolaborasi dengan MES untuk memperkuat ekosistem ekonomi syariah nasional,” ujarnya.

Kepala Departemen Pengawasan Asuransi dan Jasa Penunjang Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Sumarjono, menyampaikan bahwa keberlanjutan industri ditentukan oleh kualitas tata kelola, manajemen risiko, kepatuhan, inovasi, serta sumber daya manusia,”Tiga pilar utama pertumbuhan industri adalah governance, risk management dan compliance, inovasi produk, serta pengembangan SDM. SDM merupakan faktor paling penting dalam menjalankan seluruh aspek tersebut. Oleh karena itu, IIS memiliki peluang besar untuk berkontribusi mencetak profesional yang kompeten di bidang asuransi syariah,” jelasnya.
Senada dengan itu, Ketua Bidang SDM DPP Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI), Prof. Dr. Euis Amalia, menekankan pentingnya sinergi antara organisasi profesi dan perguruan tinggi.”IAEI dan IIS dapat menjadi simpul energi keilmuan melalui pengembangan riset bersama, penggerak talenta, pemasok SDM unggul, sekaligus integrator ekosistem ekonomi syariah,” ungkapnya.
Asep Supyadilah, mewakili Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI), menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang telah terjalin selama ini,”Kerja sama DSN-MUI dengan IIS telah berlangsung dalam berbagai kegiatan, termasuk penyediaan narasumber bidang asuransi syariah. Kami juga mendukung penguatan riset bersama yang menjadi salah satu agenda penting dalam SIEF 2026,” katanya.
Pada puncak acara diselenggarakan Talk Show “Asuransi Syariah dalam Perspektif Dunia Akademis” yang menghadirkan akademisi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM), IPB University, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dan UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Diskusi yang dipandu oleh Wahyudin Rahman, Ketua Bidang Pelatihan & Uji Profesi IIS yang mengupas berbagai tantangan, kesenjangan (gap), serta harapan dunia akademik terhadap pengembangan industri asuransi syariah di Indonesia.





































