Hangout atau nongkrong di kafe menjadi rutinitas Intan (26), selepas pulang kerja. Pegawai perusahaan konsultan di kawasan Kuningan Jakarta ini mengakui, hangout di kafe bersama rekannya menjadi caranya melepas kepenatan seharian di kantor. “Kalau sudah di kafe, suka lupa waktu dan lupa rem gak bisa boros. Apalagi kalau tanggal muda, saldo rekening gajinya masih tebel makin konsumtif,”katanya.
Ya, kehidupan yang hedonis, mengikuti tren dan konsumtif menjadi gambaran indentitas anak Gen Z saat ini membawanya pada sikap yang tidak cakap dalam perencanaan keuangan. Terlebih lagi di era digital saat ini yang setiap transaksi kebanyakan cashless membuat hidupnya begitu singkat menikmati hasil jerih payah hasil kerjanya, “Kalau abis gajian, beli sana dan beli sini online selalu gelap mata dan akhirnya gak ada tabungan dan malah boncos,”ujarnya.
Diakuinya, di balik kemudahan dan kecepatan yang ditawarkan dalam transaksi digital, terdapat tantangan baru berupa meningkatnya risiko pengeluaran impulsif yang sering kali luput dari perhatian. Kebiasan buruknya ini membawa pada kondisi yang mengkhawatirkan hingga terjebak pinjaman online (pinjol) hanya karena ingin membeli tiket konser salah satu band idolanya di Singapura. Selain itu, mengikuti tren juga menjadi pengalaman pahitnya yang memaksakan meminjam uang ke teman untuk membeli iphone terbaru.”Saya sempat kejebak pinjol hanya untuk membeli tiket konser,”ungkapnya.
Namun sejak berhasil keluar dari lilitan utang pinjol, dirinya tersadar dan menjadi titik balik untuk lebih cerdas dan cakap dalam perencanaan keuangan untuk memujudkan masa depan yang lebih indah. Selain itu, Intan juga mulai bijak memanfaatkan transaksi dompet digital dalam setiap transaksi untuk memenuhi kebutuhan bulannya,”Emang sih di era digital, segala macam transaksi makin mudah bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja, tetapi juga harus di rem dan memilah mana kebutuhan dan keinginan,”tandasnya.
Lain ceritanya dengan Retno (24), gadis lajang perantau asal Tegal ini sudah terbiasa hidup hemat sejak kuliah di Jakarta. Apalagi setelah bekerja dan mempunyai penghasilan bulanan, dirinya makin bijak dalam pengeluaran dan memilih gaya hidup frugal living atau gaya hidup yang menekankan pengelolaan keuangan secara bijak dengan memprioritaskan kebutuhan dibandingkan keinginan. Pasalnya, hidup di era yang penuh godaan konsumtif seperti sekarang bukanlah hal yang mudah, terutama bagi Generasi Z. Diskon belanja online yang besar, tren gaya hidup yang sangat cepat berganti, dan budaya FOMO sering kali membuat mengeluarkan uang yang lebih dari seharusnya.
Namun sejak memanfaatkan layanan blu by BCA Digital yang banyak direkomendasikan Gen Z, telah menjadi teman finansial yang tepat bagi dirinya. Alasannya, layanan perbankan dari BCA Digital didesain untuk menyeimbangkan pemasukan dengan pengeluaran penggunanya.“Bagiku, kriterianya dua, yakni keamanan dan biaya adminnya kecil,”tuturnya.
Oleh karena itu, dirinya tidak perlu lagi khawatir tabungannya ludes jika uang tabungan disimpan dalam rekening yang sama dengan rekening yang digunakan untuk membelanjakan kebutuhan harian. Setelah menjadi pengguna blu by BCA Digital, Retno tahu bahwa testimoni dan rekomendasi warganet tentang bank digital yang satu ini bukanlah omon-omon. Sepengalamannya, blu by BCA Digital tidak hanya aman dan nihil biaya admin bulanan, tetapi juga kerap memberikan bunga kepada nasabahnya.
Menyadari keuntungan tersebut, dirinya rutin menyisihkan pendapatannya melalui bluSaving, fitur khusus blu untuk menabung dengan goals yang dapat dikustom. Selain itu, blu juga punya banyak penawaran yang dapat dimanfaatkan untuk menunjang kebutuhan sehari-hari pekerja muda di Jakarta, antara lain potongan harga dan pengisian e-wallet.“Dari awal, aku menggunakan blu hanya untuk menabung. Misalnya setelah aku gajian, aku akan menyisihkan untuk dikirimkan ke blu. Namun, pada beberapa kesempatan aku juga menggunakan blu untuk transaksi karena penawarannya menarik, seperti diskon dan gratis top up, tanpa harus mengutip uang tabungan,” ujarnya.
Di luar cerita Intan dan Retno, masih banyak di luar sana Gen Z yang belum cakap dalam perencanaan keuangan. Apalagi, kalangan anak muda masih belum memandang penting pos dana darurat masuk dalam pengelolaan keuangannya. Bahkan dari hasil riset, hingga 61,7% anak milenial dan generasi Z tidak memiliki dana darurat sehingga anak muda rentan terlilit utang karena keuangannya tak sehat.

CEO PT Jooara Rencana Keuangan, Gembong Suwito mengaku miris karena menunjukkan bahwa 61,7% anak muda tidak mempunyai dana darurat lantaran tidak bisa mengatur cash flow, dan faktor media sosial. Segala hal yang diekspos oleh media sosial kebanyakan adalah pola hidup konsumtif, sehingga mempengaruhi gaya hidup anak-anak muda.
Faktor lainnya adalah maraknya transaksi secara digital, orang-orang akan lebih mudah pula membeli atau membayar hal yang mereka inginkan. Beda halnya dengan masa lampau di mana segala macam pembayaran memerlukan uang fisik, sehingga pengeluaran bisa lebih dijaga. Hal ini ditambah dengan ketidaktahuan anak-anak muda terkait pentingnya dana darurat, membuat mereka enggan untuk menyisihkan keuangan demi kebutuhan.
Sementara perencana keuangan, Rista Zwestika Reni menambahkan, di balik kemampuan digital dan semangat inovatif muncul tantangan besar bagi Generasi Z untuk mengelola keuangan secara bijak di era yang serba instan dan konsumtif. Berdasarkan riset, tantangan itu adalah sebanyak 75% generasi Z aktif menggunakan dompet digital, 62% menggunakan transaksi e-commerce dan 41% masih mengaku kesulitan dalam menabung karena pengeluaran impulsif dan fenomena FOMO.”Hanya 34% Gen Z paham investasi dasar seperti reksadana/saham. Jadi masih banyak yang tidak sadar pengeluaran, kurang perencanaan jangka panjang, dan minim literasi keuangan,”ungkapnya.
Gen Z menghadapi banyak tantangan dalam hal pengelolaan keuangan karena kemudahan dalam mengakses informasi, kemudian lebih mudah terpengaruh lingkungan dan media sosial, lebih mudah mengikuti tren, namun juga lebih mudah stress.”Dampaknya kemudian adalah Gen Z banyak menghabiskan uang untuk kebutuhan konsumtif dan bahkan rentan terkena investasi bodong,” kata dia.
Oleh karena itu, Rista pun mengajak Gen Z untuk lebih detail lagi mengulik cara jitu dan strategi cerdas dalam mengelola keuangan dengan membangun financial self-awareness dan mindset yang positif.”Lalu mengecek aset dan utang, pendapatan dan pengeluaran. Kemudian lakukan empat pondasi keuangan, yakni budgeting, manajemen utang, dana darurat, asuransi. Terakhir, lakukan investasi, yaitu sebagai sarana kita untuk mencapai tujuan keuangan,”jelasnya.
Menjadi Solusi Finansial
Lanny Budiati, Direktur Utama BCA Digital mengatakan, hampir 90% nasabah blu merupakan generasi milenial dan gen Z yang menginginkan solusi finansial yang praktis dan terintegrasi dengan gaya hidup mereka. Oleh karena itu, fitur layanan mobile banking unggulan BCA Digital telah melampaui angka tiga juta nasabah, menegaskan traksi yang terus tumbuh di sektor perbankan digital Indonesia, khususnya di kalangan generasi Z dan milenial.”Sejak awal diluncurkan tahun 2021, kami berkomitmen untuk menghadirkan layanan perbankan yang tidak hanya aman dan andal, tetapi juga relevan dengan cara hidup generasi muda. Kami memahami bahwa Gen Z membutuhkan kebebasan dalam mengelola finansial mereka tanpa keribetan birokrasi. Kami terus berinovasi agar dapat membantu mereka mencapai berbagai tujuan hidup, mulai dari menabung untuk konser, investasi masa depan, hingga membangun kebiasaan finansial yang sehat sejak dini,” papar Lanny.
Perseroan juga mengungkapkan, total dana pihak ketiga kini telah melampaui US$793 juta (Rp13 triliun), dengan rata-rata saldo mendekati US$305 (Rp5 juta) per pengguna. Namun, menurut Lanny, capaian tersebut tidak sekadar mencerminkan pertumbuhan jumlah pengguna. “Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa blu dipandang sebagai mitra finansial yang relevan dan tepercaya, khususnya bagi generasi muda Indonesia,” ujarnya dalam jawaban tertulis.
Dia menambahkan, misi utama blu adalah membantu membangun literasi dan kematangan finansial sejak dini.“Kami ingin memberikan Gen Z perangkat untuk meningkatkan kematangan finansial sejak awal—baik melalui menabung, pengelolaan anggaran, investasi, maupun pemahaman terhadap risiko dan proteksi,” ujarnya.
Salah satu produk yang menyasar segmen muda adalah bluAccount for Teens, rekening tabungan digital bagi pengguna berusia 12 hingga 17 tahun yang memerlukan persetujuan orang tua. Produk ini dilengkapi fitur yang membantu membentuk kebiasaan finansial yang sehat.
Layanan terintegrasi lainnya mencakup bluInvest, yang menghubungkan pengguna ke produk reksa dana melalui mitra Moduit dan FUNDtastic. Platform ini juga baru menambahkan bluValas yang memungkinkan transaksi mata uang asing di dalam aplikasi, serta bluRDN yang mempermudah investasi saham melalui integrasi dengan BCA Sekuritas.
Melangkah ke depan, tantangan industri bank digital tentu akan semakin kompetitif. Namun, dengan basis pengguna Gen Z yang kuat dan loyalitas yang terjaga, mereka berada di jalur yang tepat untuk terus memimpin pasar bank digital di Indonesia.






































