NERACAONLINE – Pengembangan ekowisata berbasis konservasi lingkungan terus didorong sebagai salah satu peluang kegiatan ekonomi berkelanjutan di Indonesia. Melalui inisiatif EIGER Nature di Megamendung, Bogor, upaya pemulihan lahan kritis telah mencakup penanaman lebih dari 120 ribu pohon dan perdu serta lebih dari 8 juta tanaman semak dan penutup tanah sejak 2021.
Pengembangan tersebut mendapat perhatian Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Moh Jumhur Hidayat, saat mengunjungi kawasan Dusun Bambu, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Selasa (29/9).
Dalam kunjungan tersebut, Jumhur menegaskan pemerintah serius mendorong ekowisata sebagai kegiatan ekonomi yang tidak hanya memberikan nilai tambah, tetapi juga berkontribusi terhadap pemulihan dan pelestarian lingkungan.
Menurutnya, kolaborasi pemerintah dan dunia usaha diperlukan dalam pemanfaatan keanekaragaman hayati, dengan tetap memperhatikan ketentuan serta menjaga kelestarian lingkungan.
“Dusun Bambu dapat menjadi contoh bagaimana pemanfaatan kawasan dapat berjalan seiring dengan pemulihan lingkungan. Kawasan yang dahulu gersang dan berpotensi mengalami erosi tersebut kini menjadi kawasan yang rimbun setelah dilakukan penanaman pohon. Ini adalah contoh usaha, membangun kegiatan ekonomi sirkular, sambil memuliakan lingkungan,” ujar Jumhur.

Bagi EIGER Nature, pengembangan ekowisata tersebut sejalan dengan inisiatif yang tengah dibangun di Megamendung, Bogor. Dusun Bambu dan EIGER Nature merupakan dua inisiatif yang lahir dari gagasan Ronny Lukito untuk menghadirkan ruang yang mendekatkan manusia dengan alam sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.
Chairman EIGER Nature, Ronny Lukito mengatakan, sebagai merek yang lahir di Jawa Barat, pihaknya ingin berkontribusi melalui pengembangan ekowisata yang mengintegrasikan restorasi, konservasi, edukasi lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat.
“Sebagai brand yang lahir di Jawa Barat, kami ingin memberikan sumbangsih melalui ekowisata, yaitu inisiatif berbasis alam yang mengintegrasikan upaya restorasi dan konservasi, edukasi lingkungan, serta pemberdayaan masyarakat. Setelah Dusun Bambu, inisiatif berikutnya adalah EIGER Nature di Megamendung, Bogor,” ujar Ronny.

Restorasi Lahan Kritis
Dalam pengembangannya, EIGER Nature menjalankan upaya restorasi lahan kritis di kawasan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I Regional 2, serta mendukung kegiatan konservasi di Zona Pemanfaatan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP).
Sejak 2021, kegiatan tersebut telah mencakup penanaman lebih dari 120 ribu pohon dan perdu, serta lebih dari 8 juta tanaman semak dan penutup tanah. Upaya ini menjadi bagian dari pengembangan kawasan berbasis alam yang menggabungkan fungsi lingkungan dengan aktivitas edukasi dan ekonomi. Ronny berharap kehadiran EIGER Nature juga dapat memperkuat kedekatan generasi muda dengan alam melalui pengalaman belajar secara langsung.
Menurutnya, pemahaman terhadap alam menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran untuk menjaga dan merawat lingkungan. “Saya berharap generasi muda dapat semakin dekat dan bersentuhan dengan alam, serta belajar dari alam. Karena ketika kita semakin mengenal alam, kita akan semakin memahami pentingnya menjaga dan merawatnya,” lanjutnya.
Pengembangan Dusun Bambu dan EIGER Nature mencerminkan pendekatan ekowisata yang tidak semata-mata berorientasi pada pengalaman pengunjung, tetapi juga mengintegrasikan pemulihan lingkungan, pendidikan, dan keterlibatan masyarakat.
Melalui pendekatan tersebut, ekowisata diharapkan dapat menjadi ruang yang mempertemukan kepentingan ekonomi dan konservasi, sekaligus membuka peluang pengembangan kegiatan ekonomi yang lebih berkelanjutan.






































