Beranda Keuangan SW Indonesia: Klaim Sustainability Tak Cukup, Bukti dan Akuntabilitas Jadi Kunci

SW Indonesia: Klaim Sustainability Tak Cukup, Bukti dan Akuntabilitas Jadi Kunci

25
0

 

NERACAONLINE – Komitmen terhadap keberlanjutan (sustainability) dinilai tidak cukup hanya disampaikan melalui klaim positif. Di tengah meningkatnya risiko greenwashing, pelaku usaha dituntut membangun kepercayaan publik melalui tata kelola yang jelas, data yang dapat diuji, pengukuran konsisten, serta pengungkapan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Breakfast Session bertajuk “Beyond Greenwashing: From Claim to Trust in Sustainable Finance” yang digelar SW Indonesia berkolaborasi dengan CPA Australia dan SEL South East Asia di CPA Australia, World Trade Centre 5, Jakarta.

Forum yang digelar secara hybrid tersebut mempertemukan perspektif praktik keberlanjutan dari Australia, Malaysia, dan Indonesia. Diskusi menyoroti pentingnya integritas informasi sustainability, pemanfaatan teknologi, metrik dan pengukuran, hingga penguatan kepercayaan dalam pengembangan keuangan berkelanjutan.

ESG Lead CPA Australia Patrick Viljoen, bersama Joyline Chai dari Malaysia dan Elvia R. Shauki dari Indonesia, berbagi pengalaman mengenai tantangan dan praktik keberlanjutan di masing-masing negara. Diskusi tersebut dimoderatori Managing Director SEL South East Asia Febryanti Simon.

Pengalaman lintas negara menunjukkan bahwa kredibilitas sustainability tidak dapat dibangun hanya oleh satu fungsi maupun satu institusi. Strategi perusahaan, teknologi, pelaporan, assurance, dan pengawasan profesional harus berjalan secara terintegrasi.

Pelaku usaha juga dinilai perlu menghindari kecenderungan menjadikan sustainability semata-mata sebagai proyek komunikasi. Ketika data belum matang, target tidak terukur, atau tata kelola tidak memiliki penanggung jawab yang jelas, klaim keberlanjutan justru berpotensi meningkatkan risiko reputasi dan mengikis kepercayaan pemangku kepentingan.

Dalam kesempatan tersebut, International and Community Engagement SW Indonesia Mozes Aldridge Suharli mengatakan, SW Indonesia berkomitmen untuk terus terlibat dalam pengembangan praktik keberlanjutan di Indonesia. Menurutnya, pertukaran pengalaman antara Indonesia, Malaysia, dan Australia diharapkan dapat memberikan dampak lebih luas terhadap lingkungan, masyarakat, dan kesejahteraan bersama.

Bagi SW Indonesia, agenda keberlanjutan perlu didorong dari sekadar meningkatkan kesadaran (awareness) menjadi bagian dari strategi perusahaan. Artinya, pelaku usaha tidak hanya memahami risiko greenwashing, tetapi juga memiliki kemampuan membangun governance, measurement, disclosure, dan evidence yang kredibel.

Dalam konteks tersebut, profesi akuntansi dan keuangan memiliki peran penting. Kompetensi dalam pengukuran, pengendalian, pelaporan, assurance, dan etika dinilai dapat membantu memastikan bahwa komitmen sustainability tidak berhenti sebagai janji, tetapi menjadi tanggung jawab yang dapat dinilai dan dipercaya.

Lebih jauh, kolaborasi lintas negara dinilai dapat memperkuat ekosistem profesi akuntansi di kawasan. Pertukaran praktik tidak hanya meningkatkan kapasitas teknis, tetapi juga membangun pemahaman bersama mengenai transparansi, akuntabilitas, dan dampak keberlanjutan.

Di tengah ketidakpastian geopolitik, fragmentasi ekonomi, dan tekanan sosial, sustainability juga dipandang dapat menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan kepentingan bisnis dengan perlindungan lingkungan, martabat manusia, serta kesejahteraan generasi mendatang.

Namun, peran tersebut membutuhkan komitmen untuk menjaga praktik keberlanjutan dari klaim berlebihan dan kepentingan jangka pendek. Kepercayaan, menurut SW Indonesia, perlu dibangun melalui bukti, integritas profesional, serta keterbukaan untuk saling belajar lintas negara.

Melalui kolaborasi dengan CPA Australia dan SEL South East Asia, SW Indonesia menegaskan keterlibatannya dalam menghubungkan praktik di Indonesia dengan ekosistem profesional regional dan global. Dengan demikian, masa depan sustainable finance tidak hanya bergantung pada semakin banyaknya klaim keberlanjutan, tetapi juga pada semakin kuatnya bukti, akuntabilitas, dan kepercayaan yang menyertai setiap klaim tersebut.

Artikulli paraprakGabriel Rey dan Andry Hakim Kuasai 20% Saham TRUK, Siapkan Transformasi Bisnis
Artikulli tjetërPNM Peduli Hadirkan Trauma Healing untuk Dukung Nasabah Flores NTT Bangkit dan Kembali Berusaha

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini