NERACAONLINE- Indonesia memiliki sumber energi baru terbarukan yang cukup berlimpah, salah satunya pemanfaatan energi sinar matahari. Hal ini sangat beralasan karena Indonesia berada di zona iklim tropis, yang dianugerahi sinar matahari sepanjang tahun. Disebutkan, potensi energi surya Indonesia mencapai 3.294 GW, tetapi kapasitas yang dimanfaatkan masih jauh lebih kecil. Ya, besarnya potensi energi sinar matahari membuka peluang untuk mengoptimalkan pemanfaatan energi matahari sebagai sumber energi terbarukan dalam produksi listrik, mendukung transisi energi hijau dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Hal inilah yang dirasakan manfaatnya oleh Uum (50), ibu lima anak di Desa Cikoneng, Kabupaten Lebak Banten yang bisa menikmati listrik selama 24 jam untuk menunjang aktivitasnya berkat pembangkit listrik tenaga surya, “Alhamdulilah, sejak ada listrik dari panel surya bisa menyalakan lampu kapan pun dibutuhkan, tidak lagi dibatasi waktu. Malam hari jadi lebih terang dan aman dari bahaya. Selain itu, anak-anak belajar malam tanpa khawatir,”ujarnya.
Uum bercerita, anak-anaknya bisa mengerjakan PR di malam hari tanpa takut lampu padam. Padahal dulu mereka hanya mengandalkan lilin, sekarang bisa belajar dengan tenang. Selain itu, usaha warga berkembang. Dimana warung kecil dan usaha rumahan bisa buka lebih lama dan tentunya meningkatkan pendapatan keluarga. Beberapa warga mulai menjual makanan ringan di malam hari karena sudah ada penerangan.
Namun kondisi ini berbeda saat belum memanfaatkan panel surya. Maklumlah di desanya menjadi salah satu yang belum teraliri listrik dari PT Perusahaan Listrik Negara (Persero). Dimana ketika senja, suara genset diesel menderu-deru menjadi teman setia warga. Lampu hanya menyala sekitar 10 jam sehari—mulai jam lima sore hingga tengah malam. Setelah itu, desa kembali sunyi dan gelap gulita.
Uum, seperti ibu lainnya sering kali harus mengatur waktu sebaik mungkin: mencuci, menyetrika, mengisi ulang ponsel, semuanya harus dilakukan sebelum pukul 12 malam. Geliat ekonomi membaik berkat adanya listrik dari PLTS juga disampaikan Asniah (48) warga di Muara Enggelam, Kecamatan Muara Wis, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Baginya, energi matahari bukan sekadar cahaya. Sinarnya menjelma menjadi kehidupan baru dan hal ini dirasakan langsung perubahannya.
Dampak Ekonomi
Setahun setelah ada energi surya, Asniah berani membuka usaha produksi amplang. Kerupuk ikan khas Kalimantan Timur. Ikan belida yang dulu dia ulek manual kini bisa dengan blender. Tak lagi khawatir listrik padam mendadak atau solar habis.“Dulu, kalau mau pakai blender agak waswas, sebentar saja BBM-nya cepat habis. Satu liter rasanya enggak cukup satu jam. Sekarang jauh lebih nyaman,” kata ibu tiga anak ini.
Listrik yang stabil juga membawa akses internet. Meski kecepatan belum menyamai kota, jaringan sudah cukup untuk membuka WhatsApp dan Facebook. Kedua aplikasi ini menjadi etalase digital bagi usaha Asniah.
Dia tak hanya menjual amplang, juga membuka warung gorengan, bahkan butik daring empat tahun kemudian. Khusus usaha gorengan, omzet sehari bisa Rp1 juta.“Alhamdulillah, sekarang jauh lebih praktis. Dulu ‘kan tidak bisa,” katanya.
Pengalaman yang sama juga dirasakan warga desa Seraya Maranu yang ada di Pulau Seraya Besar Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mendapatkan akses listrik sebesar 190 kilo Watt peak (kWp), berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Komunal yang dapat menerangi sekitar 162 Kepala Keluarga.
Sutirman, Kepala Desa Seraya Maranu mengungkapkan rasa syukur atas beroperasinya PLTS ini dan memberikan banyak manfaat bagi warga, salah satunya menghemat lebih dari Rp 200.000 per bulannya untuk masing-masing kepala keluarga. “Saya yakin, kedepannya akan banyak UKM-UKM yang akan bermunculan dampak postif dari masuknya listrik ke desa kami, karena teknologi dalam bentuk apapun membutuhkan listrik”, ujar Sutirman.
Disampaikannya, meski dipulau terpencil, mulai sekarang masyarakat dan generasi penerus bisa siap bersaing dengan warga di tempat lain. “Sehingga kami bisa merdeka dari kemiskinan, merdeka dari gaptek, dan bisa berbuat banyak untuk bangsa dan negeri ini,” tuturnya.
PLTS Desa Seraya Maranu merupakan PLTS yang diinisiasi PT. PLN (Persero). Selain desa tersebut, PLTS juga akan hadir di sejumlah Desa lainnya yaitu Desa Papagarang (Pulau Papagarang), Desa Pasir putih (Pulu Messa) dan untuk Kecamatan Boleng, Desa Batu Tiga (Pulau Boleng), yang saat ini sedang dalam tahap pembangunan.

Tak hanya warga desa terpencil yang merasakan manfaat dari PLTS, tetapi juga pelaku industri. PT Federal International Finance (FIF Group) yang juga merupakan anak usaha dari PT Astra Internasional Tbk (ASII) berkomitmen memanfaatkan energi panel surya dalam operasional bisnisnya di semua cabang. Apa yang telah dilakukan perusahaan merupakan investasi jangka panjang untuk keberlanjutan bisnis dan untuk masa depan generasi mendatang, karena sejatinya bisnis sendiri tidak hanya bicara soal untung tetapi bagaimana memberikan dampak luas bagi lingkungan dan masyarakat.
Direktur FIFGROUP, Esther Sri Harjati mengatakan, pemasangan panel surya berkapasitas 10,8 KwP ini merupakan langkah FIFGROUP dalam upaya mengurangi emisi gas rumah kaca dan transisi menuju energi ramah lingkungan. “Tiap tahunnya kita terus menambah instalasi solar panel di semua kantor cabang,”ungkapnya.
Disampaikannya, pemanfaatan solar panel menjadi salah satu aksi nyata perseroan menjaga bumi dalam upaya penghematan energi dan memilih sumber daya energi yang ramah lingkungan. Direktur Riset dan Inovasi Institute for Essential Services Reform (IESR), Raditya Wiranegara menilai, potensi energi surya Indonesia sangat besar. Pemanfaatannya dapat dikembangkan melalui berbagai jenis pembangkit, mulai dari PLTS atap, PLTS di atas lahan atau ground-mounted, hingga PLTS terapung.
Di sektor industri, lanjutnya, pemanfaatan energi surya masih menyisakan ruang pengembangan yang luas. Atap pabrik, lahan yang belum terpakai, hingga permukaan perairan membuka peluang pembangunan PLTS untuk memasok kebutuhan listrik bersih. Namun, peluang tersebut perlu diikuti perluasan elektrifikasi proses produksi dan dukungan kapasitas pemasangan.
Raditya menyebut, total kapasitas PLTS terpasang di Indonesia baru mencapai sekitar 1,6 gigawatt (GW). Angka tersebut mencakup pembangkit yang terhubung dengan jaringan listrik atau on-grid, serta pembangkit untuk kebutuhan sendiri atau captive, baik di dalam maupun di luar kawasan industri. Dibandingkan dengan potensi energi surya yang dinilai layak secara keekonomian tersebut, kapasitas terpasangnya masih di bawah 1%.
Kesenjangan ini memperlihatkan besarnya ruang pemanfaatan energi surya yang belum digarap. Di kawasan industri, salah satu peluangnya adalah penggunaan lahan yang belum dimanfaatkan secara optimal. Lahan tersebut dapat dikembangkan menjadi lokasi PLTS ground-mounted untuk memasok kebutuhan listrik bersih bagi perusahaan atau tenant yang beroperasi di kawasan itu.
Pasokan energi bersih bagi industri juga dapat berasal dari pembangkit di luar kawasan. Jawa Barat, misalnya, memiliki potensi panas bumi di sejumlah wilayah yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan listrik industri. Kemudian Chief Executive Officer (CEO) IESR, Fabby Tumiwa, menyampaikan, Indonesia berpeluang untuk berubah dari negara dengan ketergantungan pada energi fosil, menjadi pemimpin energi terbarukan di kawasan Asia Tenggara. Apalagi, Indonesia memiliki potensi teknis energi surya mencapai 7,7 terawatt (TW).
Menghemat Subsidi
Oleh karena itu, dirinya menyambut baik program PLTS 100 gigawatt peak (GWp) yang diluncurkan pemerintah. Pasalnya, program tersebut dapat menciptakan 118.000 lapangan kerja hijau (green jobs) dan berkontribusi menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) hingga 24 juta tCO2eq. “Dengan strategi implementasi yang tepat, program PLTS 100 GW dapat menyediakan listrik yang handal dan terjangkau bagi puluhan juta masyarakat dan menghemat subsidi BBM hingga Rp21 triliun,”ungkapnya.
Kata Fabby, program PLTS 100 gigawatt bukan sekadar energi bersih tetapi energi bersih yang paling ekonomis saat ini. Terlebih lagi masih ada sekitar 16.700 desa masih kekurangan listrik. Keluarga-keluarga di sana masih bergantung pada pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) yang mahal. Padahal, energi surya plus BESS (battery energy storage system) dapat menghasilkan listrik dengan biaya kira-kira 10-15 sen per kWh. Itu 30-60% lebih murah daripada listrik memakai solar. “Ini untuk harga skala utilitas, itu bisa lebih murah lagi,”tandasnya.
Hal senada juga disampaikan Direktur INDEF Green Transition Initiative (GTI), Imaduddin Abdullah, skenario elektrifikasi tinggi dengan biaya terendah, seperti pemanfaatan PLTS dapat membantu Indonesia mencapai target pertumbuhan ekonomi 8% sekaligus mengurangi beban subsidi energi. Dirinya memperkirakan, skenario tersebut dapat menyumbang sekitar 8–10% dari tambahan Produk Domestik Bruto (PDB) yang dibutuhkan untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8%.
Tidak hanya itu, skenario tersebut berpotensi menghasilkan penghematan subsidi energi sebesar US$ 20 miliar atau sekitar Rp357,64 triliun, dengan asumsi kurs Rp17.882 per dollar AS, selama periode 2025–2035. Dampak lainnya adalah potensi penciptaan sekitar 48.000 lapangan kerja tambahan di sektor ketenagalistrikan.”Selain itu, peningkatan elektrifikasi dan pemanfaatan energi terbarukan dapat mengurangi kebutuhan impor minyak, sehingga turut memperkuat ketahanan energi dan mengurangi tekanan terhadap anggaran negara,”tandas Imaduddin.
Disampaikan Asisten Deputi Pengembangan Ketenagalistrikan dan Geologi, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, Sunandar, program PLTS 100 GW berpotensi membuka peluang besar bagi industri dalam negeri. Program PLTS 100 GW dapat menciptakan kepastian pasar untuk menarik investasi manufaktur panel surya dan pengembangan rantai pasok domestik, sehingga dapat memperkuat industri nasional dan menciptakan lapangan kerja.
Selain itu, program PLTS 100 GW dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat melalui penyediaan energi yang mendukung kegiatan ekonomi desa. Harapannya, produktivitas dan kesejahteraan masyarakat bisa ikut meningkat.
Menurut Sunandar, program PLTS 100 GW dapat memastikan kebutuhan energi nasional terpenuhi tanpa mengorbankan keberlanjutan lingkungan. Transisi energi melalui PLTS 100 GW bisa menjadi fondasi pertumbuhan baru. “Kita ingin buktikan bahwa Indonesia mampu tumbuh dengan tetap menjaga intensitas karbon, sehingga pembangunan dan keberlanjutan berjalan beriringan,” ujar Sunandar.
Menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, pengembangan PLTS dalam skala besar juga memiliki dampak ekonomi yang signifikan. Dari sisi ketenagakerjaan, program ini berpotensi menciptakan sekitar 5,5 juta lapangan kerja yang terdiri dari sekitar 3,465 juta tenaga kerja konstruksi dan 2,053 juta tenaga kerja manufaktur.
Pengembangan energi surya dilakukan dengan memanfaatkan potensi sumber daya yang tersedia di berbagai wilayah Indonesia melalui beragam skenario, mulai dari PLTS skala besar, PLTS terapung, PLTS atap, hingga pengembangan PLTS untuk kawasan industri dan kegiatan produktif. Pada tahap awal, program ini akan memberikan dampak ekonomi positif melalui potensi penghematan penggunaan bahan bakar minyak (BBM). Pengembangan proyek-proyek tersebut sekaligus menjadi katalisator ekonomi di daerah melalui peningkatan aktivitas konstruksi, manufaktur, dan kegiatan ekonomi masyarakat di sekitar lokasi proyek,”Total investasi dari proyek ini kurang lebih sekitar US$ 71.3 miliar atau setara dengan Rp1.140 triliun. Dari total pekerjaan ini, kita bisa melakukan efisiensi terhadap subsidi setiap tahun mencapai Rp73,9 triliun rupiah,” kata Bahlil.
Presiden Prabowo Subianto dalam peresmian Program PLTS 100 gigawatt peak (GWp) mengatakan, pengembangan energi surya menjadi salah satu langkah strategis untuk mempercepat terwujudnya kemandirian dan swasembada energi Indonesia.
Menurutnya, pemanfaatan potensi energi terbarukan harus dilakukan secara masif agar kebutuhan energi nasional dapat dipenuhi dari sumber energi domestik sekaligus memberikan dampak ekonomi yang luas bagi masyarakat.”Kita launching listrik dari tenaga surya 100 GW untuk bangsa Indonesia. Dengan Program PLTS 100 GW, kita akan benar-benar menjadi bangsa yang berdiri di atas kaki kita sendiri,” tegas Prabowo.
Pada tahap awal, program tersebut mencakup 14 proyek PLTS berkapasitas total 5.300 megawatt peak (MWp) yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Salah satunya PLTS Gilimanuk sebagai lokasi peluncuran program nasional tersebut. Di Bangka Belitung, PLTS Pulau Rengit juga kini telah selesai dibangun dan mulai beroperasi.
Direktur Utama PLN, Suroso Isnandar mengatakan, sebagai bagian dari ekosistem kelistrikan nasional, PLN akan all out agar pengembangan energi surya dapat terintegrasi dengan sistem kelistrikan secara andal, aman, dan berkelanjutan. Ini merupakan bagian dari komitmen PLN untuk mendukung terwujudnya swasembada energi melalui pemanfaatan energi hijau domestik dan ramah lingkungan.
Ke depan, lanjutnya, pengembangan PLTS 100 GWp tidak hanya menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kapasitas energi terbarukan dan mewujudkan kemandirian energi nasional. Lebih lanjut, program ini juga diharapkan menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi serta peningkatan kesejahteraan masyarakat di berbagai wilayah Indonesia,“Transformasi energi bukan hanya tentang mengganti sumber energi menjadi lebih bersih. Lebih dari itu, listrik merupakan fondasi untuk mempercepat pemerataan pembangunan, menggerakkan roda perekonomian, menciptakan lapangan kerja, serta membantu mengentaskan kemiskinan. PLN siap menjadi bagian dari perjalanan Indonesia menuju kemandirian dan swasembada energi,” pungkasnya.
Sementara Direktur Utama PLN Indonesia Power, Bernadus Sudarmanta menambahkan, pengembangan PLTS tidak hanya berkaitan dengan penambahan kapasitas energi terbarukan, tetapi juga membutuhkan penguatan kapabilitas, inovasi teknologi, dan kolaborasi agar energi bersih dapat dipasok secara andal serta memberikan nilai tambah bagi sistem ketenagalistrikan nasional.”PLN Indonesia Power berkomitmen mengambil peran strategis dalam mendukung percepatan program PLTS 100 GWp melalui pengembangan portofolio energi surya yang andal, kompetitif, dan berkelanjutan,”ujarnya.
Perseroan, lanjutnya, akan mengoptimalkan potensi energi surya di berbagai wilayah dengan memanfaatkan pengalaman dan kapabilitas perusahaan serta dukungan mitra strategis. Pengembangan proyek akan mempertimbangkan kebutuhan sistem ketenagalistrikan dan karakteristik setiap wilayah.
Menurut dia, pengembangan energi surya tersebut diarahkan untuk memperkuat sistem ketenagalistrikan sekaligus mendukung ketahanan energi nasional. Perusahaan juga terus menjajaki potensi proyek energi surya melalui kerja sama dengan sejumlah mitra. Saat ini, sejumlah proyek PLTS telah masuk dalam portofolio energi terbarukan PLN IP. Proyek tersebut antara lain PLTS Terapung Gajah Mungkur berkapasitas 134,2 megawatt peak (MWp), PLTS Terapung Saguling 92 MWp, PLTS Pasuruan 132 MWp, dan PLTS Banyuwangi 132 MWp.






































