Beranda Properti Mengadopsi Digitalisasi, Investasi Jangka Panjang Untuk Bangunan Lebih Efisien

Mengadopsi Digitalisasi, Investasi Jangka Panjang Untuk Bangunan Lebih Efisien

29
0

Di era kemajuan teknologi digital yang terus tumbuh pesat saat ini, hampir semua kemudahan dirasakan dalam sendi kehidupan manusia untuk menunjang aktivitas sehingga segala sesuatu bisa dilakukan lebih mudah, tidak ribet, cepat dan efisien. Tengok saja, ketika seseorang tinggal disuatu gedung akan terasa melelahkan naik turun tiap lantai tanpa ada teknologi tangga jalan atau eskalator ataupun lift. Namun akan dirasa lebih nyaman, efisien dan mudah bila menggunakan teknologi eskalator ataupun lift.

Ya, di industri properti atau gedung saat ini bukan lagi bicara soal ramah lingkungan atau green building tetapi juga mengadopsi teknologi atau smart building yang menjadi kebutuhan untuk menunjang penghuninya. Apalagi  manusia menghabiskan hampir 90% waktunya di dalam ruangan, sehingga aspek kenyamanan dan produktivitas penghuni menjadi semakin penting.

Di samping itu, saat ini gedung tidak lagi dipandang hanya sebagai bangunan fisik yang digunakan untuk bekerja, beraktivitas, atau melayani pengunjung. Oleh karena itu, smart building atau bangunan pintar menjadi kebutuhan bagi penghuninya. Dimana yang dimaksud smart building yakni merupakan suatu bangunan yang menggunakan teknologi canggih untuk mengoptimalkan efisiensi energi, kenyamanan penghuni, keamanan, dan operasionalnya.

Gedung sudah berkembang menjadi ruang operasional yang perlu dikelola secara cerdas agar penggunaan energi lebih hemat, sistem keamanan lebih tertata, dan berbagai fasilitas di dalamnya dapat berjalan dengan lebih optimal. Perubahan ini muncul karena kebutuhan pengelolaan gedung semakin kompleks. Banyak bangunan modern memiliki sistem pencahayaan, pendingin ruangan, akses masuk, utilitas, dan perangkat pendukung lain yang harus bekerja secara selaras. Jika semua itu masih dikelola secara manual atau berdiri sendiri tanpa integrasi, pengawasan akan menjadi lebih rumit dan potensi pemborosan pun lebih besar.

Oleh karena itu, penggunaan sistem bangunan pintar mulai menjadi kebutuhan yang relevan bagi berbagai sektor, mulai dari perkantoran, pusat komersial, gedung pendidikan, rumah sakit, hingga kawasan industri. Selain membantu efisiensi, pendekatan ini juga memberi nilai tambah dalam hal kontrol dan kenyamanan. Pengelola gedung bisa mengetahui kondisi fasilitas dengan lebih cepat, memantau penggunaan energi secara lebih terukur, dan mengambil keputusan berdasarkan data yang lebih jelas.

Dengan kata lain, pengelolaan gedung modern bukan lagi sekadar menjaga bangunan tetap berfungsi, melainkan memastikan seluruh sistem di dalamnya bekerja dengan cara yang lebih efisien, lebih aman, dan lebih mudah dikendalikan. Presiden Honeywell Indonesia, Roy Kosasih pernah bilang, penerapan teknologi digital bagi bangunan gedung terutama di Jakarta sudah menjadi keharusan untuk menekan biaya operasi”Perangkat lunak dibutuhkan agar pemilik dan pengelola dapat menekan biaya, menghemat penggunaan listrik, mengoptimalkan pemanfaatan ruang, serta kenyamanan penghuninya,”ujarnya.

Menurut Roy, perangkat lunak yang tepat akan mentransformasi operasional gedung karena data yang dihasilkan akan dengan mudah dipahami dan digunakan oleh pemilik dan pengelola untuk meningkatkan kinerja dan keuntungan usaha. Di Indonesia, konsep smart builiding dan office mulai banyak diadopsi demi mendukung produktivitas dan manajemen operasional yang optimal.

Menurut data Cisco, bangunan konvensional  menyumbang 40% konsumsi energi global dan 36% emisi karbon. Data ini menunjukkan bahwa transformasi ke sistem smart building dapat memberikan dampak signifikan terhadap lingkungan dan efisiensi operasional. Sejatinya smart building lebih dari sekadar bangun otomatis yang menjadi solusi digital untuk mengatasi tantangan konsumsi energi dan emisi karbon.

 

Menekan Konsumsi Energi

 

Dengan memanfaatkan IoT, sensor, dan sistem terintegrasi untuk mengontrol pencahayaan, ventilasi, keamanan, dan fasilitas lain secara real-time, smart building mulai diterapkan untuk mengelola energi dan keamanan bangunan. Kata Business Vice President for Buildings Schneider Electric Indonesia, Reza Syarif, digitalisasi pengelolaan bangunan dinilai menjadi salah satu solusi untuk menekan konsumsi energi sekaligus meningkatkan efisiensi operasional di tengah meningkatnya kebutuhan listrik sektor bangunan. Penerapan sistem manajemen energi berbasis digital bahkan berpotensi mengurangi konsumsi listrik hingga 15%  jika diterapkan secara bertahap. Apalagi sektor bangunan merupakan salah satu penyumbang konsumsi energi dan emisi karbon terbesar sehingga peningkatan efisiensi di sektor ini dapat memberikan dampak signifikan terhadap pengurangan emisi serta biaya operasional.”Efisiensi energi bukan sekadar mengurangi konsumsi listrik, tetapi memastikan energi digunakan secara tepat tanpa mengorbankan keandalan, keselamatan dan kenyamanan pengguna,” ujar Reza.

Disampaikannya, bangunan menyumbang hampir 40% emisi karbon global, sementara sekitar 30% energi yang digunakan di dalam gedung masih terbuang sia-sia. Selain itu, sekitar 95,5% data yang dikumpulkan di industri konstruksi dan rekayasa belum dimanfaatkan secara optimal. Di sisi lain, industri bangunan juga menjadi salah satu sektor dengan tingkat digitalisasi terendah, sementara sekitar 40% inefisiensi operasional telah terbentuk sejak tahap perancangan bangunan.

Menurut Reza, terdapat empat tantangan utama yang dihadapi sektor bangunan, yakni keberlanjutan (sustainability), ketangguhan (resiliency), efisiensi (efficiency), dan kenyamanan pengguna (people-centricity).”Efisiensi energi bukan sekadar mengurangi konsumsi listrik, tetapi memastikan energi digunakan secara tepat tanpa mengorbankan keandalan, keselamatan, dan kenyamanan pengguna. Hal ini membutuhkan pendekatan yang terintegrasi dan berbasis data,” ujar Reza.

Melalui kampanye mengusung empat pilar utama, yakni Hyper-Efficient, Resilient, Sustainable, dan People-centric, perseroan berupaya membantu pengelola gedung mengoptimalkan kinerja bangunan, meningkatkan keandalan operasional, menghemat penggunaan sumber daya, serta menciptakan lingkungan yang lebih nyaman bagi penghuninya.

Reza menambahkan, kampanye tersebut juga sejalan dengan meningkatnya dorongan regulasi terkait bangunan cerdas dan efisiensi energi, termasuk Permen PUPR Nomor 10 Tahun 2023 tentang Bangunan Gedung Cerdas dan Permen ESDM Nomor 8 Tahun 2025 tentang Manajemen Energi.”Melalui kampanye ‘Teknologi Cerdas untuk Bangunan yang Efisien’, Schneider Electric berkomitmen untuk mendorong terciptanya bangunan yang lebih efisien, resilient, sustainable, dan berorientasi pada manusia, baik untuk gedung baru maupun yang sudah ada,” kata Reza.

Kemudian untuk mendukung implementasi Smart Building, Schneider Electric menawarkan sejumlah solusi digital, di antaranya EcoStruxure Building Operation sebagai platform Building Management System (BMS) yang mengintegrasikan pengelolaan sistem HVAC, kelistrikan, pencahayaan, keamanan, hingga konsumsi energi dalam satu platform.

Perusahaan juga menghadirkan EcoStruxure Power Monitoring Expert (PME) yang memungkinkan pemilik gedung memantau penggunaan energi secara real time sehingga dapat mengidentifikasi pemborosan dan meningkatkan keandalan sistem kelistrikan. Selain itu, Schneider Electric menyediakan Guest Rooms Management System (GRMS) untuk sektor perhotelan serta Smart Panel yang mengintegrasikan distribusi daya, proteksi, pemantauan, dan pengukuran energi dalam satu sistem.

Di sisi layanan, Schneider Electric menawarkan EcoConsult Walkthrough Assessment dan EcoConsult Energy Efficiency untuk membantu pemilik gedung mengidentifikasi peluang penghematan energi, meningkatkan keandalan sistem, serta mendukung modernisasi aset melalui rekomendasi berbasis data.

Menurutnya, penerapan sistem Building Management System (BMS) maupun Building Automation System (BAS) memungkinkan pengelola memantau konsumsi energi secara real time, mendeteksi pemborosan, serta mengoptimalkan penggunaan listrik sesuai kebutuhan aktual.

Reza menambahkan, digitalisasi tidak hanya dapat diterapkan pada bangunan baru. Gedung yang telah lama beroperasi juga dapat melakukan transformasi secara bertahap melalui audit energi untuk menentukan area prioritas tanpa harus mengganti seluruh infrastruktur sekaligus. Selain investasi teknologi, kesiapan sumber daya manusia juga menjadi faktor penting karena pengelolaan bangunan berbasis digital membutuhkan perubahan pola kerja menuju pengambilan keputusan berbasis data.

Penerapan sistem tersebut telah dilakukan di SMC RS Telogorejo Semarang. Facility Manager SMC RS Telogorejo, Rio Oktavianus mengatakan, rumah sakit berhasil menurunkan konsumsi listrik sekitar 5% pada 2025 dibandingkan 2024 setelah implementasi penuh BMS, dengan target efisiensi mencapai 10-15% setiap tahun.

Disampaikan Rio, sistem digital memungkinkan pemantauan utilitas seperti HVAC, kelistrikan, UPS, dan kualitas udara secara real time sehingga potensi gangguan dapat dideteksi lebih awal. Selain menghemat energi, sistem tersebut juga mendukung pemeliharaan prediktif yang meningkatkan keandalan operasional rumah sakit.

Maka berangkat untuk memetakan sumber konsumsi energi terbesar dan menentukan langkah optimalisasi yang paling tepat, Schneider Electric membantu pemilik dan pengelola gedung meningkatkan efisiensi melalui solusi asesmen awal. Salah satu solusi yang Schneider Electric hadirkan adalah EcoStruxure Building Operation, platform Building Management System (BMS).

Dengan EcoStruxure Building Operation, Schneider Electric membantu pengelola gedung mengintegrasikan berbagai sistem bangunan, termasuk HVAC, kelistrikan, pencahayaan, keamanan, dan energi, dalam satu platform untuk pemantauan, kontrol, dan optimalisasi secara real-time. Visibilitas ini membantu meningkatkan efisiensi energi, memperkuat keandalan operasional, serta mendukung pengambilan keputusan yang lebih cepat dan berbasis data.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Artikulli paraprakSambut Hari Bhakti Postel Ke-81, APJATEL Sukses Gelar Fun Walk
Artikulli tjetër30 Perusahaan Raih Penghargaan IQSA Awards 2026, Dorong Penguatan Ekosistem K3 Nasional 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini