NERACAONLINE – Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (DPP APKASINDO) meluncurkan aplikasi dan sistem informasi harga sawit nasional melalui platform hargasawitindonesia.id.
Ketua Umum DPP APKASINDO Gulat Medali Emas Manurung, mengatakan keterbukaan informasi merupakan prasyarat penting untuk mewujudkan keadilan harga bagi petani.
Menurutnya, sekitar 42 persen kebun sawit di Indonesia dikelola petani sehingga akses terhadap informasi harga menjadi faktor strategis dalam meningkatkan kesejahteraan mereka.
“Kalau semua pelaku memiliki informasi yang sama mengenai harga CPO dan TBS, posisi tawar petani akan jauh lebih kuat,” ujar Gulat dalam acars peluncuran aplikasi berbasis web dengan nama hargasawitindonesia.id, di Jakarta.
Dia menjelaskan dashboard tersebut tidak hanya menampilkan harga CPO Indonesia, Malaysia, dan Rotterdam, tetapi juga disparitas harga TBS antardaerah, perbandingan harga petani swadaya dan plasma, serta proyeksi harga sebagai bahan pengambilan keputusan.
Menurut Gulat, keterbukaan data bukan dimaksudkan untuk memperhadapkan petani dengan industri, melainkan menciptakan ekosistem yang lebih sehat karena seluruh pihak menggunakan referensi informasi yang sama.
Gulat juga mengungkapkan bahwa hingga kini manfaat program biodiesel B50 belum sepenuhnya tercermin pada harga yang diterima petani. Karena itu, menurutnya, dashboard ini diharapkan dapat membantu mengidentifikasi titik-titik penyebab terjadinya disparitas harga sekaligus menjadi dasar penyusunan kebijakan yang lebih berpihak kepada petani.
Bahkan sebelum diluncurkan secara resmi, platform tersebut telah mencatat sekitar lima juta kunjungan dalam waktu kurang dari satu bulan sejak diperkenalkan. Perkebunan& Peternakan
Ketua Kelompok Pemasaran Hasil Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanoan, Elvyrisma Nainggolan yang mewakili Direktur Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma, menyebut digitalisasi informasi harga merupakan langkah positif yang sejalan dengan transformasi sektor perkebunan.
Selama ini, kata dia, pemerintah memiliki data harga yang masih banyak dikelola secara manual, sehingga kehadiran dashboard digital dinilai dapat mempercepat penyebaran informasi sekaligus memperluas partisipasi petani swadaya.
Menurut Elvy, ke depan platform tersebut berpotensi dikembangkan melalui kolaborasi dengan berbagai sumber data seperti KPBN, ICDX, hingga referensi internasional agar informasi yang disajikan semakin mutakhir dan representatif.
“Kita semua berharap semakin banyak organisasi petani yang ikut berkontribusi mengirimkan data sehingga gambaran harga di lapangan menjadi lebih akurat,” ucapnya.
Sementara itu, TIM IT DPP APKASINDO yang mengembangkan aplikasi tersebut menjelaskan bahwa dashboard dirancang dari sudut pandang petani agar mudah diakses dan mudah dipahami.
Selain menyajikan harga TBS dan CPO, aplikasi juga dilengkapi grafik tren, analisis disparitas harga antardaerah, kalkulator, hingga proyeksi harga berbasis machine learning untuk membantu petani membaca arah pergerakan pasar.
Tim pengembang juga menempatkan transparansi, kemudahan akses, dan akurasi data sebagai prinsip utama dalam pengembangan platform tersebut. Dan yang tak kalah penting, Tim juga memberikan penguatan perlindungan (hardening) pada sistem sehingga tahan terhadap ancaman hacker dari pihak-pihak yang mungkin saja terganggu dengan kehadiran aplikasi tersebut.






































