Potensi hulu minyak dan gas (migas) Indonesia dinilai masih sangat besar, baik di wilayah daratan maupun perairan. Maka tak heran investasi di sektor ini selalu meningkat tiap tahunnya dan nilainya pun cukup fantastis. Di tahun 2026, dari sisi hulu migas, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) telah mengunci target investasi sebesar US$ 16 miliar atau sekitar Rp 266,04 triliun. Investasi tersebut diarahkan terutama untuk mendorong eksplorasi agresif.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengatakan, target tersebut telah dimasukkan dalam work program and budget (WP&B) 2026. SKK Migas menargetkan pengeboran minimal 100 sumur eksplorasi, pelaksanaan 100 kegiatan multi-stage fracturing (MSF), serta pengeboran 100 sumur di struktur atau lapangan baru.“Dalam work program and budget 2026, paling tidak minimum 100 sumur eksplorasi, kemudian 100 MSF, dan 100 sumur di struktur atau lapangan-lapangan baru,” ujar Djoko.
Di balik angka investasi migas, tentu saja pemanfaatannya diharapkan mampu mendukung ketahanan energi nasional serta tetap harus memperhatikan keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan kelestarian lingkungan laut. Namun, di balik angka-angka fantastis itu hal yang rentan dilupakan adalah bagaimana nasib lingkungan di sekitar proyek eksplorasi migas.
Ya, bicara ketahanan energi sejatinya tak bisa dipisahkan soal kelestarian ekologi. Kita semua butuh energi. Itu fakta. Tanpa migas, mobilitas dan industri kita mungkin lumpuh dalam sekejap. Inilah yang menciptakan “Paradoks Energi.” Di satu sisi, pemerintah mengejar target produksi 1 juta barel minyak per hari untuk ketahanan nasional, namun di sisi lain, komitmen net zero emission terus didengungkan.
Masalahnya, narasi ekonomi seringkali memiliki suara yang lebih lantang. Saat sebuah proyek migas besar disetujui, yang pertama kali dipublikasikan adalah besaran Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan penyerapan tenaga kerja. Jarang sekali kita melihat infografis tentang berapa hektar terumbu karang yang akan terdampak atau bagaimana pola migrasi fauna lokal akan terganggu. Tren terbaru menunjukkan bahwa gas fosil sering dipromosikan sebagai “bahan bakar transisi” yang bersih. Padahal, meskipun lebih bersih dari batu bara saat dibakar, proses pengambilannya dari perut bumi tetap menyisakan jejak karbon dan kerusakan ekologis yang masif.
Selain itu, produk olahan migas dalam proses pembakarannya melepaskan CO2 sebagai penyebab timbulnya efek rumah kaca yang tidak seimbang dan berdampak pada pemanasan global. Oleh karena itu, perusahaan migas perlu mengadakan gerakan penghijauan dan bertransformasi dengan mulai mengadopsi teknologi ramah lingkungan seperti carbon capture and storage (CCS) dan carbon capture used and storage (CCUS).
Praktek bisnis bertanggung jawab dengan memperhatikan aspek lingkungan tak bisa ditawar lagi untuk mewariskan masa depan bagi anak cucu. Maka transformasi menuju praktik green mining di sektor pertambangan semakin menjadi perhatian seiring meningkatnya tuntutan dekarbonisasi global dan komitmen nasional dalam menurunkan emisi.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mendukung konsep green mining dengan mendorong hilirisasi industri yang ramah lingkungan untuk menghasilkan produk bernilai tambah yang dapat diterima pasar internasional. “Konsep ini merupakan upaya pemerintah untuk mengoptimalkan sumber daya mineral dan sekaligus memastikan keselamatan kerja dan keberlanjutan lingkungan dalam kegiatan pertambangan di Indonesia,”ujarnya.
Disampaikan Bahlil, pertambangan sejatinya tidak boleh menjadi kutukan bagi lingkungan dan masyarakat. Maka praktek green mining membuktikan bahwa pertambangan bisa memberikan manfaat tanpa meninggalkan mudharat. Prinsip yang sama juga dilakukan SKK Migas bersama Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), keberhasilan sektor hulu migas tak lagi hanya diukur dari besarnya produksi, tetapi juga dari kemampuan menjalankan operasi yang bertanggung jawab terhadap alam. Menjawab tuntutan operasional ramah lingkungan telah mendorong industri hulu migas terus berinovasi dengan menghadirkan teknologi eksplorasi yang semakin ramah lingkungan.
Tengok saja, proses eksplorasi migas memang membutuhkan waktu panjang, mulai dari survei seismik yang bisa berlangsung 3–6 tahun, pengembangan lapangan, hingga fase abandonment yang dapat mencapai lebih dari 25 tahun.
Kini, metode survei seismik tidak lagi menggunakan cara konvensional yang berpotensi merusak lingkungan. Di wilayah darat, digunakan truck vibroseis yang memancarkan gelombang akustik ringan tanpa perlu menggali atau merusak permukaan tanah. Sementara itu, untuk wilayah laut, hadir teknologi Ocean Bottom Node (OBN) yang dianggap sebagai terobosan besar. Teknologi ini menempatkan sensor kecil di dasar laut tanpa harus menyeret kabel panjang yang berisiko merusak terumbu karang maupun habitat biota laut. Dengan OBN, proses eksplorasi menjadi lebih efisien, aman, dan minim dampak terhadap ekosistem perairan.
Tidak hanya itu, dalam eksploitasi migas juga mengedepankan keselamatan dan lingkungan. Selain tahap eksplorasi, fase eksploitasi migas pun kini dijalankan dengan standar keselamatan dan perlindungan lingkungan yang semakin ketat. Hal inilah yang telah menjadi prinsip dan komitmen PT Elnusa Tbk yang mengerjakan dua proyek Survei Seismik 3D dengan total luasan sekitar 150 kilometer persegi (km²). Kegiatan survei tersebut menjadi bagian dari upaya mendukung pencarian dan pemetaan potensi sumber daya migas melalui teknologi eksplorasi yang semakin maju.
Melalui terobosan teknologi terkini, Elnusa siap merevolusi industri energi untuk mendukung pembangunan berkelanjutan ke depan sesuai dengan roadmap Environmental, Social, and Governance (ESG). Disampaikan Corporate Secretary Elnusa, Rustam Aji, ESG telah menjadi bagian integral dari strategi bisnis perseroan.“Kami melihat ESG bukan sekadar kepatuhan, tetapi sebagai sumber keunggulan kompetitif. Inisiatif yang kami jalankan dirancang untuk memberikan dampak lingkungan yang terukur, sekaligus menciptakan nilai ekonomi yang berkelanjutan bagi perusahaan dan investor,” ujarnya.
Ditambahkannya, kepercayaan untuk kembali ke area berdekatan untuk pengerjaan dua proyek Survei Seismik 3D menunjukkan teknologi, kompetensi personel, dan kualitas eksekusi kami memberi value nyata bagi pelanggan,“Bagi kami, proyek non-captive merupakan cermin dari daya saing Elnusa. Kepercayaan yang diberikan oleh pihak eksternal untuk mengerjakan proyek Survei Seismik 3D menunjukkan bahwa kompetensi, teknologi, kualitas layanan, serta pengalaman yang kami miliki mampu bersaing di pasar yang semakin kompetitif. Pada saat yang sama, kami memastikan setiap proyek tidak hanya berorientasi pada pencapaian target operasional, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan lingkungan di sekitar wilayah kerja,” kata Rustam.

Disampaikannya, melalui teknologi survei seismik 3D, gambaran struktur bawah permukaan bumi dapat dipetakan secara lebih detail sehingga membantu perusahaan migas dalam mengidentifikasi struktur geologi yang berpotensi mengandung hidrokarbon. Namun, pelaksanaan proyek seismik di lapangan tidak semata-mata berkaitan dengan aspek teknis. Kegiatan yang melibatkan wilayah dan masyarakat setempat membutuhkan komunikasi, koordinasi, serta pendekatan sosial yang baik agar operasional dapat berjalan secara aman, tertib, dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Komitmen menjalankan bisnis berkelanjutan dibuktikan Elnusa dengan mencatat penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 3.079 ton CO₂e di tahun 2025, meningkat signifikan dibandingkan 367 ton CO₂e pada 2022. Tren penurunan emisi yang konsisten ini mencerminkan efektivitas strategi dekarbonisasi berbasis efisiensi energi, optimalisasi operasional, serta implementasi prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle), sekaligus memperkuat kontribusi terhadap target Net Zero Emission (NZE) 2060.
Di sisi pengelolaan limbah, Elnusa berhasil mengurangi 178.606 botol plastik melalui program berbasis teknologi Reverse Vending Machine (RVM) bekerja sama dengan PlasticPay. Inisiatif ini tidak hanya menekan jejak karbon dari plastik sekali pakai, tetapi juga mendorong perubahan perilaku masyarakat menuju ekonomi sirkular, yang semakin relevan dalam perspektif keberlanjutan dan ekspektasi investor global.
Komitmen lingkungan tersebut diperkuat melalui program Elnusa Green Action dengan penanaman lebih dari 7.500 pohon, termasuk 5.600 mangrove di wilayah pesisir. Program ini memberikan dampak ganda berupa penyerapan karbon, perlindungan ekosistem, serta peningkatan ketahanan lingkungan terhadap risiko perubahan iklim—sekaligus memperkuat aspek social value melalui keterlibatan masyarakat lokal.
Dampak Nyata
Elnusa menunjukkan bahwa kemajuan teknologi dan kepedulian terhadap masyarakat bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya justru dapat berjalan beriringan dalam mendukung keberlanjutan industri hulu migas. Dalam pelaksanaan dua proyek survei seismik 3D tersebut, pendekatan kepada masyarakat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan operasional. Sosialisasi, komunikasi dengan pemangku kepentingan setempat, serta pelibatan masyarakat menjadi faktor penting dalam membangun pemahaman bersama mengenai tujuan dan manfaat kegiatan eksplorasi.
Kehadiran proyek juga membuka peluang bagi masyarakat di sekitar wilayah kegiatan untuk mendapatkan manfaat ekonomi, antara lain melalui keterlibatan tenaga kerja lokal maupun kebutuhan barang dan jasa pendukung kegiatan operasional, sesuai dengan kebutuhan dan ketentuan proyek.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan sebuah proyek eksplorasi tidak hanya diukur dari pencapaian target teknis, tetapi juga dari bagaimana kegiatan tersebut mampu membangun hubungan yang baik dengan masyarakat dan memberikan dampak positif bagi wilayah sekitar.
Upaya memberikan dampak terhadap masyarakat secara luas, Elnusa selalu semangat untuk terus tumbuh bersama masyarakat. Tengok saja, melalui program SiGAS (Siap Gerak Angkut Sampah Elnusa) di Desa Mundu Indramayu, perseroan mengajak dan mengedukasi masyarakat mengelola sampah menjadi berkah.
Di Indramayu, mayoritas penduduk Desa Mundu adalah petani dan pengrajin sapu, dengan keterbatasan sarana dan keterampilan untuk mengelola limbah. Jika dibiarkan, sampah menumpuk dan mengancam kesehatan serta keindahan desa. Melalui program SiGAS, Elnusa hadir bersama masyarakat untuk membantu mengantisipasi situasi yang tidak diinginkan.
Program ini bukan hanya mengangkut sampah, tetapi juga mengajak warga melihat limbah sebagai peluang. Limbah plastik dan sabut kelapa yang dulu tak bernilai kini dapat diolah menjadi pot tanaman, sapu, hingga tas daur ulang. Dampak program ini yakni dari 8.822 kepala keluarga di Desa Mundu, terdapat potensi pemanfaatan limbah hingga 30% untuk plastik dan 20% untuk sabut kelapa. “Angka ini membuka peluang besar untuk menggerakkan ekonomi sirkular, menciptakan lapangan usaha baru, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dampaknya bukan hanya lingkungan yang bersih, tetapi juga kehidupan yang lebih produktif dan bernilai,” ujar Rutsam.
Kepala Desa Mundu, Akifudin menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya terhadap program SiGAS (Siap Gerak Angkut Sampah elnusa), “Elnusa tidak hanya menyediakan fasilitas pengangkut sampah di desa mundu namun juga membimbing kami untuk cara mengolahnya menjadi produk-produk yang bisa dikembangkan menjadi usaha masyarakat,” kata Akifudin.
Inisiatif SiGAS tidak hanya mendukung roadmap ESG Elnusa, tetapi juga selaras dengan Asta Cita Pemerintah, khususnya dalam mewujudkan keberlanjutan sosial melalui peningkatan kualitas hidup masyarakat desa, pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas, dan penanaman budaya gotong royong.
Program ini juga mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama dalam hal pengembangan permukiman yang berkelanjutan, mendorong konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab serta memperkuat upaya mitigasi terhadap perubahan iklim.
Langkah ini menjadi bukti bahwa keberlanjutan bukan hanya soal menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga tentang menciptakan masa depan yang lebih baik bagi masyarakat—memberi harapan, membuka peluang, dan memastikan bahwa setiap langkah pembangunan membawa manfaat jangka panjang bagi generasi sekarang dan yang akan datang.
Senior Manager Corporate Communication & Relations Elnusa, Jayanty Oktavia Maulina mengatakan bahwa usia ke-57 tahun menjadi momentum bagi Elnusa untuk kembali menegaskan makna kehadiran perusahaan di tengah masyarakat. Menurutnya, perjalanan panjang Elnusa tidak hanya diukur dari pertumbuhan bisnis dan kapabilitas perusahaan, tetapi juga dari kontribusi nyata yang dapat dirasakan oleh masyarakat di sekitar wilayah operasi.“Selama 57 tahun, Elnusa tumbuh bersama perjalanan energi Indonesia. Karena itu, bagi kami, tumbuh bersama juga berarti hadir dan memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitar wilayah operasi. Semangat Rediscover, Innovate, Elevate mendorong kami untuk terus menemukan kembali nilai-nilai kepedulian, menghadirkan program yang relevan, dan meningkatkan manfaat dari setiap kontribusi Elnusa,” ujar Jayanty.





































