Torehkan pertumbuhan kinerja di semester pertama 2026, jaringan waralaba asal China, Mixue masih optimis ada ruang pertumbuhan di pasar Indonesia dengan terus melakukan ekspansi gerai. Dengan 2000 gerai di Indonesia dan ditopang oleh jaringan supply chain yang kuat serta potensi pasar yang masih sangat besar, perusahaan mengaku optimis kinerja bisnis hingga akhir tahun.
Director of Public Relations & Government Affairs Mixue Southeast Asia Region, sekaligus Vice President Mixue Indonesia, Bing Shikuan mengatakan, kekuatan utama Mixue dalam mengembangkan bisnisnya adalah rantai pasok atau supply chain. “Untuk Mixue, keuntungan kita adalah supply chain. Sebenarnya, kita merupakan yang teratas, tidak hanya di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia. Seperti yang telah saya jelaskan sebelumnya, kita memiliki lebih dari 64.000 kedai,” ujar Bing Shikuan di Jakarta, kemarin.
Menurutnya, kekuatan supply chain Mixue tidak hanya menjadi keunggulan di Indonesia, tetapi juga secara global. Hal ini didukung oleh jumlah gerai perusahaan yang telah mencapai lebih dari 64.000 gerai di seluruh dunia.
Jumlah tersebut bahkan telah melampaui jumlah gerai sejumlah merek restoran dan minuman global seperti McDonald’s, KFC, maupun Starbucks.“Lebih dari McDonald’s, KFC, atau Starbucks. Jadi, kita merupakan yang teratas di seluruh dunia,” paparnya.
Dengan jaringan gerai yang besar tersebut, Mixue memiliki supply chain yang kuat. Dirinya mencatat, bahan baku produk Mixue berasal dari berbagai sumber, baik dari pemasok lokal maupun pabrik yang berada di China.
Indonesia saat ini menjadi salah satu pasar terbesar Mixue. Jumlah gerainya di Indonesia telah mencapai sekitar 2.000 gerai. Selain Indonesia dan China, Mixue juga telah memiliki jaringan gerai di sekitar 16-17 negara. Sebagai informasi, perusahaan telah memiliki fasilitas produksi sendiri sejak 2012 dan mulai mengembangkan sistem logistik sendiri sejak 2014. Perusahaan juga menggunakan sistem gudang dan distribusi nasional untuk mendukung rantai pasok.
Bing menyebut, perusahaan tetap memiliki target untuk menambah jumlah gerai di Indonesia setiap tahun. Namun, ia menegaskan bahwa pertumbuhan bisnis Mixue tidak semata-mata diukur dari jumlah gerai yang dibuka.“Kita juga memiliki banyak kedai di 16-17 negara. Tapi Indonesia selalu merupakan pasar terbesar. Jadi, setiap tahun kita memiliki tujuan. Tapi tujuan ini tidak akan berhenti. Mungkin suatu hari kita akan menjadi 2.000 atau 3.000,”ungkapnya.
Disampaikannya, perusahaan tidak hanya mengejar pertumbuhan jumlah gerai. Perseroan justru ingin memastikan setiap gerai yang beroperasi mampu memberikan keuntungan bagi franchisee. Menurut dia, pemberitaan mengenai industri waralaba sering kali berfokus pada jumlah gerai yang dibuka atau ditutup dalam satu tahun.

Namun, bagi Mixue, indikator tersebut bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.“Beberapa media berfokus pada kedai. Berapa banyak kedai yang dibuka tahun ini, berapa banyak kedai yang ditutup tahun ini. Tapi sebenarnya, bagi industri kita, tidak seperti itu. Kita harus berfokus pada setiap kedai yang kita operasikan,” katanya.






































