NERACAONLINE – Sebanyak 80% responden di Indonesia mengaku kesulitan memenuhi pengeluaran bulanan akibat tekanan inflasi. Kondisi tersebut mendorong sebagian masyarakat mulai mengandalkan tabungan hingga mengurangi pengeluaran kebutuhan pokok untuk menjaga keseimbangan keuangan rumah tangga.
Temuan tersebut berdasarkan Financial Resilience Index 2026 yang dirilis Sun Life. Riset tersebut juga menunjukkan sebanyak 23% responden mulai menggunakan tabungan, sedangkan 26% lainnya mengurangi atau bahkan melewatkan pengeluaran kebutuhan pokok akibat tekanan biaya hidup.
Chief Client and Marketing Sun Life Indonesia, Maika Randini mengatakan, meningkatnya tekanan terhadap keuangan rumah tangga perlu diimbangi dengan pengelolaan keuangan yang lebih terencana. Menurutnya, keamanan finansial tidak hanya diukur dari kemampuan memenuhi kebutuhan saat ini, tetapi juga kesiapan menghadapi pengeluaran tak terduga dan menjaga pilihan hidup di masa depan.
“Keamanan finansial yang sesungguhnya adalah kebebasan untuk memilih. Uang tidak lagi menjadi penentu setiap keputusan penting dalam hidup,” ujarnya dalam keterangan tertulis.
Dia menjelaskan, momentum tanggal kembar seperti 11.11 yang identik dengan aktivitas belanja dan promosi perlu dimanfaatkan secara bijak. Masyarakat perlu mempertimbangkan kemampuan keuangan sebelum membeli barang, terutama ketika diskon dan penawaran terbatas berpotensi mendorong pengeluaran di luar kebutuhan.
Sun Life mencatat, kemampuan masyarakat Indonesia dalam membangun ketahanan finansial masih menghadapi sejumlah tantangan. Hanya 45% responden yang merasa mampu menopang kebutuhan hidup lebih dari enam bulan apabila kehilangan penghasilan.
Kondisi tersebut menunjukkan masih terbatasnya bantalan keuangan sebagian rumah tangga dalam menghadapi risiko kehilangan pekerjaan maupun tagihan mendadak. Karena itu, membangun dana darurat dan menyisihkan sebagian penghasilan secara rutin menjadi salah satu langkah untuk memperkuat ketahanan finansial.
Selain kesiapan dana darurat, tingkat literasi keuangan juga menjadi perhatian. Sebanyak 60% responden di Indonesia menilai pengetahuan keuangan mereka masih berada pada kategori dasar, rendah, atau sangat rendah.
Padahal, responden dengan tingkat literasi keuangan tinggi tercatat lebih dari tiga kali lebih siap menghadapi kenaikan biaya hidup dibandingkan responden dengan literasi rendah. Dalam riset tersebut, tingkat kesiapan masing-masing mencapai 73% dan 20%.
Di sisi lain, pemanfaatan teknologi digital untuk mencari informasi keuangan juga semakin meningkat. Sebanyak 68% responden Indonesia mengaku menggunakan teknologi generative artificial intelligence (Gen AI) untuk mencari informasi keuangan, setidaknya sesekali. Angka tersebut menjadi yang tertinggi kedua di antara enam pasar yang disurvei.
Bahkan, sebanyak 67% responden memperkirakan penggunaan Gen AI untuk mencari informasi keuangan akan meningkat dalam 12 bulan mendatang.
Meski demikian, masyarakat tetap perlu selektif dalam menggunakan informasi digital, terutama untuk keputusan yang berkaitan dengan investasi, dana pensiun, dan perlindungan keluarga. Informasi dari teknologi perlu diperiksa kembali melalui sumber tepercaya dan disesuaikan dengan kondisi serta tujuan keuangan masing-masing.
Sementara itu, perencanaan pensiun juga menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan finansial jangka panjang. Riset pensiun Sun Life di Asia menemukan sekitar satu dari lima orang tidak memiliki rencana menjelang masa pensiun. Sebagian lainnya bahkan baru mulai mempersiapkan keuangan ketika mendekati masa berhenti bekerja.
Di antara masyarakat yang telah memasuki masa pensiun, sekitar satu dari lima mengaku pengeluaran bulanan mereka lebih tinggi dibandingkan perkiraan sebelumnya.
Menurut Maika, perencanaan keuangan perlu mempertimbangkan kebutuhan hidup saat ini sekaligus kehidupan yang ingin dijalani pada masa mendatang. Masyarakat perlu mengevaluasi kepemilikan tabungan, dana pensiun, investasi, maupun program pensiun dari tempat kerja untuk mengetahui kecukupan dana yang telah disiapkan.
Dengan perencanaan yang lebih awal dan konsisten, masyarakat diharapkan memiliki ruang finansial lebih luas untuk menghadapi perubahan kondisi ekonomi sekaligus mempertahankan kualitas hidup pada masa mendatang.






































