NERACAONLINE- Pengabdian seorang prajurit tidak berhenti ketika tugasnya berakhir. Di balik setiap pengorbanan, ada kehormatan yang harus dijaga, keluarga yang membutuhkan kekuatan, serta tanggung jawab institusi untuk memastikan jasa para prajurit senantiasa dikenang. Pesan tersebut mengiringi prosesi penghormatan terakhir bagi prajurit Penerbangan TNI Angkatan Darat (Penerbad) yang gugur dalam operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah.
Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI, Tandyo Budi Revita memimpin langsung upacara pemakaman militer Kapten Cpn (Anumerta) Nurhafiz Akbar Rizki Hartio di Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal, Semarang, Kamis (5/11). Kehadiran Kasad menjadi bentuk penghormatan tertinggi TNI AD kepada prajurit yang telah mengabdikan jiwa dan raganya dalam menjalankan tugas kemanusiaan.
Dalam suasana duka tersebut, Kasad menyampaikan rasa kehilangan yang mendalam atas gugurnya prajurit terbaik TNI AD. Baginya, pengorbanan mereka merupakan bagian dari pengabdian yang memiliki makna besar bagi bangsa dan masyarakat,“Kita kehilangan anggota di medan tugas Kodam XXII/Tambun Bungai dalam tugas operasi karhutla,” ungkap Tandyo seusai memimpin prosesi pemakaman.
Di tengah penghormatan militer, perhatian Kasad juga tertuju kepada keluarga yang ditinggalkan. Salah satu momen penuh makna berlangsung ketika Jenderal Tandyo menyerahkan bendera Merah Putih kepada istri almarhum Kapten Nurhafiz sebagai simbol penghargaan negara atas pengabdian suaminya.
Kasad turut menyampaikan pesan agar keluarga senantiasa diberikan kekuatan untuk melanjutkan kehidupan, terutama dalam mendampingi dan membesarkan putri almarhum. Momen tersebut menjadi pengingat bahwa di balik setiap prajurit yang menjalankan tugas negara, terdapat keluarga yang turut memberikan pengorbanan. Karena itu, penghormatan tidak hanya ditujukan kepada mereka yang gugur, tetapi juga kepada orang-orang terdekat yang harus melanjutkan kehidupan setelah kehilangan.
Lebih dari sebuah prosesi militer, penghormatan terakhir menjadi cerminan tanggung jawab moral institusi terhadap prajurit beserta keluarga yang ditinggalkan. Perhatian kepada keluarga juga diwujudkan melalui pemenuhan hak para prajurit. Berdasarkan keterangan Pusat Penerangan TNI yang disampaikan Panglima TNI, keluarga prajurit yang gugur berhak menerima santunan dan tunjangan sesuai ketentuan, termasuk dukungan yang berkaitan dengan kesejahteraan serta pendidikan anak.

Di sisi lain, Kasad menegaskan bahwa pengabdian TNI AD dalam penanggulangan karhutla tetap berlanjut meskipun institusinya tengah berduka. Dia mengungkapkan bahwa sekitar 18.989 personel TNI AD terlibat dalam penanganan karhutla di Kalimantan.
Operasi tersebut juga telah mencatat 636 sortie penerbangan dengan sekitar 1,2 juta liter air yang digunakan dalam upaya pemadaman. Angka tersebut memperlihatkan besarnya pengerahan sumber daya untuk membantu mengendalikan kebakaran dan melindungi masyarakat.
Terkait kecelakaan helikopter Mi-17V5 yang merenggut nyawa tiga prajurit, Kasad menyampaikan bahwa penyebab pasti peristiwa tersebut masih menunggu hasil penyelidikan, termasuk pemeriksaan kotak hitam pesawat. Hasilnya diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bagi pelaksanaan tugas dan latihan pada masa mendatang. Penghormatan kepada mereka yang gugur perlu berjalan seiring dengan komitmen memperkuat keselamatan prajurit yang masih bertugas di garis depan.
Dalam rangkaian penghormatan tersebut, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Kristomei Sianturi turut hadir bersama Kasad sebagai wujud solidaritas terhadap personel yang gugur saat menjalankan misi kemanusiaan. Di Lanumad Ahmad Yani, keduanya menghadiri penyambutan jenazah Kapten Nurhafiz dan memberikan penghormatan kepada Letkol Cpn (Anumerta) Dudi Firmansyah, yang selanjutnya diberangkatkan menuju Bandung.
BNPB juga menyampaikan dukacita mendalam dan penghargaan atas dedikasi para prajurit yang telah berjuang membantu melindungi masyarakat dan lingkungan dari ancaman kebakaran hutan dan lahan. Kecelakaan helikopter yang terjadi di Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, pada Rabu (4/11) tersebut mengakibatkan tiga prajurit gugur, yakni Letkol Cpn (Anumerta) Dudi Firmansyah, Kapten Cpn (Anumerta) Nurhafiz Akbar, dan Sertu (Anumerta) Heri Prasetyo. Lima personel lainnya selamat. Jenazah Sertu Heri berhasil dievakuasi tim SAR gabungan pada Jumat (6/11).
Bagi keluarga besar TNI AD, kepergian para prajurit menjadi duka yang tidak mudah dilupakan. Namun, di balik kehilangan tersebut, pengabdian mereka meninggalkan nilai tentang keberanian, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap keselamatan sesama.






































