Beranda Ekonomi Daerah RPN-BPDP-Ditjenbun Latih Pekebun untuk Tingkatkan Produktivitas

RPN-BPDP-Ditjenbun Latih Pekebun untuk Tingkatkan Produktivitas

18
0

NERACAONLINE – Meningkatkan hasil dari kebun yang sudah ada menjadi tantangan utama pekebun kelapa sawit rakyat di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Di tengah keterbatasan lahan, peningkatan produktivitas menjadi jalan yang harus ditempuh.

Saat perkebunan perusahaan mampu menghasilkan sekitar 24 ton tandan buah segar (TBS) per hektare per tahun, produktivitas kebun rakyat di Simalungun rata-rata baru berada di kisaran 12–15 ton TBS per hektare per tahun.

Kesenjangan tersebut menjadi perhatian Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS)–PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN) bersama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun). Melalui Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan Kelapa Sawit (SDMP) 2026, kompetensi pekebun diperkuat agar peningkatan produktivitas tidak hanya menjadi target, tetapi diterapkan di kebun.

Sebanyak 126 pekebun asal Simalungun mengikuti Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit pada 13–19 September 2026 di Medan.

Pelatihan tidak berhenti di ruang kelas. Peserta juga mengikuti field trip ke Kebun Adolina PTPN IV Regional 2 untuk melihat secara langsung penerapan teknik budidaya dan pengelolaan kebun.

Tak Bisa Lagi Mengandalkan Perluasan Areal

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Simalungun, Jenri Saragih, mengatakan luas perkebunan sawit rakyat di daerah tersebut mencapai sekitar 38.905,5 hektare, dengan produksi sekitar 317.771 ton TBS.

Menurut Jenri, peningkatan produktivitas menjadi pilihan penting karena peluang memperluas areal perkebunan semakin terbatas.

“Kita tidak bisa terus mengandalkan perluasan areal. Tantangannya sekarang adalah bagaimana kebun yang sudah ada bisa menghasilkan lebih tinggi. Produktivitas sawit rakyat masih jauh di bawah perkebunan perusahaan, dan kesenjangan inilah yang harus kita kejar melalui perbaikan budidaya dan penerapan teknologi,” katanya saat membuka pelatihan, Minggu (13/9/2026).»

Karena itu, pekebun didorong menerapkan good agricultural practices (GAP) secara konsisten, mulai dari penggunaan benih unggul, pemupukan berimbang, pengendalian gulma, hama dan penyakit, pemeliharaan tanaman hingga penerapan teknik panen yang tepat.

Jenri menegaskan, keberhasilan pelatihan tidak boleh berhenti pada sertifikat. “Kalau pulang dari sini namun tidak mengubah cara teknis budidaya, yang kita dapat hanya cerita bahwa kita pernah menginap di Hotel Polonia. Tetapi yang harus dibawa pulang adalah perubahan cara mengelola kebun,” tegasnya.

Teknologi Harus Sampai ke Kebun

Manager Urusan Pelayanan Jasa Konsultasi PPKS–RPN, Dr. Agus Eko Prasetyo, mengatakan peningkatan produktivitas tidak cukup hanya dengan menambah pengetahuan.

Menurutnya, hasil riset dan teknologi harus dipilih sesuai kondisi kebun dan kemudian diterapkan secara nyata.

“Jangan berhenti pada ilmu pengetahuan. Jangan hanya hadir mengikuti pelatihan, mendapatkan materi dan sertifikat. Informasi dan teknologi yang diberikan silakan dipilih mana yang relevan dan cocok digunakan di kebun masing-masing, kemudian diterapkan,” katanya.

Agus mengatakan keberhasilan transfer teknologi baru benar-benar terlihat ketika pengetahuan yang diperoleh mampu mengubah praktik pengelolaan kebun.

Ia juga berharap 126 pekebun yang mengikuti pelatihan dapat menjadi penggerak di lingkungannya masing-masing dengan menularkan pengetahuan kepada kelompok tani dan pekebun lainnya.

Dengan demikian, manfaat pelatihan tidak berhenti pada 126 peserta, tetapi berkembang menjadi efek berantai di tingkat kelompok tani dan masyarakat pekebun Simalungun.

Salah Pilih Bibit, Risikonya Bertahun-Tahun

Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Sumatera Utara, M. Yusuf Lubis, SP, SE, mengingatkan pekebun agar tidak mengabaikan kualitas bahan tanam.

Menurut Yusuf, kesalahan memilih bibit dapat menjadi persoalan jangka panjang karena dampaknya baru terlihat ketika tanaman mulai menghasilkan.

“Jangan tanam sekarang, lima tahun kemudian gagal. Sudah capek menunggu, sudah lama menunggu, ternyata hasilnya tidak memuaskan,” tegasnya.

Karena itu, pekebun diminta memastikan asal-usul dan kualitas benih, terutama untuk penanaman baru maupun kegiatan peremajaan.

Peningkatan kompetensi tersebut juga perlu berjalan beriringan dengan dukungan pemerintah melalui Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) dan bantuan sarana produksi.

Belajar dari Kebun Adolina

 

Kunjungan ke Kebun Adolina menjadi bagian penting dari pembelajaran. Di lapangan, peserta dapat melihat secara langsung bagaimana teknik budidaya diterapkan sekaligus membandingkannya dengan kondisi kebun yang mereka kelola.

Jenri mengatakan meningkatnya kebutuhan minyak sawit untuk pasar domestik, termasuk sektor energi, perlu diimbangi dengan kemampuan kebun rakyat menghasilkan TBS secara lebih produktif dan efisien.

Karena itu, orientasi pekebun tidak cukup hanya pada harga TBS dan crude palm oil (CPO). Produktivitas, efisiensi, keberlanjutan, dan penerapan teknologi juga harus menjadi bagian dari pengelolaan kebun.

“Harapan kami, ketika datang ke sini 126 orang, nanti pulang menjadi 127 orang atau lebih,” katanya.

Pernyataan tersebut menggambarkan harapan agar pengetahuan yang diperoleh peserta tidak berhenti pada individu, tetapi menyebar ke pekebun lain.

Sinergi RPN, BPDP, Ditjenbun, pemerintah Provinsi Sumatera Utara, dan Pemerintah Kabupaten Simalungun melalui SDMP 2026 diharapkan mempercepat transfer teknologi sekaligus memperkuat kemampuan pekebun dalam mengelola kebunnya.

Program tersebut juga diharapkan berlanjut. Simalungun disebut masih mendapatkan alokasi sekitar 330 peserta pelatihan pada 2027.

Pada akhirnya, investasi pada sumber daya manusia diharapkan bermuara pada hasil yang konkret: kebun lebih produktif, TBS lebih berkualitas, biaya produksi lebih efisien, dan pendapatan pekebun meningkat.

Artikulli paraprakMerawat Persahabatan ala Empat Sekawan H3T

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini