Beranda Ekonomi Cerita Pengusaha Bongkar Cara Keluar dari Jerat Utang

Cerita Pengusaha Bongkar Cara Keluar dari Jerat Utang

16
0

Pernah menghadapi utang Rp350 miliar, 800 cek kosong hingga tagihan US$15 juta, sejumlah pengusaha justru kembali membangun bisnis setelah menghentikan ketergantungan pada utang. Tiga angka tersebut menggambarkan ekstremnya persoalan utang yang pernah dihadapi sejumlah pengusaha Indonesia dalam perjalanan bisnis mereka.

Namun, kisah mereka tidak berakhir pada kebangkrutan. Setelah menghentikan ketergantungan terhadap utang, para pengusaha tersebut justru kembali membangun bisnis melalui berbagai cara. Mulai dari  menjual aset produktif untuk menyelesaikan kewajiban, mengubah posisi dari distributor menjadi produsen, membangun kepercayaan pasar dan kemitraan, hingga menggunakan skema pembiayaan yang lebih terukur dan sesuai prinsip syariah.

Pengalaman tersebut mengemuka dalam talk show *“75 Tahun Dahlan Iskan: Dilema Pengusaha, Utang Tambah Beban, Tidak Berutang Tak Berkembang”. Dahlan Iskan menilai keberanian mengambil keputusan tersebut menjadi bagian penting dari pemulihan.“Seperti mobil yang sedang ngebut, harus direm. Kalau tidak direm, bisa masuk jurang,” ujar mantan Menteri BUMN ini dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Bagi Dahlan, persoalannya bukan sekadar mempertahankan ukuran bisnis, tetapi berani memilih antara mempertahankan skala usaha atau menyelamatkan kesehatan bisnis. Dari berbagai pengalaman, Dahlan Iskan melihat sebuah paradoks. Di satu sisi, pengusaha membutuhkan modal untuk tumbuh. Di sisi lain pertumbuhan yang terlalu bergantung pada utang dapat menciptakan beban yang justru menghambat perusahaan. Karena itu, pertanyaan penting bagi pengusaha bukan semata, “Bolehkah berutang?”, melainkan, “Apakah utang tersebut benar-benar menghasilkan pertumbuhan yang mampu membayar kewajibannya?”katanya.

Kisah para pengusaha menunjukkan bahwa pertumbuhan omzet, jumlah cabang, aset atau proyek belum tentu berarti bisnis sehat. Pertumbuhan baru bermakna ketika perusahaan mampu mengelola arus kas, memenuhi kewajiban, menjaga kepercayaan dan bertahan menghadapi guncangan. Pesan yang muncul bukan bahwa pengusaha sama sekali tidak boleh menggunakan pembiayaan.

Yang lebih fundamental adalah, jangan menjadikan utang sebagai satu-satunya syarat agar bisnis bisa tumbuh. Bisnis tetap dapat mencari sumber pertumbuhan melalui efisiensi, produktivitas, kepercayaan pasar, kemitraan, penguatan produksi, pengelolaan aset dan pembiayaan yang sesuai kemampuan usaha. Pada akhirnya, ukuran keberhasilan bisnis bukan hanya seberapa cepat ia tumbuh, tetapi seberapa sehat ia dapat bertahan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Asal tahu saja, bagi banyak pengusaha, utang pada awalnya merupakan instrumen ekspansi. Modal tambahan memungkinkan perusahaan membuka cabang, menambah stok, membeli aset, mengerjakan proyek besar, dan memperluas pasar. Namun, persoalan muncul ketika ekspansi terus dibiayai dengan penambahan kewajiban tanpa diimbangi arus kas yang sehat.

Pengelolaan Lebih Disiplin

Tri Dawang, pengusaha di bidang sistem teknologi informasi, pernah berada dalam situasi tersebut. Pada 2021, bisnisnya masih memiliki banyak utang. Seperti umumnya pada pengusaha, dia meyakini bisnis harus berutang agar dapat berkembang. Namun setelah seluruh utangnya dilunasi, dia menemukan bahwa bisnis tetap dapat tumbuh dengan pengelolaan yang lebih disiplin tanpa terus menambah utang.

Pengalaman hampir serupa dialami Mulyono, pengusaha asal Sragen yang selama hampir tiga dekade menjalankan Turrima Agrobiotech, perusahaan yang berfokus pada produksi pupuk organik berbasis Humic Acid.  Selama sekitar 17 tahun, bisnisnya terlihat berkembang. Namun, menurut Mulyono, bisnis tersebut sebenarnya “keropos” karena sangat bergantung pada utang.

Setelah bergabung dengan Keluarga Besar SyaREA World pada 2017 dan mengikuti coaching syariah, utangnya berhasil dilunasi pada 2018. Sejak itu, ia memilih tidak lagi menggunakan utang sebagai mesin utama pertumbuhan. Bisnisnya tetap berkembang, termasuk memasuki pasar Afrika dan Timur Tengah. Di Afrika, selama dua tahun pertama ia harus membangun kepercayaan pasar melalui uji coba pupuk senilai sekitar Rp2 miliar, tanpa menerima pembayaran selama proses pembuktian.

Setelah dua tahun, produknya terbukti mampu meningkatkan produksi padi hingga 40 persen dan mendapat penghargaan dari Menteri Pertanian Kamerun, Gabriel Mbairobe. Kepercayaan pasar kemudian tumbuh dan membuka peluang baru. Pengalaman Mulyono menunjukkan bahwa kualitas produk dan kepercayaan dapat menjadi modal pertumbuhan yang tidak kalah penting dari modal finansial.

Syaikhul Hadi, pengusaha sarana produksi pertanian asal Ponorogo, mengalami fase ekspansi yang lebih agresif. Dia pernah memegang distribusi produk dari sekitar 55 perusahaan dan membuka cabang di berbagai wilayah Jawa hingga luar Jawa.

Ekspansi tersebut membuat bisnis tumbuh cepat, tetapi sekaligus menjerumuskannya dalam beban utang. Pada masa terberat, Syaikhul bahkan pernah menerbitkan hingga 800 kali cek kosong. Pada 2018, setelah mendapat teguran keras dari ayahnya, ia menghentikan ketergantungan pada perbankan dan mulai menyelesaikan kewajibannya. Keputusan itu membuat bisnis keagenannya berhenti. Ia meminta waktu kepada para pihak yang memiliki tagihan, menjual produk yang masih berada di gudang serta menawarkan aset untuk dijual, kemudian membayar kewajiban secara bertahap.

Namun, pengalaman sebagai distributor tidak hilang. Setelah utangnya selesai, Syaikhull memanfaatkan pengetahuan mengenai produk pupuk, jaringan pemasaran dan kebutuhan konsumen untuk merintis bisnis sebagai produsen pupuk sekaligus penjual. Kisah tersebut menunjukkan bahwa deleveraging tidak selalu berarti mundur. Dalam kondisi tertentu, keluar dari utang justru menjadi titik awal membangun bisnis dengan fondasi baru.

Pengalaman SyaREA World

Lain lagi dengan kisah Eka Nugraha, pengusaha telekomunikasi asal Bogor yang memiliki utanga hingga Rp350 miliar.  Hanya berselang setahun setelah bergabung dengan Keluarga Besar SyaREA World,  kini utangnya tinggal setengah.  Bisnisnya pun perlahan berkembang tanpa ketergantungan pada utang perbankan lagi.

Pengalaman ekstrem lainnya datang dari Fauzi Priambodo, pengusaha asal Surabaya yang sebelumnya berkarier sebagai konsultan dan strategic planner.  Setelah mulai menggunakan pembiayaan dan mendapatkan proyek besar, bisnis Fauzi berkembang agresif. Pembiayaan yang awalnya sekitar Rp2 miliar terus bertambah hingga mencapai sekitar Rp140 miliar.

Titik balik terjadi ketika dia memutuskan menghentikan siklus tersebut. Dalam proses menyelesaikan kewajiban, Fauzi mengambil keputusan berat dengan menjual 20 gerai minimarket yang merupakan aset produktif miliknya.  Keputusan ini menunjukkan paradoks dalam proses penyelamatan bisnis. Bahwa dalam kondisi tertentu,  aset yang menghasilkan pendapatan terkadang justru harus dilepaskan untuk mengurangi beban kewajiban.

Zainur Nurochman, pengusaha yang pernah bergerak di bidang ekspor perikanan dan kemudian masuk bisnis kontraktor, menghadapi persoalan dari sisi piutang. Ia pernah memiliki piutang sekitar US$15 juta yang sulit ditagih. Dan Zainur memilih untuk tidak menghabiskan seluruh energi, waktu dan sumber daya untuk mengejar tagihan tersebut. Sebagian besar kerugian ia ikhlaskan dan energinya dialihkan untuk membangun kembali bisnis, termasuk usaha kontraktor dan menanam pisang.

Bagi Zainur, pengusaha harus mampu membedakan antara ikhtiar dan keterikatan terhadap hasil. “Tugas manusia sebatas ikhtiar,” ujarnya. Menurutnya, terlalu fokus pada hasil dapat membuat pengusaha kehilangan energi ketika target tidak tercapai. Kemampuan menerima kerugian dan kembali membangun bisnis menjadi bagian dari daya tahan seorang pengusaha.

Pengalaman para pengusaha tersebut tidak berarti seluruh bentuk pembiayaan harus dihindari. Khalid Bawazier, pengusaha dengan pengalaman bisnis lintas negara, menilai pembiayaan tetap dapat digunakan sepanjang struktur transaksi, akad, kemampuan pembayaran dan risikonya diperhitungkan dengan benar.

Khalid memiliki pengalaman di berbagai bisnis, termasuk industri makanan, kopi, sarung, ekspor tuna dan produk herbal, serta investasi di sektor perbankan syariah. Menurutnya, persoalannya bukan semata-mata ada atau tidaknya pembiayaan, melainkan apakah transaksi dilakukan dengan mekanisme yang benar dan sesuai prinsip syariah.

Dia mencontohkan pembelian mesin melalui skema di mana bank terlebih dahulu membeli mesin tersebut sebelum menjualnya kembali kepada pengusaha dengan harga dan margin yang disepakati. Khalid juga menekankan pentingnya menghitung kemampuan usaha sebelum mengambil pembiayaan. Jika bisnis tidak mampu membayar, pengusaha harus memiliki rencana penyelesaian. “Modal pertama pengusaha hebat bukan uang, tetapi ketenangan dan kepercayaan,” tegasnya.

Artikulli paraprakPenolakan Pengesahan Dokumen Tanah di Cakung Timur, Mantan Pejabat Pemerintah Disorot
Artikulli tjetërFlux Creative Universe Raih 3 Marketeers Youth Choice Award 2026

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini