Beranda Ekonomi BNI Catat Fundamental Bisnis Kokoh di Bawah Danantara, Ditopang Pertumbuhan Kredit dan...

BNI Catat Fundamental Bisnis Kokoh di Bawah Danantara, Ditopang Pertumbuhan Kredit dan Kualitas Aset

32
0

Keterangan foto. Kiri-Kanan: Direktur Risk Management BNI David Pirzada Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena.

 

Jakarta, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI mencatatkan kinerja fundamental yang solid hingga semester I 2026, di tengah tantangan likuiditas industri perbankan dan geopolitik serta ekonomi global yang dinamis.

Pertumbuhan kredit yang sehat dan terdiversifikasi dengan baik, struktur pendanaan yang kuat, kualitas aset yang terjaga, serta transformasi bisnis yang berkelanjutan menjadi fondasi BNI dalam menciptakan pertumbuhan yang berkualitas dan nilai jangka panjang bagi seluruh
pemangku kepentingan.

Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan mengatakan, perseroan terus memperkuat
fundamental bisnis melalui strategi pertumbuhan yang berorientasi pada kualitas, penguatan bisnis inti, serta transformasi organisasi dan digital secara berkelanjutan.

“Di tengah perubahan lingkungan bisnis yang semakin dinamis, BNI mengarahkan sumber
daya pada sektor dan ekosistem yang memiliki prospek pertumbuhan sehat. Pendekatan ini
memungkinkan perseroan menjaga produktivitas aset sekaligus meningkatkan relevansi layanan bagi nasabah di setiap segmen,” ujar Putrama.

Menurut Putrama, arah pengembangan bisnis tersebut sejalan dengan agenda transformasi
BUMN di bawah koordinasi Danantara Indonesia yang menitikberatkan pada penguatan fundamental perusahaan, penerapan tata kelola yang profesional, serta penciptaan nilai secara berkelanjutan.

Transformasi Digital dan Implementasi BRAVE Perkuat Produktivitas Bisnis
Transformasi digital dan penguatan jaringan menjadi salah satu penggerak utama
peningkatan produktivitas dan pertumbuhan bisnis BNI. Hingga akhir Juni 2026, jumlah
pengguna wondr by BNI mencapai 15,1 juta, dengan volume transaksi tumbuh 110% secara
tahunan. Sementara pada segmen wholesale, jumlah pengguna BNIdirect mencapai 280 ribu,
dengan volume transaksi tumbuh 17% secara tahunan menjadi Rp6.039 triliun. Pertumbuhan
tersebut mencerminkan semakin luasnya pemanfaatan kanal digital BNI oleh nasabah ritel maupun korporasi.

Dari sisi jaringan, implementasi BRAVE atau Branch, Region & Area Value Empowerment kini
telah diterapkan di seluruh wilayah operasional BNI. Program tersebut memperkuat fungsi  kantor cabang sebagai pusat penjualan, meningkatkan produktivitas jaringan, serta
mengoptimalkan potensi bisnis di setiap daerah.

Putrama menuturkan, transformasi digital dan implementasi BRAVE merupakan bagian dari
strategi jangka panjang BNI untuk membangun organisasi yang semakin lincah, memperkuat
kapabilitas bisnis, serta menghadirkan layanan yang relevan dengan kebutuhan nasabah.

“Melalui BRAVE, setiap wilayah dan kantor cabang memiliki peran yang semakin kuat dalam menggali potensi ekonomi lokal serta membangun ekosistem bisnis. Integrasi antara
kapabilitas jaringan dan solusi digital diharapkan dapat mempercepat akuisisi, memperluas transaksi, dan meningkatkan kualitas hubungan dengan nasabah,” ujar Putrama.

Dengan penguatan strategi bisnis, transformasi organisasi, dan digitalisasi yang dijalankan
secara konsisten, BNI optimistis dapat terus meningkatkan daya saing sekaligus menciptakan nilai jangka panjang bagi para pemangku kepentingan.

Kredit Tumbuh Berkualitas dan Seimbang, Ditopang Pendanaan yang Kuat
Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena mengatakan, hingga akhir
Juni 2026, kredit BNI tumbuh 24,4% secara tahunan menjadi Rp968,5 triliun.

Pertumbuhan tersebut ditopang oleh portofolio kredit yang semakin terdiversifikasi pada
berbagai sektor ekonomi dan segmen bisnis utama, mulai dari korporasi, menengah, UMKM
hingga konsumer.

Ekspansi kredit dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan prospek industri serta profil risiko masing-masing debitur guna menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan kualitas portofolio.

Strategi intermediasi tersebut berjalan seiring dengan penguatan struktur pendanaan. Di tengah persaingan likuiditas yang masih ketat, CASA BNI tumbuh 11,2% secara tahunan
sehingga mampu mempertahankan rasio CASA pada level 65,4%. Pencapaian ini mendukung efisiensi biaya dana. Cost of fund dana pihak ketiga membaik menjadi 2,56%, dibandingkan dengan 2,78% pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Struktur pendanaan yang kuat menjadi modal penting bagi BNI untuk menjaga daya saing
sekaligus mendukung pertumbuhan kredit secara berkelanjutan.

Penguatan fundamental bisnis BNI juga tercermin pada peningkatan pendapatan inti
Perseroan. Hingga semester I 2026, pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) tumbuh 14,2% secara tahunan menjadi Rp22,3 triliun.

Pada periode yang sama, pendapatan berbasis komisi atau fee-based income (FBI) meningkat 14,2% menjadi Rp9 triliun. Pertumbuhan yang solid dan seimbang dari kedua sumber pendapatan tersebut mendorong laba operasional sebelum pencadangan atau pre-provision operating profit (PPOP) mencapai Rp18,5 triliun, tertinggi sepanjang sejarah BNI untuk periode semester pertama. Sementara itu, laba bersih perseroan tercatat sebesar Rp10,8 triliun.

Paolo mengatakan, penguatan profitabilitas menunjukkan kontribusi bisnis inti BNI yang
semakin solid dan berimbang.

“Peningkatan pendapatan tidak hanya berasal dari ekspansi kredit, tetapi juga dari
pertumbuhan transaksi, solusi cash management, layanan digital, serta aktivitas berbasis komisi lainnya. Diversifikasi sumber pendapatan ini penting untuk menjaga ketahanan profitabilitas BNI dalam berbagai kondisi siklus ekonomi,” ujar Paolo.

Kualitas Aset Terjaga Didukung Manajemen Risiko yang Prudent
Sejalan dengan pertumbuhan bisnis, kualitas aset BNI terus menunjukkan ketahanan yang
baik. Hingga akhir Juni 2026, rasio kredit bermasalah atau loan at risk (LAR) membaik dari 11,0% menjadi 8,1%, sementara rasio non performing loan (NPL) berada pada level 1,9%.
Perseroan juga mempertahankan kebijakan pencadangan yang konservatif sebagai bagian
dari disiplin manajemen risiko. Kebijakan tersebut memperkuat ketahanan neraca sekaligus memberikan ruang bagi BNI untuk melanjutkan ekspansi bisnis secara sehat dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.

Direktur Risk Management BNI David Pirzada mengatakan, kualitas aset yang terjaga
merupakan hasil penerapan manajemen risiko secara disiplin dan konsisten pada seluruh
tahapan proses bisnis perseroan.

“Pengelolaan risiko dilakukan sejak tahap penetapan sektor prioritas, analisis kelayakan
debitur, hingga pemantauan pascapenyaluran kredit. BNI juga terus memperkuat sistem
peringatan dini agar setiap perubahan profil risiko dapat diidentifikasi dan ditangani secara
lebih cepat,” ujar David.

Dengan kualitas aset yang sehat dan pencadangan yang memadai, BNI memiliki fondasi kuat untuk menjaga stabilitas bisnis di tengah dinamika perekonomian sekaligus mendukung ekspansi secara berkelanjutan.

Memasuki paruh kedua 2026, BNI akan memperkuat struktur pendanaan, menjaga
pertumbuhan kredit yang berkualitas dan terdiversifikasi, serta mempertahankan kualitas aset melalui pengelolaan risiko dan pencadangan yang disiplin.

BNI juga akan melanjutkan transformasi BRAVE dan digital guna meningkatkan produktivitas,
memperkuat fundamental bisnis, serta menciptakan pertumbuhan yang sehat dan
berkelanjutan, sejalan dengan agenda transformasi BUMN di bawah koordinasi Danantara Indonesia. (*)

 

Artikulli paraprakDanamon Festival Hadirkan Keceriaan dan Kebersamaan dalam Perayaan HUT ke-70 Danamon
Artikulli tjetërSequis Life Perkuat Kapasitas Peserta Sequis SHEPRENEUR melalui Financial Check-Up dan Personal Branding

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini