NERACAONLINE – Selama beberapa dekade, negara-negara bersaing untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui keunggulan yang relatif seragam, seperti ketersediaan tenaga kerja, akses terhadap modal, insentif investasi, dan infrastruktur fisik. Saat ini, tatanan tersebut sedang ditulis ulang. Menurut laporan terbaru dari konsultan manajemen global Kearney, kecerdasan buatan (AI) dengan cepat muncul sebagai pendorong utama daya saing ekonomi, mengubah cara negara menarik investasi, mengembangkan sumber daya manusia, membangun industri, dan menciptakan nilai jangka panjang.
Mengangkat judul How the Economic Development Model Is Being Rewritten by AI, laporan ini menegaskan bahwa AI bukan lagi sekadar tren teknologi atau instrumen peningkat produktivitas. Sebaliknya, AI kini berkembang menjadi kapabilitas ekonomi fundamental yang mengubah berbagai asumsi yang selama puluhan tahun menjadi dasar strategi pembangunan ekonomi di berbagai negara.
Potensi ekonomi AI sudah sangat besar. AI Generatif sendiri diperkirakan mampu menyumbang antara US$2,6 triliun hingga US$4,4 triliun per tahun bagi perekonomian global, dengan penerapan yang mencakup operasi layanan pelanggan, pemasaran dan penjualan, rekayasa perangkat lunak, hingga penelitian dan pengembangan, dan banyak sektor lainnya. Sementara itu, investasi global pada infrastruktur terkait AI terus tumbuh pesat, mencerminkan semakin pentingnya teknologi ini sebagai aset ekonomi strategis.
“AI tidak sekadar memperkenalkan gelombang inovasi teknologi terbaru. AI juga mengubah banyak asumsi yang selama dua dekade terakhir menjadi panduan pembangunan ekonomi,” ujar Tomoo Sato, Partner at Kearney dan penulis laporan tersebut. “Negara yang unggul di era AI bukanlah yang menawarkan biaya terendah atau tenaga kerja terbesar, melainkan yang mampu membangun kapabilitas, infrastruktur, dan ekosistem yang dibutuhkan untuk menciptakan nilai dari AI dalam skala besar.”
Untuk membantu para pemimpin menavigasi transisi ini, Kearney mengidentifikasi delapan realitas baru yang mulai membentuk ulang cara negara bersaing dan bertumbuh di era AI:
1. Tenaga kerja murah bukan lagi keunggulan kompetitif yang berkelanjutan. Hal itu karena otomatisasi dan AI menekan kebutuhan tenaga kerja di sektor manufaktur maupun jasa, menjadikan keunggulan berbasis biaya rendah tidak lagi menjadi faktor penentu seperti pada siklus pembangunan sebelumnya.
2. Daya komputasi menjadi aset strategis nasional. Akses terhadap chip, energi, infrastruktur cloud, dan talenta AI semakin menentukan kemampuan suatu negara untuk berpartisipasi dalam ekonomi AI, menjadikan kapasitas komputasi sama pentingnya dengan berbagai sumber daya ekonomi tradisional.
3. Arus modal terkait AI mulai merombak peta perdagangan dan investasi global. Negara dan kawasan yang menguasai input strategis seperti semikonduktor, pasokan listrik, infrastruktur data, dan talenta khusus berpotensi memperoleh porsi nilai ekonomi yang lebih besar.
4. Kesenjangan antara AI dan manusia tidak merata di tiap industri dan pasar. Peluang baru muncul di berbagai lapisan rantai nilai AI, membuka ruang bagi negara untuk membangun posisi kompetitif tidak hanya pada pengembangan model AI inti, tetapi juga pada berbagai sektor pendukung lainnya.
5. AI berkembang pesat melampaui aplikasi teks dan bahasa, merambah ke bidang penglihatan, robotika, dan dunia fisik. Perluasan ini mendorong lonjakan kebutuhan akan perangkat keras, data, energi, dan kemampuan integrasi di seluruh lapisan perekonomian.
6. Literasi AI menjadi salah satu pengganda produktivitas terbesar yang tersedia bagi organisasi dan perekonomian. Seiring AI semakin terintegrasi ke dalam alur kerja sehari-hari, kemampuan adaptasi tenaga kerja akan semakin menentukan siapa yang mampu menuai manfaat ekonomi terbesar.
7. Persaingan semakin ketat. AI mempercepat siklus inovasi, meningkatkan transparansi pasar, dan memperkuat persaingan berbasis platform, menciptakan situasi di mana sejumlah kecil pemimpin pasar dapat meraih keunggulan yang sangat signifikan.
8. Keamanan, etika, dan kedaulatan AI muncul sebagai prioritas strategis. Seiring kemampuan AI terus berkembang, pemerintah dan organisasi perlu menjawab berbagai tantangan terkait tata kelola, regulasi, keamanan siber, kepercayaan publik, serta kendali atas infrastruktur digital yang kritis.
Secara keseluruhan, kedelapan realitas tersebut menegaskan satu hal: AI sedang mendefinisikan ulang tatanan daya saing ekonomi secara mendasar. Keberhasilan tidak lagi ditentukan oleh skala atau kecepatan adopsi teknologi semata, melainkan oleh kemampuan setiap negara untuk mengidentifikasi keunggulannya dalam rantai nilai AI serta menyelaraskan strategi pembangunannya dengan keunggulan tersebut.
Memanfaatkan AI untuk Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Bagi negara berkembang seperti Indonesia, peningkatan AI menghadirkan tantangan yang lebih mendasar. Secara historis, banyak negara berkembang mengandalkan tenaga kerja yang melimpah dan manufaktur berorientasi ekspor sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, seiring AI dan otomatisasi mengurangi kebutuhan tenaga kerja di sektor manufaktur maupun jasa, besarnya jumlah penduduk semata tidak lagi bisa dijadikan jaminan daya saing jangka panjang.
Peluang justru terletak pada kemampuan untuk mengidentifikasi area di mana nilai dapat diciptakan dalam ekonomi AI, baik melalui layanan digital, operasional yang didukung AI, infrastruktur data, manufaktur berteknologi tinggi, maupun posisi-posisi strategis lainnya dalam rantai nilai AI.
Selain itu, Indonesia perlu mulai menguasai dua pilar strategis baru: energi bersih yang dapat ditingkatkan skalanya (scalable clean energy) dan literasi AI yang merata. Transisi ini membuka peluang lompatan pengetahuan yang cukup signifikan. Dengan memastikan ketersediaan energi yang efisien serta membekali tenaga kerja dengan pemahaman dan keterampilan AI, Indonesia dapat mengubah skala demografinya menjadi mesin penggerak inovasi yang kuat dan sumber daya saing global yang berkelanjutan.
“Indonesia memiliki peluang yang sangat besar untuk berpartisipasi dalam ekonomi AI, namun keberhasilan jangka panjang akan bergantung pada lebih dari sekadar adopsi teknologi,” ujar Shirley Santoso, Presiden Direktur Kearney Indonesia. “Seiring AI menjadi pendorong utama produktivitas dan penciptaan nilai, negara-negara akan semakin bersaing berdasarkan kualitas sumber daya manusia, kekuatan ekosistem inovasi, infrastruktur digital, serta kemampuan dalam mengubah kapabilitas teknologi menjadi hasil ekonomi yang nyata. Sangat penting bagi organisasi yang menghadapi transformasi digital untuk dapat menjembatani kesenjangan antara adopsi teknologi dan kesiapan tenaga kerjanya.”
Ia menambahkan bahwa kolaborasi antara pemerintah, akademisi, penyedia teknologi, investor, dan dunia usaha akan menjadi faktor penentu bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya dalam rantai nilai AI serta mengubah berbagai peluang teknologi yang muncul menjadi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.






































