Investasi aset digital, seperti kripto tengah digandrungi anak muda seiring dengan pesatnya pertumbuhan teknologi digital. Apalagi, kemudahan transaksi dengan smatrphone di mana saja dan kapan saja mendukung pertumbuhan transaksi kripto.“Penggunaan teknologi digital membuat keputusan transaksi menjadi terukur, berdasarkan mitigasi risiko sesuai profil investor,”kata Direktur Utama PT Smartin Advisor Sistem (SAS) Odang Supriatna dalam workshop journalist bertema Pemanfaatan Teknologi dalam Mitigasi dan Menangkap Peluang Investasi di Jakarta, Rabu (12/8).
Odang menjelaskan, Smartin adalah perusahaan penasihat berjangka resmi di bawah izin dan pengawasan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan mendapat persetujuan dari Bank Indonesia (BI). Smartin juga telah mengembangkan lisensi pengembangan dan pemanfaatan teknologi informasi berupa expert advisor (EA).
Dia menegaskan, produk SAS antara lain penasihat investasi komoditas, forex, kripto, dan saham (indeks saham Amerika Serikat). Ada beberapa alat yang digunakan yakni, EA, kecerdasan buatan (AI), sinyal, indikator, dan kelas edukasi. Disampaikannya, ada dua EA yang ditawarkan Smartin. Pertama, tradingmatic bot. Ini bisa digunakan di Meta Trader 4 (MT4) yang menggunakan strategi single shoot, lot tetap, serta stop loss (SL) dan target price (TP) terukur berdasarkan indikator custom. Kedua, quadran EA yang bisa digunakan di Meta Tader 5 (MT5) dengan menggunakan smart breakout trading.
Di balik pesatnya pertumbuhan transaksi investasi aset digital, menurut President Director ACM Merchantile Exchange, Arwandi J Setiabudi, hal yang tak kalah penting adalah literasi dan khususnya bagi pemula. Dia menyatakan, investasi dan risiko adalah dua hal yang tidak dapat terpisahkan. Ada slogan terkenal yang sering didengar, yakni high risk high return dan low risk low teturn.
Menurut dia, tujuan investasi adalah untuk memperbesar aset. Dari slogan di atas, risiko ditempatkan di depan. Oleh karena itu, mitigasi risiko harus selalu menjadi lebih prioritas daripada return.“Mitigasi risiko yang paling dasar adalah financial literacy yang mana merupakan salah satu peran utama dari penasihat berjangka untuk mengedukasi pasar,” kata dia.
Dia menegaskan, pada akhirnya keputusan investasi ada di tangan investor. Oleh karena itu, sebagai pelaku usaha di ekosistem perdagangan, semua pihak wajib memberikan literasi keuangan kepada para investor. Langkah awal, kata dia, adalah mendorong para investor untuk mengikuti sesi edukasi yang bersifat netral dan bermanfaat. Tujuan akhir dari edukasi adalah memberikan pembekalan yang cukup bagi investor untuk membuat keputusan investasi yang sesuai dengan profil investor tersebut.

Dupoin Futures menyambut baik kolaborasi dengan Smartin dalam workshop jurnalis 2026. Sinergi antara pelaku industri, penyedia teknologi, dan media menjadi langkah penting untuk meningkatkan literasi keuangan digital sekaligus memperkuat pemahaman masyarakat mengenai investasi yang aman dan bertanggung jawab.”Mitigasi risiko merupakan aspek mendasar dalam setiap keputusan investasi. Selain memahami potensi keuntungan, investor juga perlu memahami risiko agar dapat mengambil keputusan yang lebih bijak dan sesuai dengan profil risikonya,” ungkap Taufan, direktur marketing Dupoin Futures Indonesia.
Dia menuturkan, Dupoin Futures mengedepankan edukasi, pemanfaatan teknologi, serta kepatuhan terhadap regulasi sebagai bagian dari upaya mitigasi risiko. Perusahaan juga mendukung pemanfaatan teknologi seperti AI dan EA untuk membantu analisis dan pengambilan keputusan, selama tetap digunakan secara bijak dan disertai manajemen risiko yang baik.
Bantu Kelola Risiko
Fini Charisa menuturkan, teknologi memiliki peran yang semakin penting dalam membantu investor memahami dan mengelola risiko di pasar aset digital. Namun, teknologi bukan berarti menghilangkan risiko. Teknologi lebih berperan dalam membuat proses perdagangan menjadi lebih terstruktur, transparan, dan membantu pengguna mengambil keputusan berdasarkan informasi yang lebih baik.
Di Bittime, dia menyatakan, perkembangan teknologi juga membuat pilihan produk aset digital semakin luas. Saat ini, pengguna tidak hanya dapat memperdagangkan aset kripto mainstream seperti Bitcoin dan Ethereum, tetapi juga memiliki akses ke aset berbasis real world assets (RWA), seperti tokenized US Stocks.“Karena pilihan aset dan produk semakin beragam, edukasi dan pemahaman terhadap karakteristik serta risiko setiap produk menjadi semakin penting. Jadi, teknologi dan edukasi harus berjalan beriringan untuk membangun ekosistem aset digital yang lebih sehat,” ungkap dia.
Pada prinsipnya, dia melanjutkan, AI maupun automated trading adalah alat yang dapat membantu proses analisis dan pengambilan keputusan. Tetapi bukan berarti dapat menjamin keuntungan atau menghilangkan risiko perdagangan, terutama di pasar yang memiliki volatilitas tinggi seperti aset kripto.
Oleh sebab itu, dia menyatakan, pengguna tetap perlu memahami bagaimana suatu strategi bekerja, termasuk potensi kerugian yang mungkin terjadi. Jangan sampai teknologi membuat investor merasa bahwa aktivitas trading menjadi sepenuhnya otomatis dan tanpa risiko.






































