Beranda Lainnya Senyum Lebar Agus Usahanya Berkembang Berkat KUR Perumahan

Senyum Lebar Agus Usahanya Berkembang Berkat KUR Perumahan

9
0

Berdiri tegak dengan penuh keyakinan, Agus Asmat (55) pengusaha asli Betawi dari Kebon Jeruk Jakarta Barat bercerita dengan lantang di depan Menteri Perumahan dan Pemukiman, Muarar Sirait tetang bagaimana kesuksesan usahanya saat ini ada peran BRI yang selalu mensuport pada acara kolaborasi Program KUR Perumahan DKI Jakarta yang berlangsung di Lapangan Persima, Kelurahan Kalianyar, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat beberapa waktu lalu.

Agus bercerita, dukungan KUR BRI telah membawa usahanya naik kelas dan terus berkembang pesat mulai dari usaha kontrakan 20 pintu, menjadi agen sembako, pangkalan gas hingga perkebunan di Sukabumi seluas 8 hektar.”Saya ketemu dan berkenalan dengan orang BRI di tahun 2013 dan dari situ ide-ide usaha terus datang hingga berkembang saat ini,”ujarnya kepada Neraca.

Disampaikannya, perjalanan usahanya di mulai tahun 2000 saat menjadi tukang ojek untuk memenuhi kebuthan sekolah anaknya. Namun dirasakan kurang cukup penghasilannya, dirinya bertemu dengan BRI 2013 Rawa Belong dengan pinjaman pertama sebesar Rp100 juta. “Dari pinjaman tersebut, saya bangun kontrakan dengan beli harga tanah yang murah yang lokasinya di dalam gang,”ujarnya.

Dari usaha kontrakan tersebut, terus berkembang menjadi usaha jual beli rumah dari satu unit dan tambah empat unnit.”Saya belikan tanah di sekitar Jalan Karyawan II, Karang Tengah, Cileduk. Di situ saya bikin juga rumah-rumah. Kalau laku saya jual, kalau enggak laku saya kontrakin, sampai sekarang,”katanya.

Harga kosan dan kontrakannya pun beragam. Ada yang Rp500 ribu per bulan, Rp1 juta, Rp1,5 juta hingga Rp2,3 juta. Tak hanya berbisnis kos-kosan dan kontrakan sebagai usaha utama. Ya, jiwa bisnisnya yang melekat, membuat dirinya tidak merasa puas dan berkembang menambah usaha seperti agen sembako, pangkalan LPG, agen minuman mineral aneka merek, agen plastik, es kacang merah, parkiran hingga perkebunan.

Dari semua usahanya itu, tiap bulannya dirinya menerima income lebih dari Rp60 juta perbulan.“Ini saya lagi ada usaha perkebunan, menggarap pisang, cabai rawit, jeruk limau semua totalnya ada 8 hektare di Desa Gunung Malang, Sukabumi. Ada yang saya beli tanah, ada yang sewa tanah, ada yang kerja sama bagi hasil,”ujar Agus.

Disampaikanya, dari pinjaman pertamanya ke BRI dari tahun 2013 hingga saat ini sudah Rp500 juta pinjaman dikantonginya dan termasuk Kredit Program Perumahan atau KPP senilai Rp100 juta. Diakui Agus, pinjaman KPP Rp100 juta, tenor 24 bulan dan cicilan Rp4,4 juta alias bunga 6% baru-baru ini dari BRI dipakai untuk membangun 6 pintu kos-kosan seharga sewa Rp1 juta per pintu per bulan.

Dengan asumsi terisi penuh, masih lebih dari cukup untuk menutup cicilan bulanan. “Untuk cicilan itu alhamdulillah sebenarnya dari usaha mana saja sudah ketutup. Saya kan selain kontrakan ada usaha lainnya juga,” tutur Agus.

Kata Agus, program KPP berbeda dengan KUR maupun Kupedes, sangat berdampak karena bunga yang murah dan proses yang sangat mudah tanpa mensyaratkan agunan. Jika saat meminjam awal dulu Rp100 juta tenor 24 bulan ia harus mencicil Rp5,1 juta per bulan (bunga 11-12%), kini dengan KPP cicilannya hanya Rp4,4 juta per bulan untuk nominal dan tenor yang sama.“KPP bedanya bunganya sangat menolong cuma 6% enggak terlalu besar. Bunga lebih ringan karena disubsidi pemerintah 5% dari total yang seharusnya 11-12%. Jadi karena disubsidi pemerintah, kamu cukup bayar yang 6% dan, tanpa agunan. Intinya, dulu mah bingung juga lah kami (bunga tidak murah),” kata Agus.

Disampaikannya, informasi mengenai KPP BRI sendiri didapat dari salah satu mantri BRI langgannanya, Eko. “Saya kan memang sudah lama jadi nasabah BRI. Waktu kemarin itu mantrinya bilang ‘Pak ini ada program KUR baru, bapak lagi ada pengembangan usaha apa? Saya lagi bangun kos-kosan’. Yasudah dapat lah KPP itu sehingga saya bisa melanjutkan pembangunan kos-kosannya 6 pintu sampai jadi,”ujar Agus.

Hal senada juga disampaikan Arianti, penerima Kredit Program Perumahan (KPP) yang dirasakan membawa dampak pada usaha kontrakan miliknya.”Saya pinjam Rp100 juta dengan bunga kecil dan proses cepat tidak ada biaya tambahan,”ungkapnya.

 

Pengembangan KUR

Kredit Program Perumahan (KPP), menurut Regional Micro Banking Head BRI RO Jakarta 3, Oloan Susanto Nasution sejatinya merupakan pengembangan dari KUR yang diluncurkan di akhir 2025. KPP diluncurkan dalam rangka mengakselerasi program 3 juta rumah pemerintahan Prabowo-Gibran.”Yang unik, kalo dulu KUR tak bisa lagi dinikmati oleh nasabah yang sudah layak mendapatkan kredit komersial seperti Kupedes dan lain-lain karena dianggap sudah mampu mencicil dengan bunga komersial, dengan adanya KPP ini bisa,” ujar Oloan.

Namun demikian, skema peruntukannya tetap untuk usaha produktif khususnya terkait properti seperti kos-kosan atau mengupgrade tempat usaha yang sudah terlalu kecil untuk menyimpan stok barang dagangan misalnya.

Meski tanpa agunan, sejatinya nasabah penerima KPP sudah dikurasi karena salah satu syaratnya adalah memiliki usaha yang sudah berjalan 6 bulan dan menguntungkan. Mereka bisa mengajukan pinjaman mulai Rp10 juta hingga Rp500 juta, dengan tenor maksimal 5 tahun. KPP BRI juga hanya diperuntukan untuk demand side, bukan supply side seperti developer, kontraktor maupun pengusaha toko bangunan. Intinya untuk pembelian, pembangunan, atau renovasi rumah yang digunakan sebagai tempat usaha saja.

Termasuk rumah tinggal sekaligus tempat usaha, ruko, rukan, rumah produksi skala kecil (home industry), area komersial rumah susun dan rumah untuk usaha daring berbasis rumah.“KPP dan ada dua supply side dan demand side. Perumahan baru misalnya dia sifatnya hunian atau supply side itu tidak, ini kami tempat usahanya atau demand sidenya saja,” tutur Oloan.

Outstanding KPP di BRI RO Jakarta 3 sendiri sejak Desember 2025 hingga Mei 2026 mencapai Rp165 miliar dengan disbursement atau pencairan Rp180-190 miliar. “Kalau plafonnya mungkin lebih ya karena setiap bulan kan turun pokoknya,” kata Oloan.

 

 

 

 

Artikulli paraprakTren Transaksi Digital, OVO dan Finansialku Ungkap Jurus Anti-Boncos di Era Cashless
Artikulli tjetërSering Buang Air Kecil Tengah Malam? Bisa Jadi Pembesaran Prostat

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini