Perkembangan desain industri properti terus bergerak dinamis, bahkan konsep rumah ramah lingkungan, modern dan minimalis masih tinggi minatnya bagi generasi milenial atau gen Z. Hal ini seiring isu pemanasan global yang menjadi perhatian yang mengancam kehidupan anak cucu kedepannya. Maka seiring dengan tren tersebut, pengembang properti pun memutar otak untuk menerapkan konsep hijau dan ramah lingkungan.
CEO Leads Property, Hendra Hartono pernah bilang, permintaan hunian berkonsep hijau dan ramah lingkungan akan terus bertumbuh seiring dengan makin tingginya kesadaran masyarakat terutama kalangan milenial dan generasi Z. “Kalangan muda sekarang mengerti akan aspek penting ramah lingkungan untuk kelestarian bumi,” ujarnya.
Hal ini membuat pengembang membangun residensial dengan teknologi hemat energi seperti penggunaan panel surya di atap pergudangan menjadi salah satu upaya untuk mengurangi konsumsi energi konvensional dan meningkatkan efisiensi energi. Tak heran, kini membangun rumah tidak hanya sekedar memperhatikan fungsinya saja tetapi desain interior kekinian yang mencerminkan para penghuninya. Termasuk, urusan sakelar listrik yang kini tidak lagi dipandang sekadar perangkat fungsional. Estetika desain, kesan premium, hingga faktor keamanan menjadi pertimbangan penting demi menghadirkan hunian modern yang nyaman hingga ramah lingkungan.
Ya, di era digital saat ini, orang semakin banyak menghabiskan waktunya di rumah karena setiap orang melakukan berbagai aktivitas seperti bekerja, sekolah dan berkreativitas seluruhnya di dalam rumah. Kondisi ini tentu membuat penggunaan perangkat elektronik yang semakin padat, sistem kelistrikan rumah kini bekerja hampir tanpa henti setiap hari. Mulai dari televisi, pendingin ruangan, mesin cuci, hingga pengisian daya gawai membuat stopkontak menjadi salah satu titik yang paling sering digunakan di rumah.
Tentu saja, kesibukan pengguan listrik membuat perangkat kelistrikan rentan mengalami panas berlebih apabila tidak didukung material dengan standar keamanan yang baik. Maka karena itu, jangan dianggap remeh dalam memilih penggunaan stopkontak dan jangan asal murah harga tetapi keamanannya terhadap dampak potensi korsleting (arus pendek). Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta tahun 2025 mencatat sebanyak 66,7% kasus kebakaran dipicu korsleting listrik. Risiko tersebut semakin besar bagi keluarga dengan anak kecil.
Sebuah studi dalam Journal of Forensic Sciences tahun 2023 menemukan 47,2% kasus kematian akibat sengatan listrik terjadi pada anak di bawah usia 18 tahun. Semenatta dosen dan peneliti, Kelompok Keahlian Ketenagalistrikan, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika, Institut Teknologi Bandung (ITB), Kevin Marojahan Banjar Nahor mengatakan, banyak masyarakat tergiur memilih stopkontak atau saklar murah tanpa label Standar Nasional Indonesia (SNI). Produk semacam itu umumnya menggunakan kabel berukuran kecil, berbahan campuran, dan dengan isolasi tipis yang cepat getas dan mudah meleleh. “Risiko yang dapat muncul jika menggunakan perangkat kelistrikan dengan kualitas kurang baik adalah korsleting listrik, kerusakan peralatan elektronik, pemborosan energi, hingga risiko paling fatal adalah kebakaran rumah,” kata Kevin.
Kondisi itu membuat banyak keluarga muda kini mulai mencari perangkat kelistrikan yang tidak hanya estetik, tetapi juga memiliki fitur keamanan tambahan dan menjawab kebutuhan pasar, Schneider Electric sebagai produsen perangkat dan solusi di bidang manajemen energi, elektrifikasi, dan otomasi industri menghadirkan Vivace E sebagai lini sakelar dan stopkontak modern untuk hunian masa kini. Melalui Schneider Electric Indonesia, Vivace E hadir dengan desain sleek, slim, dan frameless yang dirancang agar tampil lebih menyatu dengan interior rumah modern. Produk ini tersedia dalam empat pilihan warna, yakni White, Black, Wine Gold, dan Light Grey yang memberikan fleksibilitas lebih besar dalam menyesuaikan karakter ruang.
Kata President Director Schneider Electric Indonesia & Timor-Leste, Martin Setiawan, pendekatan tersebut membuat sakelar tidak lagi sekadar menjadi perangkat utilitas, tetapi juga bagian dari elemen interior yang mendukung tampilan ruang tetap rapi dan harmonis. Karena itu, perangkat listrik modern dituntut tidak hanya aman digunakan, tetapi juga mampu mendukung kenyamanan visual dan fungsi ruang.
Disampaikannya, konsumen kini semakin memperhatikan keseimbangan antara desain dan keamanan perangkat listrik.“Konsumen tidak lagi memilih antara desain atau keamanan, mereka menginginkan keduanya dalam satu solusi yang seimbang,” ujar Martin.

Selain desain minimalis, Vivace E juga dilengkapi fitur safety shutter berstandar SNI untuk membantu mengurangi risiko sengatan listrik akibat sentuhan tidak disengaja atau masuknya benda asing ke dalam soket. Beberapa varian juga telah dilengkapi USB charger Type A dan Type C untuk mendukung kebutuhan perangkat digital sehari-hari.
Teknolgi Vivace E
Vivace E menggunakan material polycarbonate dengan ketahanan panas hingga 850 derajat Celsius berdasarkan glow-wire test. Material tersebut membantu perangkat tetap kuat dan tidak mudah berubah bentuk ketika terpapar panas, sehingga dapat mengurangi risiko yang muncul akibat penggunaan listrik intensif.
Vivace E juga dilengkapi sistem grounding yang berfungsi memberikan jalur pengamanan ketika terjadi gangguan listrik. Pada varian tertentu, tersedia fitur double-pole switched socket yang mampu memutus jalur live dan neutral secara bersamaan. Sistem ini membantu memberikan isolasi yang lebih baik saat stopkontak tidak digunakan maupun ketika perangkat dimatikan.
Selain itu, terminal soket dirancang lebih besar untuk memudahkan pemasangan kabel sekaligus mendukung koneksi listrik yang lebih stabil. Fitur ini memudahkan teknisi listrik dalam proses pemasangan sehingga instalasi lebih rapi dan efisien.“Vivace E dirancang dengan standar keselamatan sesuai dengan SNI dan sertifikasi IEC (International Electrotechnical Commission)” kata Martin Setiawan.
Vivace E juga dilengkapi fitur child safety shutter. Fitur ini dirancang untuk membantu mencegah anak bersentuhan langsung dengan bagian listrik bertegangan di dalam stopkontak. Fitur ini sangat cocok untuk keluarga modern dengan anak kecil yang menginginkan tampilan detail yang estetis dan juga ramah anak.
Pada penggunaan normal, mekanisme shutter akan terbuka ketika kedua pin steker dimasukkan secara bersamaan dengan tekanan yang seimbang. Namun, apabila anak memasukkan benda asing hanya ke salah satu lubang stopkontak, shutter akan tetap tertutup sehingga benda tersebut tidak dapat menyentuh bagian bertegangan di dalamnya.“Dengan adanya fitur child safety shutter, risiko sengatan listrik akibat kontak tidak disengaja dapat dikurangi,” ujarnya.
Sementara menurut Ariya Sradha, Ketua Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII) DKI Jakarta, detail seperti sakelar dan stopkontak memiliki peran penting dalam menjaga kesatuan visual interior.“Dalam merancang sebuah hunian, detail kecil seperti sakelar dan stopkontak memiliki peran besar dalam menjaga kesatuan visual ruang. Desain yang terlalu menonjol atau tidak selaras dapat mengganggu keseluruhan komposisi,” katanya.
Ariya menilai, pendekatan desain clean, slim, dan frameless kini semakin diminati karena memungkinkan perangkat kelistrikan menyatu lebih natural dengan berbagai konsep interior modern. Seiring pergeseran tren interior 2026 menuju prinsip less but better, desain ruang kini tidak lagi didominasi gaya minimalis yang dingin, melainkan tampil lebih hangat, personal, dan berorientasi jangka panjang.
Dalam tren tersebut, setiap elemen interior, termasuk sakelar dan stopkontak, dituntut tampil refined dan selaras dengan karakter ruang, bukan sekadar perangkat fungsional di dinding.
Margaretha Amelia Miranti, Interior Designer Rafaelmiranti Architects, menilai detail-detail kecil justru menjadi elemen penting dalam membentuk karakter ruang. Menurut Margaretha, desain sakelar dan stopkontak yang terlalu menonjol atau tidak selaras dapat mengganggu komposisi interior secara keseluruhan. Karena itu, banyak desainer kini cenderung memilih perangkat berdesain clean, slim, dan frameless agar menyatu secara visual dengan berbagai konsep ruang, seperti pendekatan desain Vivace E.





































