Beranda Teknologi Adopsi AI Capai 62%, Mekari Soroti Ancaman Shadow AI di Dunia Kerja

Adopsi AI Capai 62%, Mekari Soroti Ancaman Shadow AI di Dunia Kerja

29
0

 

NERACAONLINE – Lebih dari 700 pemimpin perusahaan, pemilik bisnis, praktisi teknologi, dan profesional lintas industri berkumpul dalam Mekari Conference 2026 bertajuk “AI at Work”. Forum tersebut membahas percepatan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) sekaligus tantangan keamanan, tata kelola, dan kesiapan sumber daya manusia di dunia usaha Indonesia.

Perkembangan adopsi AI di Indonesia menunjukkan tren yang semakin cepat. Berdasarkan laporan ASEAN Intelligence 2026, sebanyak 62% perusahaan Indonesia disebut telah menjadi first mover dalam adopsi AI di kawasan Asia Tenggara.

Di sisi lain, survei Salesforce 2026 menunjukkan 70% pekerja Indonesia merasa lebih percaya diri menggunakan AI di tempat kerja karena telah terbiasa menggunakannya secara personal. Namun, baru 33% pekerja yang memperoleh pelatihan AI secara resmi dari perusahaan.

Kesenjangan antara antusiasme pekerja dan kesiapan organisasi juga terlihat dari tingkat integrasi AI. Data yang dibahas dalam konferensi tersebut menunjukkan baru sekitar 26% perusahaan di Indonesia yang telah mengintegrasikan AI secara penuh ke dalam operasional bisnis.

Kondisi tersebut turut memunculkan fenomena Shadow AI, yakni penggunaan aplikasi atau layanan AI pribadi maupun yang tidak mendapat otorisasi perusahaan untuk menyelesaikan pekerjaan. Penggunaan AI tanpa tata kelola yang memadai berpotensi meningkatkan risiko kebocoran data serta persoalan privasi perusahaan.

Bahas Strategi AI di Dunia Usaha

Mekari Conference 2026 menghadirkan sejumlah tokoh dari sektor teknologi, bisnis, pemerintahan, dan akademisi untuk membahas perkembangan AI dari berbagai perspektif.

Di antaranya Rudiantara, Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia periode 2014–2019; Sandy Kunvatanagarn, Head of Policy Southeast Asia OpenAI; Anthony Amni, Country Manager AWS Indonesia; Aldo Rambie, Head of Industry Meta Indonesia; Prof. Rhenald Kasali, Founder Rumah Perubahan dan Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia; Dr. Wani Sabu, Senior Advisor Fraud Banking Investigation BCA; serta Risman Adnan, Chief Technology Officer Paragon Corp.

Pembahasan mencakup berbagai isu strategis, mulai dari masa depan produktivitas dan daya saing ekonomi nasional, strategi membangun organisasi berbasis AI atau AI-Powered Enterprise, keamanan data, tata kelola teknologi, hingga mitigasi risiko Shadow AI. Konferensi juga menyoroti konsep Human-in-the-Loop, yang menempatkan manusia tetap memiliki peran penting dalam proses pengambilan keputusan di tengah meningkatnya otomatisasi.

Selain itu, peserta mendapatkan paparan mengenai implementasi Conversational AI dan Agentic AI untuk meningkatkan pengalaman pelanggan, No-Code Automation untuk mempercepat proses kerja lintas fungsi, hingga strategi pengembangan talenta dan kepemimpinan dalam menghadapi perubahan budaya kerja akibat AI.

Dorong AI yang Aman

Chief Executive Officer (CEO) Mekari, Suwandi Soh, mengatakan tantangan perusahaan saat ini bukan lagi mengenai apakah AI akan digunakan, tetapi bagaimana memastikan teknologi tersebut digunakan secara aman dan bertanggung jawab.

“Pekerja Indonesia memiliki antusiasme yang luar biasa terhadap AI. Namun ketika perusahaan tidak menyediakan infrastruktur yang memadai, karyawan akan mencari solusi sendiri. Di sinilah risiko Shadow AI muncul,” ujar Suwandi.

Menurutnya, perusahaan perlu menyediakan ekosistem AI yang aman, terintegrasi, dan sesuai dengan kebutuhan bisnis, dibandingkan sekadar membatasi penggunaan teknologi tersebut. Melalui Mekari Airene, Mekari mengintegrasikan AI ke dalam alur kerja bisnis sehari-hari dengan fondasi keamanan yang didukung sertifikasi ISO/IEC 27001 dan ISO/IEC 27701.

Suwandi juga menekankan bahwa AI tidak semestinya diposisikan untuk menggantikan manusia. Sebaliknya, teknologi tersebut dapat digunakan untuk memperkuat kemampuan profesional dalam berpikir kritis, menganalisis informasi, serta mengambil keputusan.

AI Pangkas Waktu Respons Dermaster

Selain membahas strategi dan tata kelola, Mekari Conference 2026 turut menampilkan contoh penerapan AI dalam kegiatan operasional perusahaan. Salah satunya melalui pengalaman Dermaster, jaringan klinik estetika yang memanfaatkan teknologi Conversational AI melalui Mekari Qontak untuk menangani ribuan interaksi pelanggan setiap hari.

Director of Sales & Operational Dermaster, Dicky Ie, mengatakan penerapan AI pada saluran komunikasi pelanggan mampu memangkas waktu respons dari hitungan jam menjadi hitungan menit. “Kecepatan dan presisi merupakan fondasi kepercayaan pelanggan. Dengan dukungan AI, tim kami dapat mengurangi pekerjaan administratif yang berulang dan lebih fokus menghadirkan pengalaman pelanggan yang personal,” kata Dicky.

Menurutnya, pemanfaatan AI tidak hanya berdampak terhadap peningkatan kualitas layanan, tetapi juga mendukung efisiensi operasional dan pertumbuhan bisnis. Melalui berbagai studi kasus tersebut, Mekari Conference 2026 menempatkan AI bukan sekadar sebagai teknologi baru, tetapi sebagai bagian dari transformasi operasional perusahaan yang membutuhkan kesiapan infrastruktur, sumber daya manusia, keamanan data, serta tata kelola yang memadai.

Artikulli paraprakJPU Sebut Keterangan Saksi Konsisten soal Permintaan Rp350 Juta
Artikulli tjetërRaih 2 Penghargaan Superbrands 2026, AQUA Elektronik Perkuat Kepercayaan Konsumen

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini