NERACAONLINE – Biaya penataan ulang kantor (office fit-out) di berbagai negara Asia Pasifik terus mengalami peningkatan. Menurut JLL, kenaikan tersebut didorong oleh keterbatasan tenaga kerja, tekanan harga material, serta meningkatnya kompleksitas sistem mekanikal, elektrikal, dan teknologi bangunan.
Temuan tersebut dipaparkan dalam Asia Pacific Office Fit-Out Costs Guide 2026, yang menyajikan informasi mengenai tren pasar dan faktor-faktor yang memengaruhi biaya penataan ulang kantor di 27 kota pada 14 negara di kawasan Asia Pasifik. Panduan ini mengidentifikasi peluang sekaligus tantangan penting dalam perencanaan belanja modal (capital expenditure/CAPEX) dan strategi office fit-out di tengah lingkungan bisnis yang semakin kompleks pada 2026.
Ketidakpastian geopolitik menjadi faktor signifikan yang memengaruhi risiko biaya proyek. Konflik yang terus berlangsung di Timur Tengah berdampak memicu volatilitas pasar energi global. Fenomena ini begitu terasa di kawasan Asia Pasifik yang sangat bergantung pada impor energi, petrokimia, serta material dengan kebutuhan energi tinggi.
Martin Hinge, Executive Managing Director, Project & Development Services (PDS) JLL Asia Pacific, mengatakan bahwa biaya penataan ulang kantor di Asia Pasifik masih menunjukkan perbedaan yang cukup besar dibandingkan kawasan lain di dunia.
“Biaya penataan ulang kantor di Asia Pasifik menunjukkan variasi yang lebih beragam dibandingkan kawasan lain. Jepang, Singapura, Australia, dan Selandia Baru memiliki biaya renovasi yang lebih tinggi dari kota di negara lainnya. Ini menunjukkan terbatasnya ketersediaan tenaga kerja serta standar kualitas bangunan yang tinggi. Sementara itu, India, Tiongkok, dan beberapa negara di Asia Tenggara masih menawarkan biaya yang relatif lebih kompetitif. Dalam banyak kasus, biaya tersebut dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar dibandingkan penurunan biaya produksi. Kami juga melihat bahwa terbatasnya jumlah proyek yang berjalan serta meningkatnya persaingan di sejumlah pasar membuat harga semakin kompetitif. Karena itu, analisis pada tingkat kota menjadi jauh lebih relevan dibandingkan sekadar melihat rata-rata kawasan,” ujar Martin.
Secara regional, rata-rata biaya penataan ulang kantor di Asia Pasifik mencapai US$1.550 per meter persegi, dengan kenaikan sebesar 2–5% secara tahunan. Dibandingkan kota-kota utama di Asia Tenggara, Jakarta memiliki biaya penataan ulang kantor yang lebih rendah dibandingkan Singapura, Kuala Lumpur, Manila, dan Bangkok. Perbandingan tersebut membantu perusahaan memahami perbedaan biaya antar kota sehingga dapat menyusun perencanaan investasi dan standar desain kantor secara lebih tepat. Jakarta masih menjadi salah satu pasar perkantoran strategis di Asia Tenggara. Perbandingan biaya penataan ulang kantor Jakarta dengan kota-kota utama lainnya di kawasan memberikan referensi bagi perusahaan dalam menentukan prioritas, strategi pengadaan, serta perencanaan ruang kerja yang selaras dengan kondisi pasar,” kata Rosari Chia, Head of Office Leasing Advisory, JLL Indonesia.
Laporan ini juga menunjukkan komposisi biaya office fit-out di setiap negara di Asia Pasifik. Di Indonesia, layanan mekanikal dan elektrikal (M&E) menyumbang porsi biaya terbesar, disusul oleh pekerjaan konstruksi, sedangkan jasa profesional menjadi komponen dengan porsi biaya terendah.
Sejalan dengan temuan tersebut, Daniel Malacchini, Head of Cost Advisory & Cost Management, Project & Development Services (PDS), Asia Pacific, JLL, mengatakan bahwa analisis berbasis kota kini menjadi faktor yang semakin penting dalam mendukung pengambilan keputusan investasi dan pemilihan lokasi di Asia Pasifik. “Kami melihat, hal ini mendorong diskusi dengan banyak perusahaan yang mempertimbangkan dampak geopolitik dan akses terhadap rantai pasok saat mengevaluasi risiko biaya proyek serta upaya mitigasi yang diperlukan,” ujarnya.






































