Beranda Market Membangun Nilai Tambah Melalui Praktik Pertambangan Berkelanjutan

Membangun Nilai Tambah Melalui Praktik Pertambangan Berkelanjutan

25
0

Menjadi negara dengan sumber potensi nikel terbesar di dunia, Indonesia memiliki peranan penting memasok kebutuhan nikel dunia sebagai salah satu komponenen baterai yang meningkat kebutuhannya seiring dengan percepatan transformasi kendaraan konvensional ke listrik. Saat ini cadangan nikel Indonesia mencapai 5,2 miliar ton bijih dan 57 juta ton logam.

Sementara sumber daya nikel mencapai 17,7 miliar ton bijih dan 177,8 juta ton logam. Ini menjadikan Indonesia sebagai pemilik cadangan nikel terbesar di dunia, setara dengan 23% dari total cadangan global. Jika berbicara mengenai persebaran nikel yang ada di Indonesia, berdasarkan penelitiannya persebarannya tidak merata. Sebagian besar cadangan nikel berada di wilayah timur Indonesia, termsuk tambang nikel di Sorowako, Sulawesi Selatan milik PT Vale Indonesia Tbk (INCO).

Kegiatan eksplorasi pertambangan, termasuk tambang nikel selalu menyisakan masalah akan dampak kerusakan terhadap lingkungan. Pengamat menilai masalah lingkungan di kawasan tambang, baik nikel maupun lainnya masih menjadi pekerjaan rumah di dalam negeri.“Kita belum punya rekam jejak penambangan berkelanjutan. Ditambah lagi aspek penegakan hukum kita lemah terkait dengan lingkungan,” kata Novita Indri, juru kampanye Trend Asia.

Dibalik potensi industri tambang yang mendukung perekonomian negara secara signifikan masih menghadapkan tantangan soal limbah yang belum ditangani serius. Bila ini tidak ditangani, Indonesia dapat menghadapi risiko yang lebih besar. PT Vale Indonesia Tbk sejak dari awal menekankan pentingnya transformasi industri pertambangan berbasis teknologi dan praktik berkelanjutan di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah,“Bagi PT Vale, pertambangan berkelanjutan bukan hanya mengenai bagaimana kami mengelola sumber daya mineral, tetapi juga bagaimana memastikan setiap kegiatan dijalankan secara bertanggung jawab dengan memperhatikan keselamatan, lingkungan, masyarakat, dan kepentingan generasi mendatang,” kata Senior Manager Bahodopi Operations PT Vale, Sarjan Soleman.

Disampaikannya, pengelolaan sumber daya mineral perlu ditempatkan dalam kerangka yang lebih luas dengan mempertimbangkan kinerja operasional, keselamatan pekerja, perlindungan lingkungan, dan manfaat bagi masyarakat. Di Kabupaten Morowali, PT Vale memasuki tahap produksi pada 2025 setelah menjalankan persiapan dan pembangunan infrastruktur sejak 2023.

Dia mengatakan, pengembangan operasi menerapkan prinsip good mining practices, meliputi keselamatan dan kesehatan kerja, tata kelola operasional, konservasi sumber daya, reklamasi dan rehabilitasi lahan, pengelolaan keanekaragaman hayati, serta pemberdayaan masyarakat.

Disebutkan, perseroan telah menerapkan teknologi digital pada kegiatan pertambangan di Bungku Timur, Kabupaten Morowali. Salah satunya melalui Minerva, sebuah Mine Management System yang memungkinkan aktivitas dan peralatan di area operasi dipantau secara real time, mulai dari pergerakan alat dan kegiatan penambangan hingga kondisi jalan tambang.“Minerva kami terapkan agar peralatan untuk kegiatan konstruksi maupun penambangan dapat dipantau secara terintegrasi. Informasi tersebut membantu kami melihat kondisi aktual di lapangan dan mengambil keputusan berbasis data,” ujar dia.

Selain itu, PT Vale menggunakan sistem high precision pada ekskavator untuk membantu operator melakukan penggalian berdasarkan desain dan parameter teknis yang telah ditetapkan. Teknologi tersebut, kata Sarjan, meningkatkan akurasi pekerjaan, mengurangi ketergantungan pada patok survei konvensional, serta mendukung konservasi sumber daya mineral.

Digitalisasi, kata dia, merupakan bagian dari sistem pengelolaan pertambangan yang menghubungkan produktivitas dengan keselamatan, efisiensi, dan pengelolaan dampak lingkungan. Dia mengatakan, penerapan teknologi dan praktik berkelanjutan tersebut berjalan beriringan dengan kolaborasi bersama pemerintah daerah, masyarakat, karyawan, mitra kerja, dan pemangku kepentingan lainnya.“Sejalan dengan tujuan perseroan, di Morowali kami hadir untuk meningkatkan kualitas hidup dan membangun masa depan yang lebih baik, bersama. Tujuan tersebut membutuhkan keterlibatan dan kerja sama yang konsisten dari seluruh pemangku kepentingan,” ujar dia.

Chief Executive Officer (CEO) PT Vale, Bernardus Irmanto menambahkan, produk nikel Indonesia tetap perlu semakin kompetitif dari aspek jejak karbon dan penerapan prinsip ESG.‎”Bagi PT Vale Indonesia, hilirisasi dan dekarbonisasi bukanlah dua agenda yang berjalan terpisah. Keduanya perlu dijalankan secara beriringan,”ujarnya.

Disampaikannya, intensitas emisi karbon, penggunaan energi, pengelolaan lingkungan, serta praktik sosial dan tata kelola akan semakin menentukan daya saing produk di pasar global.‎”Kami integrasikan dalam kegiatan operasi dan investasi mulai dari tahapan perencanaan sampai closure,” ujar Bernardus.

 

Dekarbonisasi

Prinsip keberlanjutan menjadi bagian penting dalam pengembangan proyek-proyek pertumbuhan dan hilirisasi PT Vale. Dalam konteks pengurangan jejak karbon pada fasilitas pengolahan, salah satu fokus utama PT Vale adalah pemanfaatan sumber energi yang lebih rendah karbon. PT Vale memiliki pengalaman panjang dalam memanfaatkan energi baru terbarukan (EBT). Misalnya, pengoperasian tiga pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dengan kapasitas produksi listrik 365 megawatt (MW) untuk mendukung kegiatan operasional dan pengolahan nikel di Sorowako. ‎”Keunggulan ini menjadi fondasi penting dalam upaya menekan intensitas emisi dari kegiatan produksi,” tutur Bernardus.

Selain itu, PT Vale sedang mengimplementasikan inisiatif dekarbonisasi melalui peningkatan efisiensi energi dan operasional (waste heat recovery). PT Vale juga sedang penerapan teknologi yang lebih efisien dalam konsumsi energi, penggunaan biomassa untuk menggantikan minyak dan batubara, serta pengembangan proyek dengan mempertimbangkan aspek emisi sejak tahap perencanaan.‎”Kami juga terus mengevaluasi peluang penggunaan energi dan teknologi yang lebih rendah karbon, seperti HPAL (High-Pressure Acid Leach), sesuai dengan karakteristik masing-masing proyek dan perkembangan teknologi yang tersedia,” ucapnya.

‎Diketahui, smelter HPAL adalah fasilitas pengolahan dan pemurnian bijih nikel menggunakan teknologi hidrometalurgi dengan bantuan asam sulfat bertekanan maupun suhu tinggi. Fasilitas ini bertujuan mengolah bijih nikel kadar rendah (limonit) menjadi produk akhir berupa MHP (Mixed Hydroxide Precipitate), yang menjadi bahan baku utama untuk baterai EV. ‎Berdasarkan riset Transisi Bersih berjudul Menghijaukan Hilirisasi Nikel (2025), intensitas emisi perusahaan-perusahaan nikel besar di Indonesia mencapai 57–70 ton CO2 per ton nikel, jauh di atas rata-rata global (45 ton).

Ya, besarnya jejak karbon produk dari mayoritas industri pengolahan dan smelter nikel di Indonesia disebabkan penggunaan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) captive berbasis batu bara untuk memenuhi kebutuhan energi utama. ‎Ini sangat kontras dengan PT Vale Indonesia 29 ton CO2 per ton nikel karena sudah menggunakan EBT. PT Vale menunjukkan pemanfaatan EBT pada smelter nikel bisa mengurangi emisi hingga 55 persen pada produk akhir.

Selain itu, dikatakan Bernardus, perseroan berkomitmen besar menjaga keseimbangan antara pertumbuhan industri dan keberlanjutan lingkungan. Tengok saja, berbagai upaya pengelolaan lingkungan telah dijalankan perusahaan, mulai dari pengembangan nursery, rehabilitasi dan reklamasi lahan, pengelolaan sediment pond, hingga berbagai program pelestarian lingkungan lainnya. Langkah ini menjadi komitmen perusahaan dalam memastikan kegiatan operasional berjalan seiring dengan upaya perlindungan lingkungan.

Di tengah hamparan area operasional PT Vale, fasilitas nursery menjadi representasi nyata dari komitmen tersebut. Lebih dari sekadar sarana pembibitan, fasilitas ini merupakan bagian dari pendekatan jangka panjang perusahaan dalam mengintegrasikan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan (Environmental, Social, and Governance atau ESG) ke dalam seluruh siklus bisnisnya. Melalui berbagai inisiatif tersebut, PT Vale berupaya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan industri, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat.

Membangun Kemandirian Ekonomi

Komitmen perseroan dalam pemberdayaan masyarakat juga ditunjukkan dengan pendampingan terhadap petani nanas dalam memanfaatkan lahan kritis menjadi produktif di desa Tabarano, Kecamatan Wasuponda. Hal inilah yang dirasakan wanita paruh bayah petani nanas di desa tersebut,“Dari berkebun nanas saya bisa menghidupkan kebutuhan dapur di rumah dan tambahan jajan buat anak,”ujarnya.

Meskipun bukan milik kebun pribadi dan hanya memanfaatkan lahan milik BUMDES seluas lima hektar yang dikelolanya bersama 12 orang lainnya, kehidupannya sangat bergantung dari berkebun nanas. Pasalnya, dari berkebun tersebut berhasil mengubah kehidupannya dari sebelumnya hanya pengangguran, kini bisa berdaya dan menghasilkan uang dari hasil penjualan nanas hingga turunannya.”Berkat jadi petani nanas, ada tambahan penghasilan dibandingkan sebelumnya hanya menganggur,”ujarnya.

Dibalik kegiatan berkebun nanas dan hasilnya yang mampu menopang penghasilan para suami, ada semangat pemberdayaan masyarakat rentan, lahirnya ibu rumah tangga yang kini berpenghasilan dan juga lahir kesadaran gotong royong dan persatuan. Hal ini sangat beralasan karena lahan yang kini jadi kebun nanas dahulu adalah lahan gersang langganan kebakaran mampu diubah menjadi lahan yang memiliki nilai ekonomi dan mampu memberdayakan ekonomi masyarakat setempat. Bahkan kedepan lahan yang dulunya tandus bakal disulap menjadi agrowisata sebagai wisata edukasi nanas di desa Tabarano.

Perjalanan petani desa Tabarano Wasuponda tidak selalu mulus. Banyak tantangan dihadapi sebelum akhirnya kebun itu bisa menghasilkan buah nanas yang manis. Kala itu banyak keraguan dari berbagai pihak, bagaimana mungkin lahan kritis bisa hidup nanas. Namun akhirnya keraguan itu perlahan memudar, berubah menjadi gotong royong dan perputaran perekonomian desa yang berkelanjutan.

Maka tak heran bagi warga desa Tabarano Wasuponda, kebun nanas ini bukan sekadar ladang penghidupan, tapi simbol kebangkitan tentang bagaimana dari tanah tandus, mereka benar-benar bangkit bersama. Tak hanya sektor tani yang bergerak, produk turunan nanas pun menjadi nilai ekonomi bagi para kelompok pengelola yang kebanyakan ibu rumah tangga mulai memproduksi selai, dodol, asinan, sirup, hingga keripik nanas dengan merek Pondata.“Dulu kami hanya di rumah, sekarang punya kegiatan dan penghasilan tambahan. Ilmu baru juga kami dapat, seperti membuat dodol dan sirup nanas,” kata salah satu anggota kelompok sambil tersenyum.

Sementara Kepala Dusun sekaligus Ketua Kelompok Budidaya Nanas Ponda’ta, Yohanis Gusti menyebut, sepanjang lahan kebun nanas itu beroperasi, mereka sudah menghasilkan dua kali periode panen. Panen pertama sebanyak 300 kilogram, dan panen kedua sebanyak 700 kilogram. Dari hasil itu, Yohanis Gusti tidak menampik banyaknya permintaan dari luar wilayah.

Namun diakuinya, pemasaran masih di sekitar Wasuponda, membuat olahan nanas, hingga untuk memenuhi permintaan dari PT Vale.“Sebenarnya banyak permintaan dari luar, dan juga kita sebar ke ritel moderen. Namun ini masih cukup untuk memenuhi bahan baku pembuatan produk turunan dan dipasarkan sekitar wilayah Wasuponda,” kata Yohanis Gusti.

Disampaikan Yohanis, rata-rata bobot nanas mencapai 4 kilogram per buah, dan ada yang bisa menembus 7 kilogram. Semua dikelola tanpa bahan kimia. “Kami 100% organik. Pupuknya dari kompos, pestisidanya dari bahan alami sekitar kebun. Kami juga bikin rumah kompos dan rumah magot untuk mendukung keberlanjutan,”ujar Yohanis.

Sejak awal, kebun nanas Ponda’ta dirawat secara organik, tidak diberikan pestisida atau bahan kimia lain untuk menghasilkan nanas yang sehat dan segar.“PT Vale sangat membantu kami sehingga jadilah seperti ini.  Ada pendampingan, ada pemetaan. Mulai dari pengadaan bibit, pendampingan budidaya-pengolahan, pembangunan fasilitas air, dan tahun ini rencananya pembuatan rumah produk, pengolahan kompos, budidaya maggot, dan nursery,” kata Yohanis.

Senior Coordinator PTPM Livelihood PT Vale, Sainab Husain Paragay mengatakan, sejak awal program itu digulirkan memang memerlukan kajian mendalam. Alasannya, pengelolaan lahan kritis tidak mudah. Pada periode 2019-2022, lanjutnya, lokasi itu sering menjadi langganan kebakaran lahan yang notabenenya berdekatan dengan pemukiman warga. Setidaknya ada tiga sampai empat kali lahan di lokasi itu mengalami kebakaran ketika musim kemarau.

Sainab yang juga warga asli Desa Tabarano mengatakan, kebun nanas Ponda’ta hadir juga punya dasar sejarah wilayah. Wasuponda dalam bahasa padoe berarti “nanas yang tumbuh di atas batu”. Secara karifan lokal, wilayah itu memang memiliki banyak tanaman nanas.“‎Dari sana ide untuk menanam nanas, karena tanaman ini secara ilmiah dapat tumbuh di lahan kritis – tanaman yang resilien, ketahanannya sangat tinggi, tidak butuh air yang banyak untuk bisa hidup,” katanya.

Dari dasar kajian PT Vale dan sejarah wilayah itu, mereka menemukan kesimpulan untuk mengelola tanaman nanas. Dan ternyata berhasil.“‎Kemudian, dari ribuan nanas yang kita tanam – dipikirkan juga untuk membuat produk turunannya, karena nanas ketika satu sampai dua hari tidak dikonsumsi akan busuk. Kita jadikan nanas tadi menjadi selai, dodol, dan produk lainnya,”ujar Sainab.

Langkah PT Vale dan warga Tabarano ini berpotensi menjadi inspirasi bagi daerah lain yang memiliki lahan kritis. Dengan perencanaan matang, keterlibatan masyarakat, serta dukungan teknologi dan pelatihan, lahan tidak produktif bisa disulap menjadi aset ekonomi baru. Lebih dari itu, program ini menunjukkan bahwa upaya menjaga lingkungan tidak harus mengorbankan aspek kesejahteraan. Justru, keduanya bisa berjalan beriringan apabila ada kolaborasi yang solid.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Danantara Indonesia, Rosan P. Roeslani mengapresoasi langkah yang telah dilakukan PT Vale Indonesia Tbk. Dirinya menegaskan, pentingnya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan industri dan keberlanjutan lingkungan.”Saya sangat senang dan berbahagia dapat melihat langsung lokasi PT Vale di Morowali. Hal yang paling saya perhatikan adalah bagaimana aspek sustainability yang menjaga keseimbangan antara lingkungan dan sosial sangat diperhatikan di sini. Kita melihat adanya fasilitas pembibitan, serta penerapan best mining practices dengan standar internasional. Harapannya, hal tersebut dapat terus dijaga,” ujar Rosan.

Di tengah dorongan hilirisasi untuk menciptakan nilai tambah di dalam negeri, aspek keberlanjutan menjadi fondasi penting agar pertumbuhan ekonomi dapat berlangsung secara inklusif dan bertanggung jawab. Rosan menekankan bahwa industri yang kuat adalah industri yang mampu bertumbuh bersama lingkungan dan masyarakat di sekitarnya.”Yang tidak kalah penting adalah bagaimana kita menjaga keselarasan dari segi bisnis itu sendiri, baik dari aspek ESG maupun dari sisi masyarakat di sekitarnya. Dengan begitu, investasi yang masuk dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan, bukan hanya bagi perusahaan tetapi juga bagi daerah dan masyarakat,” tandasnya.

Artikulli paraprakBAZNAS dan ICMI Jajaki Kerja Sama Program Inovasi Lingkungan Hingga Riset

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini