Berdiri di kaki sendiri dengan bekerja sama orang di warung soto mie Bogor menjadi tekad Pepen Supendi (52), memulai hidupnya merantau dari Bogor ke Ciputat Tangerang Selatan pada tahun 1995. Tak ada yang dibawa selain semangat dan modal kerja keras, apalagi ijazah yang merupakan hanya lulusan SMP. Namun keinginannya membawa perubahan ekonomi dan membanggakan orang tua di kampung menjadi semangatnya pantang menyerah.
Tepatnya pasca tragedi 1998 yang melumpuhkan ekonomi bangsa ini menjadi titik balik kehidupannya untuk memulai usaha sendiri soto mie Bogor dengan berbekal pengalaman dan juga resep warisan orang tua,”Dari kerja sama orang, saya beranikan diri buka usaha sendiri dengan modal awal dulu Rp30 ribu buat bahannya dan ama gerobak bisa Rp200 ribu,”ujarnya kepada Neraca.
Beberapa kali mangkal di pasar Ciputat, Pepen, pada akhirnya bertahan di pinggir jalan di depan toko kue Sido Muncul. Tak ada tempat usaha yang besar dan istimewa, tapi hanya bernaung tenda terpal menjadi denyut nadi ekonomi keluarganya dengan jualan soto mie Bogor. Ya, kebanyakan mereka pelanggan adalah para supir angkot ataupun pejalan kaki.
Selalu menjaga cita rasa dan harga yang terjangkau menjadi magnet orang selalu kembali makan soto mie Bogor miliknya. Maman (45), salah satu pelanggan mengatakan, makan sato mie di sini sudah menjadi wajib kalau ke Ciputat, selain harga terjangkau juga citra rasanya terjaga,”Kalau disini harus siang kalau sore sudah kehabisan,”ujarnya.
Hal yang sama juga disampaikan Didi (44), supir angkut Parung menuturkan, selepas bawa penumpang selalu sempatkan makan siang di sini.”Meski jajanan receh tapi rasa tidak recehan,”katanya.

Seiring berjalannya waktu, Pepen Supendi menambah cabang usaha Soto Mienya di Bogor dan juga di depan masjid Agung Al Jihad. Maka untuk menambah modal, kehadiran Bank Rakyat Indonesia (BRI) menjadi tumpuannya agar pedagang kecil seperti dirinya bisa berkembang dan naik kelas.
Perkenalannya dengan BRI juga dibantu tetangga rumahnya yang kebetulan berdagang dan di referralkan. Singat cerita, matri BRI langsung datang tanpa proses ribet berbelit,”Hari ini datang dan survei, besok langsung datang ke cabang untuk pencairan dana,”tuturnya.
Menjangkau luasnya BRI hingga ke pelosok dan termasuk pedagang kecil seperti dirinya, dirasakan betul dampak terhadap usahanya. Meskipun dirinya juga selalu rajin didatangi rentenir dengan janji proses cepat pinjaman, namun tak membuatnya berubah pikiran.
Bapak empat anak ini mengungkapkan, sudah empat kali pinjaman kredit usaha rakyat (KUR) BRI. Pertama, sebesar Rp20 juta, naik menjadi Rp35 juta, lalu Rp75 dan terakhir Rp35 juta.”Semua pinjaaman KUR digunakan untuk tambah modal dagang, termasuk buka cabang,”ujarnya.
Berkah dari ramai usahanya berdagang dan didukung dari BRI, Pepen bisa membawa kehidupan keluarga kecilnya lebih baik. Selain bisa renovasi rumah di kampung juga mampu sekolahkan anak hingga perguruan tinggi.”Dengan omset sehari Rp1,2 juta saya bisa sekolahkan anak hingga perguruan tinggi dan mampu menabung,”tuturnya.
Kedepan, Pepen mempunyai target dari usahanya bisa menyewa kios atau bahkan membeli. Tentu saja, dukungan dan pinjaman BRI masih tetap diandalkan.
Realisasi KUR BRI
Direktur Utama BRI, Hery Gunardi mengatakan, pihaknya telah menyalurkan KUR senilai Rp 178,08 triliun kepada 3,8 juta debitur sepanjang 2025. Capaian tersebut melampaui target KUR yang diamanatkan Kementerian Koperasi kepada BRI senilai Rp 175 triliun. “BRI mengambil peran strategis untuk mendukung pelaksanaan berbagai program prioritas pemerintah. BRI ini memang dari dulu adalah backbone-nya untuk penyaluran kredit usaha rakyat,” ujarnya.
Sementara realisasi penyaluran KUR BRI yang sepanjang Januari hingga Mei 2026 telah mencapai Rp84,36 triliun atau setara 46,87% dari total alokasi KUR tahun 2026 sebesar Rp180 triliun. Sebagai bank yang fokus pada pemberdayaan UMKM, BRI secara konsisten memperluas akses pembiayaan bagi pelaku usaha di berbagai daerah guna mendorong peningkatan produktivitas, menciptakan lapangan kerja, serta memperkuat sektor riil yang menjadi fondasi perekonomian nasional.
Kata Direktur Mikro BRI, Akhmad Purwakajaya, mayoritas penyaluran tersebut diarahkan ke sektor-sektor produktif yang memiliki dampak langsung terhadap aktivitas ekonomi masyarakat, dengan porsi mencapai 67,18% dari total KUR yang telah disalurkan,” ujar Akhmad.






































