Beranda UMKM Mengadopsi Transaksi Digital Membawa Bubur Aconk Naik Kelas

Mengadopsi Transaksi Digital Membawa Bubur Aconk Naik Kelas

21
0

Di saat matahari belum menunjukkan wujudnya, aktivitas masyarakat belum ramai, namun Ero (48), sudah disibukkan menjajakan dagangan buburnya dari jam 3 dini hari untuk pelanggan setianya menyantap sarapan bubur. Dibantu sang istri dan satu karyawannya, mereka semua berbagi tugas. Mulai menyiapkan mangkok, bumbu hingga kursi dan meja ditata rapih. Ya, rutinitas ini dilakukan tiap hari demi dapur rumahnya selalu “ngebul” .

Bapak tiga anak ini mengatakan, biasaya di hari Minggu, jumlah pembeli akan lebih banyak dari hari biasanya. Makanya, stok masak bubur dilebihkan,”Kalau hari biasanya masak 10 liter, maka weekend bisa 14 liter beras. Bahkan itu juga suka gak kebagian pembeli,”ungkapnya kepada Neraca di Jakarta, kemarin.

Pada dasarnya dagangan bubur yang dijajakannya sama seperti pedagang bubur lainnya, namun cita rasa warisan dari orang tua, kualitas beras yag terus dikontrol menjadi kuncinya. Selain itu, pelayanan yang ramah hingga harga yang terjangkau juga menjadi alasan orang selalu kembali beli bubur di sana atau menjadi pelanggan setia. Seporsinya dijual Rp13 ribu dan ditambah menu sate lainnya seharga Rp3000 pertusuk, cukup ramah di kantong.

Ero biasa dipanggil bang Aconk, masyarakat Ciputat sudah hafal betul jajanan bubur yang murah meriah dan lokasinya tepat di depan SDN 1 Ciputat. Begitu ramainya pembeli, pernah suatu hari dagangannya masuk konten youtuber dan makin viral.

Dibalik ramainya pembeli, Aconk punya cerita sendiri usahanya yang saat ini bisa dibilang stabil, dahulu dibangun dengan jerih payah atau istilahnya berdikari atau berdiri di kaki sendiri. Pria lulusan SMP ini merantau ke Jakarta pada tahun 1995, mengikuti jejak sang ayah yang sudah lama merantau ke Jakarta berdagang bubur kacang ijo di Grogol Jakarta Barat.

Di Jakarta, selain bapaknya yang sudah lama merantau juga ada paman yang berdagang bubur ayam. “Sembari membantu paman dagang bubur, sorenya saya dagang rokok di lampu merah Tomang,”ceritanya.

Kemudian di tahun 1996, berpindah ke Ciputat berdagang somay kerja sama bibi. Namun tak berselang lama, tepatnya di tahun 1997, memberanikan usaha dagang warkop di Ciputat yang langsung dimodali dari bapaknya sebesar Rp3 juta. Namun nasib berbeda, kondisi krisis ekonomi yang melanda Indonesia kala itu, memaksa usahanya gulung tikar.

Tak putus asa, Acong kembali memulai usaha berdagang bubur keliling di Ciputat di tahun 2000 hingga akhirnya mampu sewa gerai di tahun 2017 karena usahanya mulai ramai pembeli. Mengawali dari dagangan gerobak di pasar Ciputat, hingga kini memilki gerai sendiri tak lepas dari dukungan PT Bank Rakyat Indonesa (BRI) yang mensuport pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) seperti dirinya bisa naik kelas.

 

Dampak Nyata BRI Bagi UMKM

Kata Aconk, akses permodalan dari BRI membawa usahanya yang jatuh bangun kembali bangun hingga akhirnya punya gerai sendiri. “Meski sewa, dengan gerai sendiri lebih tenang gak perlu lagi takut digusur ama satpol PP,”katanya.

Perkenalnya dengan BRI terjadi di tahun 2020, dimana Acong mendapatkan pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp150 juta. Lantaran berhasil dilunasi, kembali ditop up sebesar Rp100 juta.”Dana yang dipinjam, digunakan untuk pengembangan usaha bubur. Alhamdulilah, seiring dengan larisnya penjualan bisa mengantongi omset sehari Rp2 juta dan weekend capai Rp3 juta,”ujarnya.

Dukungan BRI terhadap usahanya, kata pria asal Kuningan ini, memberikan dampak nyata pada ekonomi keluarga dan termasuk usahanya naik kelas. Bila di awal menjajakan dagangan bubur dengan gerobak keliling, kini sudah punya gerai sendiri dan bahkan terdaftar ke menu di aplikasi GoFood.”Orang yang malas datang ke sini, bisa order lewat online,”tuturnya.

Selain itu, berkat usaha dagangannya bisa menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi negeri dan bisa memenuhi kebutuhan keluarga. Bila ada cerita sinetron, tukang bubur naik haji, maka lain ceritanya bagi Acong, tukar bubur yang berhasil merubah nasib keluarga dari merantau ke Jakarta yang tadinya ngontrak rumah bisa memiliki rumah luas dan nyaman.

Kedepan, dirinya memiliki target dan impian bisa menambah usaha sendiri dengan membuka warung sembako, disamping memiliki gerai sendiri. Oleh karena itu, dirinya tak pernah putus asa ketika usahanya dihadapkan berbagai hambatan karena jiwa berdagangnya yang sudah dipupuk saat lulus sekolah SMP hingga membuatnya tahan banting.

Tak hanya itu, kata Aconk, banyaknya pengunjung karena gerai tokonya juga beradaptasi dengan kekinian dan salah satunya pemanfaatan pembayaran transaksi digital lewat QRIS guna memudahkan pelanggan tak perlu lagi repot harus kembalian. “Kebanyakan anak muda, beli bubur pakai QRIS BRI dan ini bantu saya juga tak lagi report siapkan uang receh,”tandasnya.

Rahmat (30), pelanggan bubur Bang Aconk ini mengatakan, biasa sarapan bubur disini, selain rasanya yang lezat, harga kaki lima juga pembayaran fleksibel bisa dengan uang tunai ataupun dengan QRIS,”Saya lebih nyaman pakai QRIS, meski nilai nominalnya tidak besar. Namun kepraktisan menjadi alasan pilih bayar QRIS,”ujarnya.

Menurutnya, di era digital saat ini dengan segala sesuatu transaksi cukup melalui smartphone bukan lagi sebagai gaya hidup tetapi juga kebutuhan.”Wah repot kalau pedagang gak ada pembayaran QRIS, apalagi gen Z dan milenial sekarang semua transaksi, dimanapun dan kapanpun lewat smartphone,”jelalsnya.

Oleh karena itu, dirinya sebelum jajan kulineran pasti ditanya dulu bisa bayar QRIS atau tidak. Alasannya, tidak terbiasa selalu bawa uang kas, apalagi jumlah besar. Hal ini dilakukan demi keamanan juga membiasakan segala sesuatu bayar dengan transaksi digital. Bank Indonesia (BI) melaporkan volume transaksi pembayaran digital sampai kuartal I 2026 tumbuh 37,69% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi 14,82 miliar transaksi, didukung oleh perluasan akseptasi pembayaran digital.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyebutkan volume transaksi melalui aplikasi mobile dan internet masing-masing tumbuh sebesar 11,82% (yoy) dan 17,13% (yoy).”Termasuk transaksi QRIS yang tumbuh mencapai 116,43% (yoy). Kinerja tersebut didukung oleh peningkatan jumlah pengguna dan merchant,” ujar Perry Warjiyo.

Dari sisi infrastruktur, lanjut dia, volume transaksi ritel yang diproses melalui BI-FAST mencapai 1,4 miliar transaksi atau tumbuh 30,82% (yoy) dengan nilai transaksi sebesar Rp 3.519 triliun pada triwulan I 2026. Kendati demikian, volume transaksi nilai besar yang diproses melalui BI-RTGS tercatat tumbuh melambat -0,2% (yoy) menjadi 2,46 juta transaksi, di tengah nominal transaksi BI-RTGS yang tetap tumbuh 11,26% (yoy) mencapai Rp 51.490 triliun pada triwulan I 2026.

Artikulli paraprakDukungan KUR BRI, Juragan Ikan Brothers Sukses Bawa Ekspor Hingga Pasok MBG
Artikulli tjetërAda Ruang Digital Dibalik Geliat Pedagang Daging Pasar Ciputat

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini