Di minggu pagi ceria, sinar matahari sudah menunjukkan wujudnya dan udara masih sejuk, banyak aktivitas masyarakat dilakukan warga RW.04 Kelurahan Poris Gaga Baru, Kecamatan Batuceper, Kota Tangerang Banten. Mereka mulai dari anak kecil, dewasa hingga orang tua melakukan berbagai kegiatan mulai dari olah raga, bermain hingga berbincang ringan di lapangan terbuka hijau tempat fasilitas umum (fasum) bagi warga untuk bercengkrama. Suasananya yang rindang, masih banyak ditumbuhi pohon besar dan terlebih ada taman bermain menjadi pilihan warga setempat untuk beraktivitas di luar rumah.
Hebatnya lagi, disamping lapangan ada kebun seluas 350 meter yang ditumbuhi beragam tanaman produktif yang makin membuat pandangan sejauh mata memandang menjadi segar layaknya berada di sebuah desa kecil yang tenang. Di kebun yang dikelola Kelompok Wanita Tani (KWT) Mawar 8 yang anggotanya warga setempat, menjadi oase di tengah padat hunian akan nilai ekonomi berkebun dan juga dampak positifnya. Pasalnya, warga yang membutuhkan sayuran bisa langsung beli tanpa harus lagi ke pasar.
Lisna (28), ibu dua anak ini merasakan betul kehadiran KWT ini. Lantaran, dirinya tak perlu lagi repot beli sayuran ke pasar dan cukup lima langkah nyebrang dari rumahnya.”Saya beli sayuran caisim atau sawi hijau, kacang panjang, kangkung, seledri, kemangi dan kembang kol disini, selain segar langsung dipanen dari kebun juga praktis. Bahkan bisa dianter ke rumah,”katanya.
Soal harga, menurutnya tidak menjadi masalah, yang penting barangnya segar dan berkualitas. Kemudahan lainnya, kata Lisna, disini kita bisa order panen ke anggota KWT ataupun sayuran lainnya.”Biasanya di grup whatshap warga, anggota KWT menginfokan panen sayuran apa hari ini dan juga sayuran yang bakal ditanam,”ungkapnya.
Kata Ketua KWT Mawar 8, Yuliana Sri Prihantini atau dipanggil Yustin, keberadaan KWT ini berawal dari pemanfaatan lahan fasum yang tidak dioptimalkan dari pengembang untuk dijadikan lahan produktif dan bernilai ekonomi bagi warganya.”Dulu disini belum rapih, masih banyak semak belukar dan pohon besar. Makanya, hadirnya KWT ditata rapih menjadi kebun mini yang produktif. Terlebih kala itu, pandemi Covid 19 menjadi sarana warga untuk berkebun agar sehat,”tuturnya.
Kawasan yang dulu dipenuhi semak belukar dan kerap tergenang banjir itu kini menjadi simbol tumbuhnya semangat baru warga dalam bertani di tengah kota (urban farming). Tak banyak yang menyangka, kebun kecil ini lahir dari masa sulit yang pernah membuat orang-orang takut keluar rumah. Pada 2021, ketika pandemi Covid-19 mengurung aktivitas masyarakat, lahan fasum ini hanyalah tanah kosong yang telantar dan kumuh.
Kala itu, tanaman konvensional menjadi pilihannya seperti kangkung, sawi, bayam hingga buah kundur yang paling terkenal di KWT Mawar8 lantaran mampu produksi sampai ratusan kilo. Bahkan panennya setahun bisa tiga dikali panen. Namun banjir di tahun 2024 yang menyebabkan kerugian, seperti bibit hanyut, tanaman rusak hingga tanah tidak terpakai. Kondisi inilah membuat KWT diperkenalkan cara berkebun dengan hidroponik dari Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kota Tangerang.
Selain bantuan, bibit, fasilitas dan infrastruktur tanaman hidroponik juga ilmu bertanam hidroponik, kendati bertanaman konvensional tetap dilakukan. Seiring berjalannya waktu, tanaman hidpronik inilah yang lebih diandalkan karena hasil panennya bagus. Melihat dampak potensi ekonomi bagi warga, mendorong PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) terlibat untuk memberdayakan masyarakat lebih luas lagi.
Melalui program CSR BRI Peduli bertajuk BRInita (BRI Bertani di Kota) pada periode September-Oktober 2025 lalu, KWT Mawar 8 menerima bantuan sebesar Rp150 juta yang digunakan untuk memperbaiki kondisi lahan, mulai dari pengurukan area menggunakan tanah merah, penambahan instalasi hidroponik, hingga penyediaan fasilitas penunjang agar kegiatan bertani lebih nyaman dan tertata.“Walau kita ada subsidi dari RW sebesar Rp300 ribu perbulan, dukungan dan bantuan BRI sangat membantu KWT Mawar 8 agar berkebun lebih maksimal lagi,”kata Yustin.
Menjadi Tempat Healing
Lie Vonny, anggota Kelompok Wanita Tani Mawar 8 menambahkan, bantuan BRI membuat kegiatan KWT Mawar 8 lebih dianggap pihak pemerintah karena produktif. Padahal dulu, KWT Mawar 8 kehadirannya tidak pernah dianggap dan bahkan sempat dicabut kembali bantuan dari DKP,”Fasilitas hidroponik diancam mau ditarik kembali dan diberikan KWT lainnya karena disini anggotanya tidak aktif,”tuturnya.

Namun dukungan BRI membuat KWT Mawar 8, tidak hanya produktif tapi mengahasilkan uang kas hasil penjualana yang tadinya zero menjadi meraup cuan. Kalau dulu, belanja operasinal dari pribadi dengan menjual hasil kebun yang tidak maksimal, kini belanja operasional murni hasil penjualan sayuran hasil panen.
Disampaikan wanita kelahiran Singkawang ini, kegiatan berkebun menjadi healingnya di tengah kesibukan menjadi ibu rumah tangga,”Pagi selepas ngurus suami berangkat kantor dan anak siap sekolah, langsung ke kebun hingga jam 5 sore dan ini cara saya healing ketimbang pergi ke mall,”ujarnya.
Kendati tidak menjadi penghasilan utama, menurutnya punya kepuasan sendiri bisa panen sayuran bagi warga sini. Bahkan ibu dua anak ini memiliki standar tinggi akan kualitas panen sayurannya. Dimana dirinya menjamin, sayuran yang dipanen dari hidroponik bebas pestisida, dijaga kesegarannya dan pastinya sehat. Makanya sayuran disini, kata Lie Vonny, harga jualnya lebih mahal dari harga di sayuran di pasar, seperti sawi hijau dijual Rp10 ribu perkilonya,”Sayuran yang kita tanam dirawat higienis, bahkan airnya gunakan air ledeng dan ketika dijual dicuci kembali,”ungkapnya.
Saat ini, penghasilan dari berkebun ini mampu menghasilkan penjualan sebesar Rp1,5 juta perbulan dan ditargetkan bisa Rp3 juta perbulan serta bisa panen tiap minggunya. Selain itu, mantan guru ini mempunyai impian, panen sayuran KWT Mawar 8 bisa masuk pasar swalayan dan menjadikan KWT Mawar 8 menjadi tempat agrowisata dan tempat edukasi berkebun. Semoga.






































