Jakarta, Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (ASMINDO) menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat kemitraan dagang berbasis keberlanjutan dengan eksportir kayu keras Amerika Serikat yang tergabung dalam American Hardwood Export Council (AHEC), sebagai tindak lanjut penandatanganan Agreement on Reciprocal Tariff (ART) antara Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat pada 18 Februari 2026.
Komitmen ini tetap dijalankan meskipun Mahkamah Agung Amerika Serikat kemudian membatalkan kebijakan tarif resiprokal, karena kerja sama tersebut dinilai memiliki nilai strategis jangka panjang bagi penguatan rantai pasok global industri furnitur dan kerajinan berbasis kayu kedua negara. Ketua Umum ASMINDO, Dedy Rochimat, sekaligus menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Indonesia yang telah berhasil merampungkan perjanjian ART dengan Amerika Serikat.

Menurutnya, kesepakatan tersebut merupakan langkah penting dalam membuka akses perdagangan yang lebih kompetitif bagi produk furnitur nasional di pasar Amerika Serikat serta memperkuat hubungan dagang kedua negara.
Ketua Umum ASMINDO, Dedy Rochimat, menegaskan bahwa kemitraan dengan anggota AHEC berorientasi pada peningkatan daya saing dan volume ekspor produk furnitur dan kerajinan Indonesia di pasar global, khususnya Amerika Serikat, tanpa menggeser peran kayu domestik sebagai bahan baku utama industri nasional.
Menurutnya, pemanfaatan American hardwood diposisikan sebagai alternatif bahan baku berkualitas yang mampu memperkaya variasi material, meningkatkan kualitas produk, serta memenuhi preferensi desain dan standar pasar internasional bernilai tinggi. Selanjutnya Dedy Rochimat berkeyakinan bahwa bahan baku ini akan dapat dimanfaatkan oleh IKM dan Industri nasional kita untuk meningkatkan daya saing mereka.
“Kolaborasi ini berbasis prinsip keberlanjutan dan kepatuhan legal, serta bertujuan memperkuat rantai nilai Indonesia–Amerika, bukan menggantikan kayu domestik. Yang diimpor adalah bahan baku, sementara nilai tambah manufaktur, desain, dan ekspor tetap dilakukan di Indonesia,” ujar Dedy Rochimat.

Lebih lanjut, Dedy menjelaskan bahwa selama ini belanja industri furnitur Indonesia terhadap American hardwood diperkirakan mencapai sekitar USD 30 juta per tahun. Dengan adanya ART yang diharapkan dapat mendorong peningkatan ekspor mebel Indonesia ke pasar Amerika Serikat melalui akses perdagangan yang lebih kompetitif, kebutuhan bahan baku hardwood Amerika juga diproyeksikan meningkat secara signifikan hingga sekitar USD 100 juta dalam beberapa tahun ke depan.
Peningkatan ini dinilai sebagai konsekuensi logis dari pertumbuhan produksi furnitur ekspor Indonesia yang menggunakan kombinasi kayu lokal dan kayu keras impor premium untuk segmen pasar menengah-atas dan premium.
“Dengan demikian tercipta hubungan dagang yang saling menguntungkan atau win-win solution antara Indonesia dan Amerika Serikat. Ekspor furnitur Indonesia meningkat, kapasitas manufaktur nasional menguat, dan pada saat yang sama permintaan terhadap kayu keras Amerika juga tumbuh,” jelasnya.
Melalui kemitraan ini, kedua pihak menjajaki penggunaan kayu keras Amerika pada berbagai kategori produk seperti solid wood furniture, komponen interior, serta kerajinan kayu berorientasi ekspor ke pasar Amerika Serikat, Eropa, dan lokal pada segmen premium global. Kerja sama ini juga mencakup pertukaran informasi spesies dan standar kualitas hardwood Amerika, dialog teknis terkait pengolahan dan keberlanjutan, serta fasilitasi jejaring bisnis antara eksportir Amerika dan produsen furnitur anggota ASMINDO di Indonesia.
Tahap awal implementasi kemitraan difokuskan pada penjajakan pasar, peningkatan pemahaman teknis material, dan pembentukan fondasi rantai pasok jangka panjang yang transparan, legal, dan berkelanjutan. ASMINDO memandang langkah ini sebagai bagian dari strategi memperkuat posisi Indonesia tidak hanya sebagai basis produksi furnitur dunia, tetapi juga sebagai pusat manufaktur furnitur bernilai tambah tinggi yang terintegrasi dalam jaringan pasok global.
“Indonesia tidak hanya ingin menjadi basis produksi, tetapi menjadi pusat manufaktur bernilai tambah tinggi yang berbasis keberlanjutan dan kemitraan global,” tutup Dedy Rochimat.


































