Beranda Ekonomi Daerah Krueng Aceh Jadi Contoh Mitigasi Banjir

Krueng Aceh Jadi Contoh Mitigasi Banjir

52
0

NERACAONLINE- Tanggul dan kanal pengalih banjir di sepanjang Sungai Krueng Aceh menjadi salah satu infrastruktur yang berperan dalam melindungi kawasan permukiman dari ancaman banjir. Sistem yang dibangun sejak beberapa dekade lalu itu dinilai dapat menjadi pembelajaran bagi daerah lain dalam memperkuat mitigasi bencana. Keberadaan infrastruktur tersebut menjadi perhatian Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Wilayah Aceh dalam peninjauan sistem pengendali banjir di Kabupaten Aceh Besar.

Eko Subekti dari Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) Inspektorat Jenderal Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), yang mewakili Ketua Satgas PRR Wilayah Aceh, Imran, menilai sistem pengendalian banjir di kawasan tersebut dapat menjadi referensi bagi daerah lain. Dalam peninjauan lapangan, Eko menyoroti pentingnya pembangunan infrastruktur mitigasi yang memberikan perlindungan jangka panjang bagi masyarakat.”Pengerjaan tanggul yang sudah dilakukan di Kabupaten Aceh Besar ini nantinya merupakan bahan percontohan untuk kabupaten lain dalam rangka mitigasi bencana banjir,” ujar Eko di Aceh Besar, kemarin.

Sistem pengendali banjir Krueng Aceh terdiri atas tanggul dan kanal pengalih aliran banjir atau floodway. Infrastruktur ini dirancang untuk membagi aliran air antara sungai utama dan kanal pengalih sehingga dapat mengurangi beban debit sungai yang melintasi kawasan permukiman.

Sementara Kepala Bidang Irigasi, Sungai, Rawa, dan Pantai pada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Aceh Besar, Mukhtaruddin, menjelaskan bahwa kawasan di sekitar Sungai Krueng Aceh sebelumnya kerap dilanda banjir. Dalam setahun, banjir bahkan dapat terjadi hingga tiga kali dan menggenangi permukiman warga.

Kondisi tersebut mendorong pemerintah membangun kanal pengalih banjir untuk mengurangi risiko luapan air ketika debit sungai meningkat.”Sebelumnya itu tiga kali setahun, sering berulang. Kemudian oleh pihak pusat dibuat floodway, istilahnya pengalih banjir, yang dimulai dari rekayasa tahun 1986 dan tuntas pelaksanaan konstruksinya tahun 1993,” jelas Mukhtaruddin.

Melalui sistem tersebut, aliran banjir dibagi antara sungai eksisting dan kanal pengalih. Kapasitas pengendaliannya dirancang mencapai sekitar 1.300 meter kubik per detik, dengan pembagian 400 meter kubik per detik melalui sungai eksisting dan 900 meter kubik per detik melalui kanal pengalih banjir. Menurut Mukhtaruddin, sistem tersebut telah beberapa kali menghadapi banjir dan membantu melindungi kawasan permukiman dari genangan. “Alhamdulillah, sudah beberapa kali ujian banjir, selamatlah permukiman, tidak lagi digenangi banjir,” ungkapnya.

Selain kanal pengalih, tanggul di sepanjang sistem sungai turut membatasi aliran air agar tidak meluap ke kawasan sekitar. Mukhtaruddin menyebut tinggi tanggul bervariasi mengikuti kondisi konstruksi dan elevasi wilayah, mulai dari sekitar dua hingga tiga meter. Kawasan bantaran sungai juga menjadi bagian dari sistem pengendalian karena menyediakan ruang bagi aliran air saat debit meningkat.

Meski telah membantu mengurangi risiko banjir, infrastruktur tersebut tetap membutuhkan pemeliharaan berkala. Salah satu tantangannya adalah sedimentasi yang terbawa aliran sungai ketika banjir terjadi.

Mukhtaruddin menjelaskan, material sedimen dapat mengendap di sejumlah bagian aliran sungai dan membentuk delta. Karena itu, pemeliharaan diperlukan untuk menjaga kapasitas sistem pengendali banjir.”Kalau sudah beberapa kali banjir, dia tetap bawa sedimen sehingga menimbulkan delta, dan ada pemeliharaan dari pihak BWS,” katanya.

Pengelolaan dan pemeliharaan sistem tersebut melibatkan Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I sesuai kewenangannya. Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Aceh Besar juga melakukan berbagai upaya untuk mengantisipasi dampak cuaca ekstrem, termasuk menangani saluran irigasi dan akses jalan yang terdampak longsor maupun hujan lebat.

Kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Aceh Besar, Ridwan Jamil,  dukungan peralatan dari Kemendagri telah membantu pemerintah daerah menangani sejumlah persoalan infrastruktur pascabencana. Menurut Ridwan, meskipun dampak bencana di Aceh Besar tidak separah di beberapa kabupaten lain, langkah antisipasi tetap diperlukan, terutama menjelang musim hujan.”Untuk mengantisipasi terutama musim hujan, kami sudah melakukan upaya-upaya supaya jika hujan deras, semua wilayah diharapkan aman,” ujar Ridwan.

Artikulli paraprakSun Life Ungkap Ketahanan Finansial Masyarakat Indonesia Masih Rentan
Artikulli tjetërGibran Sebaiknya Legowo Mundur atau Diberhentikan Lewat Jalur Konstitusi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini