Beranda Ekonomi Kementan Perkuat Pemahaman Petani terhadap Inovasi Benih Bioteknologi

Kementan Perkuat Pemahaman Petani terhadap Inovasi Benih Bioteknologi

35
0

NERACAONLINE, Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong pemanfaatan bioteknologi dan teknologi pemuliaan tanaman untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha tani, dan daya saing pertanian nasional. Pengembangan padi lokal Rojolele di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, menjadi contoh pemanfaatan teknologi untuk memperbaiki karakteristik varietas dengan tetap mempertahankan keunggulan lokal.

Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan Farmer Field Day (FFD) Pengenalan Benih Bioteknologi yang melibatkan pemerintah, akademisi, peneliti, industri, penyuluh, dan petani pada Jumat (23/10).

Dalam sambutan Kepala Pusat Pelindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (PVTPP) yang disampaikan Ketua Kelompok Substansi Pendaftaran dan Pelepasan Varietas Tanaman, Nani Suwarni, SP, MSi, ditegaskan bahwa inovasi teknologi penting untuk menjawab tantangan perubahan iklim dan kebutuhan peningkatan produktivitas pertanian.

“Inovasi teknologi, termasuk pemuliaan tanaman dan perbenihan, memiliki peran penting. Namun, pemanfaatannya harus didukung pemahaman yang benar, objektif, dan berbasis bukti ilmiah agar masyarakat memahami manfaat, keterbatasan, serta aspek keamanan yang relevan,” ujar Nani.
Ia menambahkan, inovasi harus disertai tata kelola yang baik, pemenuhan persyaratan teknis, dan prosedur pengkajian serta keamanan sesuai ketentuan. Teknologi juga harus menjawab kebutuhan nyata petani, mulai dari peningkatan produktivitas dan efisiensi biaya hingga ketahanan terhadap organisme pengganggu tumbuhan dan perubahan iklim.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Klaten, melalui Kepala Bidang Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan, Lilik Nugraharja, menjelaskan bahwa Rojolele merupakan padi lokal kebanggaan Klaten dengan cita rasa dan kualitas beras khas. Namun, varietas aslinya memiliki umur panen lebih dari lima bulan, postur tanaman tinggi, serta rentan terhadap hama dan penyakit.
Untuk memperbaiki karakteristik tersebut, penelitian bersama Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) dilakukan sejak 2013 melalui teknologi mutasi radiasi sinar gamma.

Dari pengembangan tersebut dihasilkan Rojolele Srinar, Srinuk, dan Sriten. Rojolele Srinar dan Srinuk telah memperoleh pelindungan varietas tanaman (PVT) sebagai varietas turunan esensial dari varietas lokal Rojolele.
Rojolele Srinuk memiliki produktivitas rata-rata sekitar 6,6 ton per hektare, dengan potensi mencapai 9 ton per hektare. Selain produktivitas, varietas ini memiliki keunggulan cita rasa dan nilai jual. Tantangan pengembangannya masih mencakup ketersediaan benih bersertifikat, sementara produksi resmi benih Rojolele Srinar juga perlu didorong.

Guru Besar IPB University, Antonius Suwanto, menjelaskan bahwa pengembangan varietas unggul dapat dilakukan melalui persilangan, iradiasi, dan rekayasa genetika. Persilangan menggabungkan sifat unggul tanaman berbeda, sedangkan iradiasi memicu perubahan genetik yang kemudian diseleksi untuk memperoleh karakteristik yang diharapkan.
Bioteknologi modern juga memungkinkan pemanfaatan gen tertentu untuk menghasilkan sifat spesifik, misalnya ketahanan jagung terhadap hama sasaran melalui gen dari bakteri yang menghasilkan protein toksik terhadap hama tersebut.
“Dengan pemahaman yang memadai, masyarakat dapat menilai inovasi pertanian secara objektif dan tidak mudah terpengaruh informasi yang keliru,” ujar Antonius.

Kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan lapang di Desa Kwarasan, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten, untuk memperkenalkan varietas jagung bioteknologi kepada petani dan penyuluh. Melalui pengamatan langsung, peserta dapat membandingkan respons pertumbuhan varietas konvensional dan varietas bioteknologi, terutama dalam hal ketahanan terhadap hama sasaran, serta memahami perbedaan dari aspek usaha tani dan potensi penerapannya dalam budidaya jagung.

Varietas bioteknologi memiliki dua karakteristik utama, yaitu tahan terhadap hama sasaran dan toleran terhadap herbisida berbahan aktif glifosat. Kombinasi kedua karakteristik ini berpotensi mendukung pengendalian hama dan gulma yang lebih efektif serta meningkatkan efisiensi usaha tani. Penerapannya tetap harus mengikuti rekomendasi teknis budidaya dan ketentuan penggunaan herbisida yang berlaku.

Melalui Farmer Field Day, Kementan mendorong pengenalan teknologi pertanian melalui edukasi dan pengamatan langsung. Sinergi pemerintah, peneliti, industri, penyuluh, dan petani diharapkan memperkuat pemanfaatan inovasi bioteknologi secara bertanggung jawab untuk mendukung produktivitas dan daya saing pertanian Indonesia.

Artikulli paraprakAsuransi Jasindo Dorong Antisipasi Risiko Iklim di Tengah Antisipasi Dampak Super El Nino

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini