Beranda Teknologi Dorong Pertumbuhan Ekonomi Digital, Ketika AI dan 5G Menjadi Tulang Punggung Digitalisasi...

Dorong Pertumbuhan Ekonomi Digital, Ketika AI dan 5G Menjadi Tulang Punggung Digitalisasi di Indonesia

42
0

NERACAONLINE- Transformasi digital Indonesia memasuki fase krusial, didorong oleh kemajuan pesat di bidang 5G dan AI. Sinergi antara keduanya telah menjadi fasilitator utama untuk mempercepat digitalisasi dan memperkuat daya saing Indonesia di tingkat global, sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045. 5G dalam konteks ini berperan sebagai infrastruktur kunci dengan konektivitas ultra-cepat, latensi rendah, dan kapasitas besar.

Direktur Jenderal Infrastruktur Digital, Kementerian Komunikasi dan Digital, Wayan Toni Supriyanto menegaskan bahwa transformasi digital merupakan pilar utama dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. “Transformasi digital juga membutuhkan kerangka kebijakan dan regulasi yang adaptif. Pemerintah berkomitmen menghadirkan kebijakan yang tidak hanya menjaga tata kelola, tapi juga mendorong inovasi dan investasi. Arah kebijakan Komdigi mencakup percepatan pengembangan teknologi melalui optimalisasi spektrum, penyusunan tata kelola yang berkelanjutan dan bertanggung jawab, penguatan perlindungan data pribadi, serta penciptaan iklim investasi yang kondusif bagi pembangunan infrastruktur digital,” jelas Wayan di Jakarta, kemarin.

Sementara President Director Ericsson Indonesia, Nora Wahby menambahkan, 5G akan menjadi fondasi digital yang krusial bagi terwujudnya visi Indonesia Emas 2045, sekaligus infrastruktur strategis yang memungkinkan teknologi AI berkembang dalam skala besar.” Di Indonesia, 5G diproyeksikan berkontribusi hingga US$41 miliar terhadap PDB nasional pada periode 2024 hingga 2030 melalui berbagai inovasi yang lahir dari platform ini. Untuk memaksimalkan potensi tersebut, mempercepat penggelaran jaringan 5G Standalone (SA) menjadi langkah penting untuk mendukung lonjakan penggunaan data seluler dan muatan kerja AI yang terus bertumbuh pada berbagai sektor industri,”ujarnya.

Menurut survei Ericsson ConsumerLab, meningkatnya adopsi AI turut mendorong kebutuhan akan jaringan yang andal dan konsisten. Hal ini menempatkan 5G dalam dua peran strategis: mengakomodasi lonjakan volume data dan kebutuhan uplink, serta menjadi infrastruktur kritikal nasional. Integrasi 5G dan AI membuka peluang inovasi di berbagai sektor seperti industri, kesehatan, pendidikan, dan layanan publik.

Negara yang memiliki infrastruktur digital kuat akan lebih siap menarik investasi, mempercepat inovasi, dan meningkatkan efisiensi lintas sektor. Secara global, perkembangan 5G memang berlangsung sangat cepat. Ericsson Mobility Report memperkirakan jumlah pelanggan 5G akan mencapai sekitar 2,9 miliar pada akhir 2025 dan meningkat menjadi 6,4 miliar pada 2032.

Angka itu menunjukkan bahwa mayoritas langganan seluler dunia nantinya akan berbasis 5G. Bersamaan dengan itu, trafik data seluler diproyeksikan tumbuh lebih dari dua kali lipat pada periode yang sama. Artinya, kebutuhan terhadap jaringan berkualitas tinggi akan terus meningkat seiring bertambahnya aktivitas digital masyarakat dunia. Indonesia tentu tidak boleh tertinggal dalam arus perubahan tersebut. Potensi ekonomi yang bisa dihasilkan dari pengembangan 5G juga sangat besar.“Permintaan terhadap AI meningkat sangat cepat, dan tanpa dukungan konektivitas 5G yang kuat, Indonesia berisiko tertinggal dalam memanfaatkan peluang ini. Melalui IndoTelko Forum, kami membuka dialog multistakeholder untuk menyatukan langkah dalam menjawab tantangan dan memaksimalkan peluang 5G, sehingga Indonesia dapat meraih manfaat optimal dan mempercepat terwujudnya visi Indonesia Emas 2045,” kata co-founder Indotelko Group, Setia Gunawan.

Meskipun demikian, penetrasi 5G di Indonesia masih relatif rendah dibandingkan sejumlah negara di kawasan Asia yang telah mencapai sekitar 50%. Saat ini, adopsi jaringan 5G di Indonesia baru berada di kisaran 10%. Dosen Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB, Ian Yosef Matheus Edward mengatakan, terdapat sejumlah faktor yang menyebabkan penetrasi 5G nasional belum optimal. Disampaikannya, keterbatasan spektrum frekuensi 5G menjadi tantangan utama. Selain itu, harga perangkat yang belum sepenuhnya terjangkau serta model bisnis dan use case yang masih berkembang turut memengaruhi laju adopsi teknologi ini.

Untuk menghadirkan layanan 5G yang optimal, kata Ian, idealnya satu operator memiliki alokasi spektrum sekitar 100 MHz. Saat ini, sebagian operator masih mengoptimalkan spektrum existing yang juga digunakan untuk jaringan 4G. Kondisi tersebut membuat implementasi 5G berjalan berdampingan dengan teknologi generasi sebelumnya.

Ian menilai, ke depan kebijakan pengelolaan spektrum perlu dirancang tidak hanya untuk memaksimalkan penerimaan negara, tetapi juga untuk mendorong investasi jaringan yang berkelanjutan serta pemerataan akses telekomunikasi di seluruh wilayah Indonesia, khususnya untuk adopsi teknologi baru seperti 5G. “Jika spektrum dikelola dengan struktur biaya yang rasional dan diberikan kepada operator yang memiliki komitmen membangun secara luas, manfaat akhirnya akan dirasakan masyarakat melalui layanan yang lebih baik dan pertumbuhan ekonomi digital yang lebih kuat. Jika ekonomi digital tumbuh maka negara berpotensi mendapatkan tambahan pajak,” kata Ian.

Pemerataan Pembangunan

Namun dibalik penetrasi pengguna dan pemanfaatan 5G ada isu pemerataan pembangunan dan daya tahan ekonomi. Di negara kepulauan seperti Indonesia, kualitas konektivitas memiliki hubungan erat dengan kesenjangan sosial dan ekonomi. Wilayah yang memiliki akses jaringan lebih baik cenderung lebih cepat berkembang karena masyarakatnya lebih mudah mengakses pendidikan, layanan kesehatan, peluang usaha, dan informasi pasar. Sebaliknya, daerah dengan keterbatasan konektivitas sering tertinggal dalam banyak aspek pembangunan.

Karena itu, percepatan pembangunan infrastruktur digital sesungguhnya juga berkaitan dengan upaya menciptakan kesempatan yang lebih setara. Teknologi dapat menjadi alat yang mempersempit kesenjangan apabila akses terhadapnya dibangun secara inklusif.

Di bagian inilah kebijakan pemerintah menjadi sangat penting, terutama dalam memastikan ketersediaan spektrum, kepastian regulasi, dan iklim investasi yang sehat. Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital saat ini sedang menyiapkan pelelangan spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz. Langkah tersebut menjadi bagian penting dalam mempercepat implementasi 5G di Indonesia.

Spektrum yang memadai akan menentukan kualitas layanan jaringan dan memperluas jangkauan konektivitas ke berbagai wilayah. Namun proses ini tentu tidak cukup hanya dengan penyediaan frekuensi. Dibutuhkan ekosistem yang sehat agar operator, vendor, industri, dan pemerintah dapat bergerak dalam arah yang sama. Head of Government and Industry Relations Ericsson Indonesia Ronni Nurmal menilai bahwa adopsi AI dan 5G di Indonesia memang masih berada pada tahap awal dibandingkan sejumlah negara lain di Asia Tenggara.

Meski demikian, ia melihat Indonesia memiliki peluang besar untuk mempercepat transformasi digital apabila didukung kebijakan spektrum yang tepat, kolaborasi yang kuat, dan dukungan ekosistem vendor yang seimbang. Hal itu menjadi pengingat bahwa transformasi digital tidak pernah hanya bergantung pada satu pihak. Keberhasilannya ditentukan oleh kemampuan membangun kolaborasi jangka panjang.

Pembicaraan mengenai 5G sebenarnya bukan sekadar tentang teknologi generasi terbaru. Ini adalah pembicaraan tentang masa depan ekonomi Indonesia. Di dalamnya termasuk tentang bagaimana negara mampu menciptakan sistem yang lebih produktif, efisien, dan inklusif di tengah perubahan global yang berlangsung sangat cepat. Di era ketika data menjadi sumber daya baru, kualitas jaringan akan menentukan kualitas daya saing sebuah bangsa. Keputusan yang diambil hari ini dalam membangun dan mengelola jaringan digital akan memengaruhi kecepatan Indonesia mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

Sebab di masa depan, negara yang unggul bukan hanya negara yang memiliki sumber daya alam besar, tetapi juga negara yang mampu membangun konektivitas yang cerdas, aman, tangguh, dan mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Artikulli paraprakAnugerah Piala HB Jassin 2026 Perkuat Ekosistem Sastra Indonesia, Ini Daftar Pemenangnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini