Beranda Ekonomi Daerah PTPN III (Persero) dan Universitas Lampung Jalin Kolaborasi Strategis Perkuat Ketahanan Pangan...

PTPN III (Persero) dan Universitas Lampung Jalin Kolaborasi Strategis Perkuat Ketahanan Pangan dan Energi Nasional

44
0

Bandar Lampung – PT Perkebunan Nusantara III (Persero) dan Universitas Lampung (Unila) resmi menjalin kemitraan strategis melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) tentang kerja sama di bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat dan pengembangan sumber daya manusia.

Penandatanganan berlangsung di Bandar Lampung, Rabu (12/8), oleh Direktur Utama PTPN III Denaldy Mulino Mauna dan Rektor Unila Prof. Dr. Ir. Lusmeilia Afriani, D.E.A., IPM, ASEAN Eng.

Kolaborasi ini bertujuan mendukung penugasan pemerintah kepada PTPN III (Persero) dalam mengembangkan komoditas ubi kayu sebagai pilar ketahanan pangan dan energi nasional. Fokus utama kerja sama meliputi penguatan riset, pengembangan varietas unggul, peningkatan produktivitas, pendampingan budidaya, serta dukungan teknis untuk pengembangan ubi kayu sebagai bahan baku bioetanol.

Direktur Utama PTPN III Denaldy Mulino Mauna menegaskan bahwa kemitraan dengan Unila memiliki nilai strategis karena universitas tersebut telah memiliki National Cassava Center (NCC) yang merupakan pusat studi dan pengembangan ubi kayu nasional yang akan menjadi rujukan inovasi dan teknologi di Indonesia.

“Kolaborasi ini sejalan dengan penugasan yang kami emban untuk memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional melalui pengembangan komoditas strategis.
Universitas Lampung memiliki keunggulan yang sangat relevan melalui National Cassava Center, sehingga kami optimis kerja sama ini dapat menghasilkan inovasi yang aplikatif dan memberikan dampak nyata di lapangan,” ujar Denaldy.

Menurutnya, pengembangan ubi kayu akan diarahkan untuk mendukung industri bioetanol sebagai bagian dari penguatan energi terbarukan nasional. Berbeda dengan
bahan baku yang selama ini banyak menggunakan molase tebu, pengembangan
bioetanol berbasis ubi kayu dilakukan agar tidak mengganggu stabilitas pasokan komoditas tebu yang saat ini menjadi fokus pemerintah dalam mendukung
swasembada gula.

Dalam kerja sama ini, PTPN III dan Unila akan memfokuskan pengembangan pada
varietas ubi kayu yang sesuai untuk kebutuhan industri bioetanol, termasuk pengembangan melalui sistem tanam Mukibat yang memiliki potensi produktivitas tinggi, kadar pati tinggi, serta karakteristik yang sesuai untuk kebutuhan industri.

Berdasarkan hasil penelitian dari para peneliti pada Balai Penelitian Tanaman Kacangkacangan dan Umbi-umbian, Malang (Budhi S. Radjit, Nila Prasetiaswati, dan E.
Ginting), dari segi percepatan pencapaian produksi, ubi kayu stek sambung (Mukibat)
mempunyai prospek yang baik untuk memenuhi kebutuhan industri dan pangan.

Secara ekonomi, ubi kayu stek sambung layak dikembangkan karena dapat berproduksi 65,1% lebih tinggi dengan kadar pati 52,4% lebih besar. Ubi kayu stek sambung dapat dipanen pada umur 10 bulan dan tidak mengurangi kadar bahan kering umbi dan kadar gula total. Sehingga jika sistem ini diterapkan di PTPN, dapat meningkatkan proditivitas rata-rata nasional saat ini.

Potensi Besar Lampung sebagai Sentra Bioetanol
Lampung merupakan sentra utama produksi ubi kayu nasional. Berdasarkan data dari
Dinas Pertanian Provinsi Lampung, pada tahun 2025, produksi ubi kayu Lampung mencapai 7,52 juta ton, atau sekitar 45,9 persen dari total produksi nasional yang mencapai 16,4 juta ton per tahun, menjadikannya provinsi penghasil ubi kayu terbesar di Indonesia.

Dengan potensi ini, Lampung diperkirakan mampu memproduksi hingga 405 juta liter bioetanol per tahun, atau setara dengan nilai ekonomi sekitar Rp4,8 triliun per tahun.

Berdasarkan pemetaan Kementerian ESDM, untuk mendukung program bioethanol
E20 pemerintah membutuhkan sekitar 4 juta kiloliter sebagai bahan campuran
kebutuhan bensin, dari total kebutuhan nasional yang mencapai 40 juta kiloliter.

Singkong atau ubi kayu cukup berpotensi sebagai bahan baku industri etanol.
Sebagai salah satu tanaman yang mengandung pati atau karbohidrat, berdasarkan proses konversi karbohidrat menjadi gula (glukosa) larut air, dari 6.5 kg ubi kayu kupas segar dapat menghasilkan 1 liter etanol (Sumber : Direktorat Jendral Energi Baru Terbarukan dan Konversi Energi).

Sejalan dengan target pemerintah yang mencanangkan implementasi E20 pada 2029
serta target swasembada gula konsumsi tahun 2028 dan swasembada gula nasional
tahun 2030, PTPN memperoleh mandat ganda: memacu produksi gula sekaligus
menyediakan bahan baku bioethanol.

Untuk menciptakan sinergi antara program
swasembada gula dan percepatan mandatori bioetanol, PTPN mengoptimalkan
komoditas ubi kayu sebagai bahan baku alternatif yang saling melengkapi, sehingga
pengembangan bioenergi tidak mengganggu fokus utama peningkatan produksi gula
nasional.

Melalui kolaborasi dengan Universitas Lampung dan National Cassava Center, PTPN
menargetkan pengembangan lahan ubi kayu seluas 10.000 hektare di Lampung
dengan target produktivitas ditingkatkan dari rata-rata 20 ton per hektare menjadi 30-
60 ton per hektare.

PTPN III menilai Lampung memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pengembangan
ekosistem bioetanol berbasis ubi kayu. Melalui kerja sama dengan Universitas Lampung, fokus pengembangan diarahkan pada penyediaan varietas unggul berdaya hasil dan kadar pati tinggi, penerapan Good Agricultural Practices (GAP) berbasis riset, serta pendampingan budidaya secara intensif untuk memastikan produktivitas dan efisiensi pasokan bahan baku.

Dukungan Pemprov dan Komitmen Unila
Pada kesempatan yang sama, Denaldy juga menyampaikan apresiasi atas dukungan
Pemerintah Provinsi Lampung terhadap pengembangan ekosistem hilirisasi ubi kayu,
termasuk percepatan penyiapan lahan untuk pembangunan pabrik bioetanol berbasis
ubi kayu.

Ia menilai dukungan tersebut menjadi faktor penting dalam mempercepat
implementasi proyek strategis yang berorientasi pada peningkatan nilai tambah
komoditas, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan pertumbuhan ekonomi
berkelanjutan di Lampung.

Sementara itu, Rektor Universitas Lampung Prof. Dr. Ir. Lusmeilia Afriani, D.E.A., IPM,
ASEAN Eng., mengatakan Unila siap mendukung pengembangan ubi kayu nasional
melalui kekuatan riset dan inovasi yang dimiliki, termasuk melalui National Cassava
Center.

“Kami sangat mengapresiasi kolaborasi ini karena memberikan ruang yang luas bagi
sivitas akademika untuk mengembangkan riset dan inovasi yang relevan dengan
kebutuhan industri dan masyarakat. Pengembangan ubi kayu untuk bioetanol
menjadi salah satu bidang yang memiliki potensi besar untuk memberikan manfaat
ekonomi sekaligus mendukung agenda ketahanan pangan dan energi nasional,” ujar
Lusmeilia.

Melalui kolaborasi ini, PTPN III dan Universitas Lampung berkomitmen membangun
model kerja sama yang menghubungkan kampus, industri, dan masyarakat dalam
satu ekosistem pengembangan ubi kayu yang terintegrasi, mulai dari riset varietas
unggul, peningkatan produktivitas, pendampingan budidaya, hingga hilirisasi menjadi bioetanol sebagai sumber energi terbarukan.

Artikulli paraprakBAZNAS, Danantara, Kemenkop, dan MES Sepakati MoU Ekosistem Zakat hingga Koperasi Syariah
Artikulli tjetërPerguruan Tinggi Didorong Jadi Mitra Strategis DPR Lewat Top Indonesian Law Schools 2026

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini