Di paruh pertama 2026, PT Bank Neo Commerce Tbk berhasil mencatatkan laba bersih setelah pajak (Profit After Tax/PAT) sebesar Rp294,85 miliar, meningkat 6,81% secara year-on-year (YoY) dibandingkan priode yang sama tahun lalu sebesar Rp276,05 miliar. Pencapaian ini sekaligus memperpanjang tren profitabilitas BNC yang selama dua tahun terakhir secara konsisten membukukan laba, mencerminkan kinerja positif yang didukung oleh fundamental bisnis yang semakin kuat.
Direktur Utama PT Bank Neo Commerce Tbk, Eri Budiono mengatakan bahwa hasil kinerja Semester I 2026 merupakan refleksi dari fokus Perseroan dalam membangun fondasi bisnis yang lebih sehat sebagai bekal memasuki fase pertumbuhan berikutnya. “Selama lebih dari lima tahun melayani nasabah sebagai salah satu pelopor bank dengan layanan digital, BNC telah membangun pengalaman, kapabilitas, serta fondasi operasional yang semakin matang. Semester I 2026 menunjukkan bahwa strategi kami untuk mengutamakan kualitas pertumbuhan, efisiensi operasional, serta pengelolaan risiko yang lebih disiplin telah memberikan hasil yang positif,”ujarnya di Jakarta, Jum’at (31/7).
Perseroan, lanjut Eri, percaya fondasi yang kuat merupakan prasyarat utama untuk menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan dan menjadikan BNC menjadi bank berbasis digital yang semakin tepercaya. Selain pertumbuhan laba, BNC juga mencatatkan total aset sebesar Rp17,45 triliun, sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp12,30 triliun.
Di tengah kondisi likuiditas industri perbankan yang masih relatif ketat, BNC tetap menjaga kondisi likuiditas yang sehat melalui pengelolaan likuiditas yang prudent dan terukur. Hal ini turut tercermin dari semakin baiknya komposisi dana perseroan, dengan dana tabungan meningkat menjadi Rp3,39 triliun atau tumbuh 2,10% YoY dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, menunjukkan kepercayaan nasabah yang terus terjaga terhadap BNC.
Dari sisi pendapatan, Pendapatan Bunga Bersih (Net Interest Income/NII) tercatat sebesar Rp1,11 triliun, sementara pendapatan berbasis komisi (Fee Based Income) meningkat menjadi Rp59,66 miliar, atau tumbuh 6,77% YoY, menunjukkan semakin berkembangnya sumber pendapatan non-bunga Perseroan.
Dari sisi produk, berbagai layanan kini semakin diminati masyarakat. Salah satu diantaranya adalah layanan QRIS yang mengalami peningkatan signifikan jumlah transaksi sebesar 124%, dari 119,3 juta kali transaksi di Semester I 2025 menjadi 267,4 juta kali transaksi di Semester I 2026. Sedangkan dari sisi pendapatan yang dihasilkan dari transaksi QRIS, terjadi lompatan peningkatan sebesar 246% menjadi Rp25,8 miliar di akhir semester I 2026 dari sebelumnya Rp7,4 miliar di semester I 2025. Meningkatnya jumlah transaksi QRIS di sepanjang Semester I 2026 ini menunjukkan bahwa BNC telah menjadi bank dengan layanan digital yang semakin mendapatkan kepercayaan dari masyarakat dalam bertransaksi.
Sementara itu, efisiensi operasional terus mengalami perbaikan. Rasio BOPO membaik menjadi 82,31% dibandingkan 84,81% pada Semester I 2025, atau mengalami perbaikan sekitar 2,50%, mencerminkan efektivitas pengelolaan biaya operasional. Rasio Return on Assets (ROA) juga meningkat menjadi 3,23% dari 3,09%, atau naik 0,14% YoY, menunjukkan kemampuan perseroan menghasilkan laba dari aset yang dimiliki semakin baik.

Di sisi kualitas aset, rasio Non Performing Loan (NPL) Gross berhasil ditekan menjadi 2,99% dibandingkan 3,10% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Perbaikan kualitas kredit tersebut merupakan hasil dari penguatan tata kelola risiko, penyempurnaan proses underwriting yang dilakukan secara digital, serta penerapan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit.
BNC juga semakin memperkuat struktur permodalannya seiring dengan pertumbuhan laba bank. Rasio Capital Adequacy Ratio (CAR) meningkat signifikan menjadi 50,23%, dibandingkan 41,27% pada Semester I 2025 atau meningkat sekitar 8,95% YoY. Modal inti Perseroan turut meningkat menjadi Rp4,20 triliun, tumbuh 14,52% YoY. Penguatan permodalan tersebut memberikan ruang yang lebih besar bagi Perseroan untuk mendukung ekspansi bisnis secara sehat dan berkelanjutan.
Dalam penyaluran kredit, BNC secara terukur menerapkan strategi pertumbuhan yang lebih selektif. Total kredit tercatat sebesar Rp7,13 triliun, menurun 11,79% YoY dibandingkan Semester I 2025 yang sebesar Rp8,09 triliun. Penurunan tersebut terutama berasal dari segmen komersial dan korporat sebagai bagian dari langkah Perseroan untuk melakukan optimalisasi portofolio serta meningkatkan kualitas aset di tengah kondisi ekonomi yang masih penuh tantangan. Di sisi lain, strategi tersebut justru menghasilkan pertumbuhan pada segmen-segmen yang menjadi fokus utama perseroan.
Penyaluran kredit kepada segmen konsumer dan UMKM secara gabungan meningkat menjadi Rp5,80 triliun, dibandingkan Rp5,44 triliun pada Semester I 2025, atau tumbuh 6,68% secara year-on-yearp(YoY). Hal ini menunjukkan komitmen BNC untuk terus memperkuat pembiayaan pada segmen yang memiliki potensi pertumbuhan jangka panjang sekaligus menjaga kualitas portofolio kredit.






































