NERACAONLINE — Ketika banyak perusahaan masih memandang Initial Public Offering (IPO) sebagai instrumen penghimpunan modal, para pelaku pasar justru mengingatkan bahwa tantangan terbesar menuju perusahaan publik bukanlah pendanaan, melainkan tata kelola perusahaan. Pesan tersebut mengemuka dalam seminar IPO Readiness: Strengthen Investor Relations and Corporate Governance yang diselenggarakan Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama SW Indonesia di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (10/6).
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, meningkatnya tensi geopolitik, volatilitas pasar keuangan, dan semakin selektifnya investor, kualitas tata kelola perusahaan atau corporate governance dinilai menjadi faktor yang semakin menentukan keberhasilan perusahaan memasuki pasar modal.
Ketua Indonesian Institute for Corporate Directorship (IICD) sekaligus Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia periode 2014–2019 pada era Presiden Joko Widodo, Rudiantara, menegaskan bahwa tata kelola tidak lagi dapat dipandang sebagai sekadar kewajiban kepatuhan atau pemenuhan regulasi.
Menurutnya, investor modern tidak hanya menilai pertumbuhan pendapatan dan laba perusahaan. Mereka juga menilai bagaimana perusahaan mengambil keputusan, mengelola risiko, menjaga transparansi, serta memastikan keberlanjutan usaha dalam jangka panjang. “Investor saat ini tidak hanya menilai angka-angka keuangan. Mereka juga melihat kualitas pengambilan keputusan, transparansi, pengelolaan risiko, dan kemampuan perusahaan mempertahankan keberlanjutan usaha dalam jangka panjang,” ujar Rudiantara.
Pandangan tersebut sejalan dengan perkembangan praktik investasi global. Berbagai investor institusi internasional kini menggunakan kerangka penilaian seperti OECD Principles of Corporate Governance, ASEAN Corporate Governance Scorecard, hingga berbagai indikator ESG (Environmental, Social and Governance) untuk menilai kualitas perusahaan sebelum mengambil keputusan investasi.
Dalam ASEAN Corporate Governance Scorecard, misalnya, perusahaan dinilai berdasarkan perlindungan hak pemegang saham, perlakuan yang setara terhadap investor, transparansi informasi, peran pemangku kepentingan, hingga efektivitas dewan komisaris dan direksi. Bagi investor global, tata kelola yang baik sering kali menjadi indikator awal kualitas perusahaan, bahkan sebelum mereka membaca proyeksi pertumbuhan atau valuasi bisnis.
Vice Director Listed Companies Development Bursa Efek Indonesia, Listyorini Dian Pratiwi, mengatakan bahwa aspek tata kelola menjadi salah satu fokus utama dalam proses IPO Readiness. Menurutnya, meskipun keberhasilan IPO dipengaruhi momentum pasar, persiapan menuju IPO tidak boleh menunggu kondisi yang ideal. “IPO memang sedikit banyak bergantung pada momentum. Namun demikian, tidak pernah terlalu dini untuk melakukan persiapan IPO sehingga dalam kondisi apa pun persiapan tersebut tetap bisa dilakukan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa persiapan IPO mencakup penguatan berbagai aspek fundamental perusahaan, mulai dari operasional bisnis, pelaporan keuangan, kepatuhan hukum dan perpajakan, pengendalian internal, hingga tata kelola perusahaan. Selain tata kelola, seminar tersebut juga menyoroti pentingnya fungsi Investor Relations yang semakin strategis dalam siklus kehidupan perusahaan publik.
Sebelum IPO, Investor Relations berperan membangun equity story, memperkuat kredibilitas perusahaan, serta mengkomunikasikan model bisnis dan prospek pertumbuhan kepada calon investor. Selama proses IPO, Investor Relations menjadi penghubung antara manajemen, underwriter, analis, regulator, dan investor agar informasi yang disampaikan konsisten, transparan, dan dapat dipahami pasar.
Setelah perusahaan tercatat di bursa, fungsi Investor Relations berkembang menjadi instrumen penting dalam menjaga kepercayaan investor melalui keterbukaan informasi, pengelolaan ekspektasi pasar, dan komunikasi yang berkelanjutan dengan pemegang saham. “Sebesar apa pun ikan di dalam kolam, kalau tidak pernah diperlihatkan tidak akan terlihat,” kata Listyorini menggambarkan pentingnya fungsi Investor Relations dalam membangun visibilitas perusahaan di mata investor.
Sementara itu, Chief Executive Officer SW Indonesia, Michell Suharli, menilai bahwa manfaat terbesar IPO justru sering kali muncul jauh sebelum perusahaan resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia. “IPO bukan sekadar menjual saham. IPO adalah proses transformasi perusahaan,” ujar Michell.
Menurutnya, perusahaan yang mempersiapkan diri menuju IPO pada dasarnya sedang melakukan pembenahan menyeluruh terhadap organisasi. Mereka memperkuat tata kelola, meningkatkan kualitas pelaporan, membangun sistem pengendalian internal, memperkuat manajemen risiko, serta meningkatkan profesionalisme organisasi.
Karena itu, IPO Readiness seharusnya dipandang sebagai investasi strategis, bukan sekadar biaya kepatuhan. “Perusahaan yang sehat menciptakan lapangan kerja. Perusahaan yang sehat membayar pajak. Perusahaan yang sehat menciptakan inovasi. Perusahaan yang sehat meningkatkan daya saing nasional,” kata Michell.
Ia menambahkan bahwa Indonesia membutuhkan lebih banyak perusahaan yang mampu tumbuh menjadi institusi yang kuat, transparan, dan berkelanjutan, bukan sekadar bisnis yang bergantung pada figur pendirinya.
Seminar yang juga menghadirkan Kevin Praharyawan dari BRI Danareksa Sekuritas, Limiati Purnomo dari Telkom Indonesia, Sofiyan Adhi Kusumah Dinata dari Bursa Efek Indonesia, serta Ridho Fathoni dari KAP Suharli, Sugiharto & Rekan tersebut menyampaikan satu pesan yang konsisten kepada dunia usaha.
Pasar modal yang kuat lahir dari perusahaan-perusahaan yang kuat. Perusahaan yang kuat membangun ekonomi yang kuat. Dan ekonomi yang kuat akan menentukan daya saing Indonesia pada masa depan. Stronger Companies. Stronger Economy. Stronger Indonesia.






































