Beranda Ekonomi Daerah FAKTA Edukasi Anak Soal Risiko Konsumsi Minuman Berpemanis

FAKTA Edukasi Anak Soal Risiko Konsumsi Minuman Berpemanis

31
0

NERACAONLINE – Forum Warga Kota (FAKTA) Indonesia memanfaatkan momentum Hari Anak Nasional 2026 untuk mengampanyekan pentingnya melindungi anak-anak dari konsumsi minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK).

‎Melalui kegiatan bertema “Anak Bukan Target Pasar Minuman Berpemanis Dalam Kemasan”, FAKTA mendesak pemerintah segera menerapkan cukai MBDK sebagai langkah pencegahan penyakit tidak menular, seperti obesitas, diabetes, hingga gagal ginjal.

‎Kegiatan yang digelar di kawasan Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) Jalan Jenderal Sudirman-MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (26/7/2026) ini diikuti ratusan anak dari Jakarta, Bogor hingga Bekasi. Selain kampanye edukasi, acara juga diisi lomba mewarnai sebagai sarana meningkatkan kesadaran anak-anak terhadap pentingnya memilih minuman yang lebih sehat.

Lomba ini bukan sekadar kompetisi, tetapi menjadi media edukasi agar anak-anak memahami bahaya mengonsumsi minuman berpemanis dalam kemasan secara berlebihan.

‎Ketua FAKTA Indonesia, Ari Subagio Wibowo mengatakan, edukasi sejak dini menjadi langkah penting untuk menekan meningkatnya kasus penyakit tidak menular yang dipicu konsumsi gula berlebih.

‎”Kegiatan ini bertujuan mengedukasi anak-anak agar mampu memilih minuman yang sehat. Kami ingin mereka memahami dampak buruk mengonsumsi minuman berpemanis dalam kemasan secara berlebihan sehingga dapat mencegah obesitas, diabetes, dan penyakit tidak menular lainnya,” kata Ari.

‎Menurutnya, edukasi tidak hanya ditujukan kepada anak-anak, tetapi juga kepada orang tua dan lingkungan sekolah. Ari menilai, sekolah juga perlu menyediakan pilihan minuman sehat melalui kantin, sementara orang tua diharapkan membiasakan anak mengonsumsi air putih.

‎Ia menegaskan, perlunya pemerintah menerapkan cukai terhadap MBDK sebagai bentuk perlindungan terhadap kesehatan masyarakat sekaligus mendorong industri lebih bertanggung jawab atas produk yang dipasarkan.

‎”Kami berharap negara hadir melalui kebijakan cukai MBDK agar perlindungan terhadap kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak, semakin kuat,” ujarnya.

‎Wakil Ketua FAKTA Indonesia, Azas Tigor Nainggolan mengapresiasi Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta yang terus menjaga penyelenggaraan HBKB sebagai ruang publik yang sehat bagi masyarakat.

‎Tigor menjelaskan, momentum HBKB dipilih karena mampu menjangkau masyarakat luas sekaligus menjadi media yang efektif untuk meningkatkan literasi mengenai bahaya konsumsi MBDK.

‎”Hari ini kami bersama anak-anak kampung di Jakarta mengajak pemerintah segera menerapkan cukai MBDK sebagai langkah pencegahan agar anak-anak Indonesia tumbuh sehat. Ini merupakan investasi bagi masa depan bangsa,” tegasnya.

‎Tigor menyampaikan, kampanye tersebut menjadi semakin relevan karena anak-anak saat ini menjadi sasaran utama pemasaran produk minuman berpemanis dalam kemasan.

Ia mengungkapkan, masih banyak anak usia muda yang telah mengalami penyakit serius, seperti diabetes hingga gagal ginjal.

‎”Jangan sampai bonus demografi dan Generasi Emas Indonesia gagal karena tingginya penyakit tidak menular. Anak-anak harus kita lindungi sejak sekarang,” bebernya.

‎Ia juga meminta pemerintah memperketat pengawasan terhadap promosi dan iklan MBDK, terutama yang menyasar anak-anak, termasuk menertibkan media promosi yang tidak memiliki izin.

‎”Mari bersama-sama kita lindungi generasi masa depan Indonesia agar bisa turut tumbuh sehat,” ajaknya.

‎‎Sementara itu, orang tua peserta lomba mewarnai asal Koja, Jakarta Utara, Rahma (38) menyambut baik kegiatan tersebut.

Ia menuturkan, edukasi langsung kepada anak-anak lebih efektif dibandingkan hanya mengandalkan nasihat dari orang tua.

‎”Kegiatan seperti ini sangat positif karena anak-anak jadi tahu dampak buruk terlalu banyak mengonsumsi minuman manis. Kadang mereka lebih mudah memahami jika mendapat penjelasan langsung dalam kegiatan seperti ini,” bebernya.

‎Rahma juga mendukung rencana penerapan cukai MBDK agar harga minuman berpemanis menjadi lebih mahal dan tidak mudah dijangkau anak-anak.

‎”Saya sangat setuju kalau ada cukai. Kalau harganya lebih mahal, anak-anak akan berpikir dua kali untuk membeli. Dari rumah saya selalu membekali anak dengan air putih karena MBDK berbahaya jika terlalu sering dikonsumsi,” pungkasnya.

Artikulli paraprakBahagia Pelaku UMKM Bisa Raup Cuan di Festival Kali Pasir

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini