Beranda Market Sikapi 182 Serangan Siber Per Detik, Keamanan Siber Sebagai Infrastruktur Strategis

Sikapi 182 Serangan Siber Per Detik, Keamanan Siber Sebagai Infrastruktur Strategis

21
0

Berdasarkan data terbaru dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat lebih dari 5,16 miliar anomali trafik di Indonesia sepanjang Januari hingga November 2025, setara hampir 182 percobaan serangan setiap detik, angka yang bukan sekadar statistik, melainkan cerminan kondisi pertempuran digital yang sedang berlangsung setiap hari. Indonesia kini menempati peringkat ke-12 di kawasan Asia Pasifik dalam hal tingkat aktivitas siber, dengan sektor keuangan, energi, telekomunikasi, dan pemerintahan menjadi target utama yang bersifat lintas industri.

Semakin masif, canggih dan sulit diabaikannya ancaman siber di Indonesia, PT ITSEC Asia Tbk (CYBR) atau ITSEC Asia melihat kondisi ini bukan sebagai hambatan, melainkan sebagai konfirmasi atas relevansi jangka panjang bisnisnya.”Indonesia, dengan lebih dari 3,6 miliar serangan yang tercatat dalam setahun terakhir, berada dalam kondisi yang tidak lagi bisa ditangani dengan pendekatan reaktif. Kami membangun ITSEC Asia untuk momen seperti ini bukan sebagai respons terhadap krisis, melainkan sebagai infrastruktur yang sudah siap saat krisis tiba.”kata Patrick Dannacher, Presiden Direktur ITSEC Asia dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Disampaikannya, tekanan ekonomi global tidak menghentikan laju kejahatan siber, justru sebaliknya. Ketika anggaran pertahanan dibekukan dan kewaspadaan menurun, pelaku ancaman melihat peluang. Sebagai satu-satunya perusahaan keamanan siber yang tercatat di pasar modal, ITSEC Asia tidak sekadar menyediakan layanan keamanan tapi beroperasi sebagai lapisan pertahanan digital yang berdaulat, tidak bergantung pada rantai pasok asing, dan telah membangun rekam jejak kepercayaan dengan pemerintah, sektor keuangan, dan infrastruktur kritis nasional selama lebih dari satu dekade.

Portofolio produk ITSEC Asia dirancang untuk menjawab ancaman yang terus berevolusi. IntelliBroń Orion dan Aman menyediakan intelijen ancaman siber tingkat lanjut, sementara ITSEC AI Operations Center memposisikan perusahaan pada garis terdepan peluang pengadaan AI di sektor pemerintahan dan BUMN, pasar yang tengah tumbuh pesat seiring dengan agenda transformasi digital nasional.

Di sisi ekosistem, ITSEC Asia meluncurkan ITSEC Cyber and AI Academy sebagai mesin pengembangan talenta nasional, sebuah investasi jangka panjang yang mempererat hubungan perusahaan dengan ekosistem pendidikan, pemerintah, dan industri. Inisiatif ini memperkuat dimensi ESG perusahaan sekaligus memperluas jangkauan bisnisnya melampaui layanan keamanan konvensional.

Keterlibatan aktif ITSEC Asia bersama Komdigi, BSSN, Bank Indonesia dan lembaga-lembaga negara lainnya menempatkan perusahaan tidak hanya sebagai penyedia solusi, tetapi sebagai mitra strategis dalam pembentukan arsitektur keamanan digital nasional. Posisi ini sulit direplikasi oleh pemain asing yang tidak memiliki kedalaman pemahaman terhadap konteks regulasi, budaya, dan kebutuhan spesifik pasar Indonesia.

Kata Patrick Dannacher, Indonesia sedang berada pada momentum penting yang akan menentukan arah transformasi digital nasional. Kecepatan transformasi yang didorong oleh pemerintah dan sektor swasta membutuhkan pondasi keamanan yang setara kuatnya. “ITSEC Asia hadir untuk memastikan bahwa pertumbuhan digital Indonesia tidak rapuh di bawahnya dan bahwa kepercayaan investor terhadap ekosistem digital nasional memiliki landasan yang solid.”tandasnya.

Slamet Aji Pamungkas, Deputi Bidang Keamanan Siber dan Sandi Perekonomian BSSN menambahkan, ancaman siber saat ini bukan lagi sekadar risiko teknologi, tetapi telah menjadi tantangan strategis yang dapat mempengaruhi keberlangsungan operasional berbagai sektor.“Tingginya aktivitas serangan di Indonesia menjadi pengingat bahwa keamanan siber perlu menjadi perhatian di tingkat pimpinan organisasi. Di tengah percepatan transformasi digital dan pemanfaatan kecerdasan buatan di Indonesia, setiap institusi perlu memperkuat ketahanan siber melalui kesiapan yang matang, kolaborasi lintas sektor, serta investasi berkelanjutan pada teknologi, proses, dan sumber daya manusia,”ujarnya.

Menurut tim Threat Intelligence ITSEC Asia, ancaman yang berkembang paling cepat saat ini datang dari kelompok stealer malware, yang tidak lagi sekadar mencuri kata sandi tetapi juga cookies, session token, kredensial cloud, data browser, hingga akses ke aplikasi bisnis. Ketika data tersebut jatuh ke tangan pelaku ancaman, akses yang dicuri dapat dimanfaatkan untuk melakukan account takeover, business email compromise (BEC), penipuan, penyalahgunaan layanan cloud, hingga menjadi pintu masuk awal bagi serangan ransomware yang lebih besar. Tren ini menunjukkan bahwa organisasi tidak lagi cukup berfokus pada pencegahan malware semata, tetapi harus memperlakukan pencurian kredensial dan akses digital sebagai risiko bisnis yang nyata.

Data BSSN sendiri menunjukkan bahwa 93,78% dari seluruh anomali trafik nasional pada 2025 berbasis malware. Pada saat yang sama, kecerdasan buatan mulai dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber untuk meningkatkan efektivitas rekayasa sosial dan phishing dalam skala yang jauh lebih besar, sehingga mempercepat proses pencurian akses dan penyalahgunaan identitas digital.

Artikulli paraprakPrudential Indonesia Catat Pertumbuhan Kinerja Keuangan Berkelanjutan Sepanjang 2025
Artikulli tjetërBTN Kolaborasi Komunitas Lokal, Hadirkan Program Bayar Angsuran dengan Sampah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini