Sampah membawa berkah, pengalaman inilah yang dirasakan Lukman Hakim (56) pengrajin boneka ondel ondel Betawi yang mendulang cuan dari memanfaatkan sampah botol bekas plastik kemasan menjadi nilai ekonomis. “Awalnya sih cuma iseng aja ngisi kekosongan selepas pulang kerja, ko kesini banyak yang suka dan keterusan sampai sekarang,,”ujarnya kepada Neraca di Jakarta, kemarin.
Jiwa seninya berkarya, tidak hanya mampu membuat boneka ondel ondel tetapi juga ondel ondel Betawi bebagai ukuran hingga dekorasi acara. Pokoknya, hal yang berkaitan dengan budaya Betawi semua bisa dihandle. Mulai dari sewa ondel-ondel Betawi, tanjidor hingga palang pintu.
Lukman yang berprofesi sebagai security SCBD ini menuturkan, modal awal kerajinan boneka ondel-ondel Betawi hanya Rp150 ribu, untuk beli cat dan tiga koas. Sementara bahan bakunya, sampah dari botol plastik minuman teh kemasan yang dikumpulkan tetangga ataupun saudara. Kemudian untuk bajunya juga memanfaatkan sampah atau sisa bahan konveksi tak terpakai, “Awalnya tenaga sendiri, lalu dibantu istri dan ipar.”tuturnya.
Memulai usaha di tahun 2013 dan masuk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) binaan BRI 2017, boneka ondel-ondel bikinannya sudah memiliki pelanggan tetap dan menghidupkan ekonomi keluarga juga membuka lapangan kerja buat saudara juga tetangga, meski hitungannya bukan gaji bulanan. “Disini pekerja tidak terikat atau freelance, dibayar setiap ada event seperti ulang tahun Jakarta baru kita berdayakan tenaga tetangga hingga saudara,”tandasnya.
Rumahnya yang berlokasi di Lebak Bulus, Jakarta Selatan dijadikan workshop tempat pembuatan boneka ondel ondel dan sanggar Betawi Art. Dalam dua minggu, Lukman mampu memproduksi 500 boneka yang siap dipasarkan. Lukman juga memiliki rekanan yang menjual ondel-ondel buatannya, seperti Aneka Buana, Setu Babakan, Pondok Labu, Pondok Petir, Kebon Jeruk, Juragan Ondel-Ondel, dan beberapa toko di ITC Permata Hijau.

Tak hanya itu, bapak tiga anak ini juga menerima custome pembuatan boneka wisuda ataupun order jumlah besar yang biasanya datang dari pemerintah daerah untuk souvenir. Yang pasti, moment hari ulang tahun Jakarta dan pameran Jakarta Fair selalu kebanjiran permintaan boneka ondel ondel.”Moment seperti ini berkah bagi saya hingga kewalahan menerima order,”ungkapnya.
Dalam mewujudkan cita-citanya untuk mengembangkan usaha ondel-ondel mini, Lukman merasa sangat terbantu dengan bantuan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank Rakyat Indonesia (BRI). Pinjaman KUR yang diterimanya telah mendukungnya untuk memperluas usaha ini. Sejak pertama kali mendapatkan bantuan KUR pada 2020, Lukman merasa bahwa usahanya semakin berkembang dan memiliki prospek yang cerah.
Lewat pinjaman KUR BRI di awal Rp20 juta dan berikutnya nambah menjadi Rp50 juta, membawa usahanya makin ekspansif dan menggerakkan ekonomi keluarga. Berkat bantuan dan pendampingan BRI, usaha boneka ondel ondel ini telah membantu penghasilan dirinya menjadi securty hingga mampu menyekolahkan anak ke perguruan tinggi.
Selain itu, usaha kerajian boneka ondel ondel Betawi juga menjadi caranya melestarikan budaya Betawi ke generasi anak muda serta persiapannya memasuki masa pensiun nanti,”Saat ini, waktu masih terbagi buat kerja dan bikin boneka. Nanti, pas pensiun akan lebih banyak waktu buat boneka,”jelasnya.
Mewariskan Ke Anak Cucu
Usahanya membuat boneka ondel-ondel Betawi yang dibandrol Rp35 ribu per pasang, Lukman mengantongi omset sehari minimal Rp500 ribu hingga Rp1,5 juta. Usaha yang sudah lama digelutinya ini, diharapkan bisa menurunkan ke anak cucu untuk melestarikan budaya Betawi. “Anak-anak saya kalau mau lanjutkan sudah ada barangnya dan mereka semuanya punya bakat seni yang dharapkan bisa berkarya selain boneka ondel ondel juga hal lainnya,”ungkapnya.
Selain itu, Lukman juga memiliki target pasca pensiun nanti, usahanya sebagai pengrajin ondel ondel Betawi bisa lebih maju dengan memiliki toko baru. Pasalnya, selamai ini semua barang dagangannya masih naruh ke orang dan belum memiliki toko sendiri.
Lukman juga merasa bangga bila warisan budaya Betawi yang selama ini digelutinya bisa diwariskan ke orang lain, karena pengalamannya diundang untuk memberikan pelatihan di Pondok Pesantren Darussalam Ponorogo (Gontor), semakin membuktikan bahwa ondel-ondel tidak hanya membawa berkah materi, tetapi juga nilai-nilai spiritual.
Lukman berkomitmen untuk terus menjaga dan melestarikan ondel-ondel, sebagai bagian dari warisan budaya Betawi yang harus tetap hidup. Menurut Lukman, menjaga seni ini adalah sebuah bentuk ibadah dan tanggung jawab, yang akan dia jalani sampai akhir hayatnya.
Geliat usaha kerajinan boneka ondel-ondel milik Lukman menjadi salah satu perhatian dan dukungan PT Bank Rakyat Indonesia untuk mendorong UMKM naik kelas dan produktif. Melalui perluasan akses permodalan, program Kredit Usaha Rakyat (KUR) diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan produktivitas usaha, sekaligus mendorong perputaran ekonomi di berbagai daerah.
Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya mengatakan, sebagai penyalur KUR terbesar di Indonesia, BRI terus memperkuat kontribusinya dalam mendukung program Asta Cita Pemerintah, khususnya terkait swasembada pangan nasional.“Dalam empat bulan pertama tahun 2026, penyaluran KUR BRI telah menjangkau 558 ribu petani dan 23 ribu nelayan,” ujar Akhmad.
Dalam implementasinya, kata Akhmad, BRI juga terus menerapkan prinsip kehati-hatian dengan mengedepankan aspek transparansi dan akuntabilitas. Hal ini dinilai penting karena dana KUR bersumber dari penghimpunan dana masyarakat sehingga kualitas kredit harus tetap terjaga. Lebih lanjut, penyaluran KUR BRI juga diarahkan agar para debitur dapat naik kelas melalui peningkatan kapasitas usaha dan skala bisnis.






































