Beranda Ekonomi Daerah Kementan Dukung Pelestarian Hoya, Kekayaan Plasma Nutfah Indonesia yang Mendunia

Kementan Dukung Pelestarian Hoya, Kekayaan Plasma Nutfah Indonesia yang Mendunia

32
0

YOGYAKARTA – Kementerian Pertanian memperkuat komitmennya pengembangan kekayaan sumber daya genetik tanaman Indonesia. Salah satunya melalui pendaftaran varietas Hoya. Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan kekayaan varietas Hoya terdokumentasi, memiliki identitas, serta dapat dilestarikan dan dikembangkan secara berkelanjutan.

Komitmen itu ditunjukkan melalui penyerahan Tanda Daftar Varietas (TDV) Hoya, yang dirangkaikan dengan peluncuran buku Hoya Plantation: Plasma Nutfah Genetika yang Dihargai Dunia karya Hervia Latuconsina Budi, serta pameran Hoya dan anggrek spesies yang diselenggarakan Perkumpulan Pelestari Tanaman Hoya Indonesia (PPTHI).

Kepala Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (Pusat PVTPP) Leli Nuryati dalam kesempatan sebelumnya mengatakan pendaftaran dokumentasi dan pelestarian varietas Hoya bisa dilakukan melalui sumber PVTPP secara online maupun offline. Bagi Leli, pendaftaran varietas bukan sekadar kegiatan administratif maupun seremoni. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mendokumentasikan, mengakui, melestarikan, dan mengembangkan kekayaan varietas tanaman Indonesia.

“Pendaftaran varietas bukanlah akhir, melainkan awal dari tanggung jawab untuk menjaga identitas, keberadaan, dan keberlanjutan varietas tersebut,” ujar Leli beberapa waktu lalu.

Berdasarkan data Pusat PVTPP, hingga kini telah diterbitkan 25 Tanda Daftar Varietas Hoya atas nama Bupati Sleman. Sebanyak 10 varietas terdaftar pada 2024, lima varietas pada 2025 dan 10 varietas pada 2026. Adapun lima varietas yang terdaftar pada 2025 terdiri atas Arum Pethak, Keningar, Matasari, Re Surai, dan Kembang Roket.

Sementara 10 varietas yang terdaftar pada 2026 adalah Si Tangkai Merah, Juntai Pastika, Citra Manah, Patera Garib, Wangijambera, Meta Arunika, Dolipink, Katra Aruna, Manusa, dan Ronsina.

Leli menegaskan, varietas yang telah terdaftar harus terus dijaga, dikembangkan, dan dimanfaatkan secara berkelanjutan sehingga pendaftaran benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Selain memiliki nilai konservasi, Hoya juga menyimpan potensi ekonomi yang besar. Keragaman bentuk, warna, corak daun, dan bunga membuat tanaman ini memiliki daya tarik sebagai tanaman hias,” katanya.

Ketua Kelompok Pendaftaran dan Pelepasan Varietas Tanaman, Nani Suwarni dalam kesempatan ini mengatakan bahwa kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, komunitas, pemulia, peneliti, pelestari dan pelaku usaha dinilai penting untuk mendorong Hoya berkembang dari sekadar tanaman koleksi menjadi komoditas tanaman hias bernilai ekonomi dan berdaya saing.

“PPTHI yang telah berbadan hukum dan memiliki jejaring di berbagai daerah juga terus melakukan eksplorasi, identifikasi, perawatan dan dokumentasi Hoya. Dukungan BRIN turut diberikan dalam proses identifikasi dan pendokumentasian berbagai jenis Hoya,” katanya.

Nani mengatakan, peluncuran buku Hoya Plantation: Plasma Nutfah Genetika yang Dihargai Dunia menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Buku karya Hervia Latuconsina Budi itu mendokumentasikan kekayaan dan keragaman Hoya sekaligus menjadi sarana untuk meningkatkan pengetahuan serta kecintaan masyarakat terhadap tanaman tersebut.

“Hoya Indonesia memiliki kekayaan yang luar biasa. Buku ini merupakan warisan untuk anak bangsa agar kekayaan tersebut dapat terus digali, dikenalkan, dan diwariskan kepada generasi muda,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menekankan bahwa sumber daya genetik merupakan kekayaan yang menjadi tanggung jawab bersama. Pelestarian, kata dia, juga harus melibatkan generasi muda agar kekayaan hayati Indonesia tidak berhenti pada generasi sebelumnya.

“Seharusnya yang menjaga bukan hanya yang sudah pensiun, tetapi juga anak-anak muda. Bagaimana alam memberikan manfaat dan bagaimana kekayaan yang kita miliki dapat terus dikembangkan,” katanya.

Pemerintah daerah juga masih memiliki pekerjaan rumah untuk mengembangkan varietas yang telah terdaftar agar memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat. Berbagai program seperti Jogja Benih, Tani Lestari, dan pelatihan diharapkan menjadi ruang untuk memperkuat pengembangan tanaman dan sumber daya genetik daerah.

“Ke depan, pengembangan tidak hanya diarahkan pada Hoya dan anggrek, tetapi juga berbagai tanaman potensial lainnya, termasuk pisang,” katanya.

Melalui upaya tersebut, Hoya menjadi contoh bahwa kekayaan hayati Indonesia dapat tumbuh dari titik-titik kecil dan kemudian memberikan nilai bagi bangsa. Tanaman yang dirawat, pengetahuan yang ditulis serta varietas yang didaftarkan dan dilindungi merupakan investasi kekayaan hayati dan pengetahuan untuk generasi mendatang.

“Kami akan terus mendorong kemudahan pendaftaran varietas tanaman serta memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan. Dengan sinergi tersebut, Hoya diharapkan semakin dikenal sebagai bagian dari kekayaan hayati Indonesia sekaligus mampu memiliki daya saing di pasar nasional maupun internasional,” jelasnya.

Artikulli paraprakDari Pilah Sampah ke Jaga Keanekaragaman Hayati, MSIG Indonesia Ajak Siswa Sekolah Dasar Jadi Agen Perubahan
Artikulli tjetërSynergy Roadshow 2026, BPKH dan Bank Muamalat Sambangi Medan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini