Menjalin hubungan hingga serius sampai pelaminan tidak cukup soal keberanian ataupun cinta saja, tetapi juga bicara soal perencananan keuangan, komitmen dan transparansi untuk tujuan yang sama dan masa depan. Pasalnya, membangun hubungan yang sehat bukan hanya tentang perhatian dan waktu, tapi juga tentang bagaimana dua orang menyatukan kebiasaan finansial yang berbeda dalam satu tujuan bersama.
Hal inilah yang sudah dilakukan Deni Hutajulu (27), bujang Batak asal Tangerang ini memiliki impian untuk menikah dengan pasangan pilihannya yang juga Batak dari marga Ritonga, sudah dikenal tiga tahun lalu. Keduanya, selalu terbuka soal perencanaan keuangan sejak pacaran, termasuk investasi sebagai modal buat menikah.
Meskipun saat ini tren anak gen Z menikah cukup di Kantor Urusan Agama (KUA), tanpa pesta di tengah biaya pernikahan yang tak murah tetapi sah secara hukum dan tanpa beban utang menjadi alasan sangat rasional karena fokus kedepan adalah kehidupan setelah menikah. Namun bagi Deni, pesta kecil untuk meramaikan pernikahan dibutuhkan baginya untuk memberikan kabar gembira bagi sanak saudara dan teman sejawat. Terlebih, nilai kebudayaan sangat kental dipegang keluarga Deni. Hal inilah yang mejadi alasan Deni untuk tetap memilih pesta resepsi pernikahan. “Pesta nikah perlu untuk mengenalkan budaya dan berbagi kebahagian kepada keluarga, apalagi saya anak pertama,”ungkapnya.
Sadar biaya nikah adat Batak banyak rangkaian prosesnya mulai dari lamaran, mahar hingga nikah yang harus dilalui butuh biaya tidak murah. Oleh karena itu, Deni bersama calon pasangannya sudah menabung bersama dan merencanakan keuangan. Alhasil berkat komitmen bersama dan transparansi sejak pacaran bisa mewujudkan pernikahan impian bersama pasangannya tanpa lagi harus kesulitan dapat tambahan modal.
Apa yang telah dilakukan Deni dengan pasangannya, menjadi gambaran pentingnya perencanaan keuangan dan persiapan menjelang pernikahan tanpa lagi saling mengandalkan. Menurut Chief Client Officer sekaligus chief matchmaker Tawkify, sebuah lembaga survei biro jodoh asal Amerika Serikat, Brie Temple kepada The New York Post, perbedaan pandangan tentang keuangan antar pasangan dapat memicu masalah di kemudian hari, meskipun dua individu memiliki kecocokan secara emosional. “Meskipun dua orang benar-benar akur, perbedaan pandangan tentang keuangan dapat menyebabkan masalah di kemudian hari,” ujarnya.
Survei tersebut juga menemukan bahwa hampir 70% responden lintas generasi pernah bertahan dalam hubungan lebih lama dari yang seharusnya karena faktor keuangan bersama. Seperempat dari mereka menyebut hubungan tersebut sudah berlangsung dalam jangka panjang.
Dalam surveinya terbaru juga menyebutkan, 46% Gen Z memilih stabilitas keuangan jangka panjang dibandingkan romansa. Bahkan, hampir satu dari tiga responden Gen Z mengaku bersedia kembali dengan mantan pasangan jika mantan tersebut menjadi kaya raya. Hal ini menegaskan, stabilitas finansial kini menjadi pertimbangan penting dalam hubungan asmara, khususnya di kalangan Gen Z.
Bagaimanapun juga banyak pasangan sepakat soal cinta, tapi belum tentu sepakat soal cara mengatur keuangan. Apalagi ngomongin soal uang sering kali terasa lebih sensitif dibandingkan sekadar salah paham kecil. Bukan soal siapa yang lebih sering traktir atau siapa yang paling hemat, tapi tentang bagaimana mengelola pengeluaran bersama mulai dari nongkrong yang tiba-tiba membengkak, patungan tiket konser, sampai pertanyaan sederhana: “kita mulai nabung bareng kapan?”.
Padahal, di balik obrolan receh soal traktiran atau rencana liburan impian, ada satu hal besar yang sedang dibangun, yaitu masa depan bersama. Fenomena ini makin terasa di kalangan pasangan muda yang mulai memikirkan langkah lebih serius entah untuk traveling pertama ke luar negeri, dana untuk menikah, sampai persiapan tempat tinggal setelah menikah.
Semangatnya ada, mimpinya jelas, tapi seringkali belum ada sistem yang bikin semuanya terasa adil dan transparan. Karena faktanya, mengatur uang bareng itu bukan soal siapa yang lebih besar kontribusinya, tapi bagaimana keduanya merasa nyaman, dilibatkan, dan punya tujuan yang sama.
Kata Psikolog, Inez Kristanti, sebelum membangun keluarga diperlukan banyak persiapan seperti pemeriksaan kesehatan, konseling pernikahan, persiapan keuangan, juga menyelaraskan rancana dengan pasangan,”Salah satu yang perlu jadi perhatian kita adalah jangan hanya siapkan pesta pernikahan saja. Kadang-kadang itu jadi tuntuan sosial, mengadakan pesta yang proper. Jangan sampai itu lebih diutamakan daripada persiapan untuk hadapi kehidupan pernikahan sendiri,” ujarnya
Setelah menikah, Inez juga menyebut perlu evaluasi budget lalu melanjutkan apa yang sudah dipersiapkan sebelum menikah terkait perencanaan keluarga dan finansial. Tak hanya itu, kemampuan berkomunikasi sangat penting agar dapat mengatasi konflik secara jernih.”Bekali dengan kemampuan komunikasi untuk bisa selesaikan masalah, saling mau mendengarkan, bukan bicara sendiri sehingga kita lihat pasangan dan kita satu tim, bukan bersaing,” tuturnya.
Penyelarasan dan Transparan
Sementara menurut perencana keuangan atau financial planner, Rista Zwestika menggarisbawahi perlunya penyelarasan rencana dan keterbukaan tentang keuangan sebelum pasangan memasuki jenjang pernikahan. Terlebih, topik perencanaan keuangan dengan pasangan bukan lagi hal tabu.”Menikah bukan hanya tentang cinta kemudian dipersatukan. Biasanya karena udah kadung cinta buta, nanti aja kita omongin keuangan. Faktanya banyak sekali ketika masuk rumah tangga, nyesel deh ternyata dia sandwich generation, pendapatannya enggak sesuai, masa depannya suram,” ujarnya.
Rista menyarankan agar perencanaan keuangan ini, bisa dibicarakan saat sepasang kekasih mulai berpikir untuk melanjutkan ke jenjang serius. Sebut saja, soal couple budgeting atau tabungan bersama yang bukan berarti semua harus serba 50:50. Ada pasangan yang memilih proporsional sesuai penghasilan, ada yang tetap memiliki rekening masing-masing ditambah satu rekening bersama, ada juga yang membagi tanggung jawab berdasarkan kebutuhan. Dalam praktiknya, tantangan terbesar sering kali bukan nominalnya, melainkan komunikasi dan visibilitasnya.
Ketika salah satu merasa lebih banyak mengeluarkan uang, atau merasa tidak tahu uang bersama digunakan untuk apa, di situlah potensi gesekan muncul. Karena itu, pasangan membutuhkan sistem yang simpel, transparan, dan bisa diakses bersama tanpa perlu catatan manual yang jarang dibuka kembali.
Menurutnya, adanya perencanaan yang matang, kesiapan psikologis, serta edukasi yang sesuai, diharapkan akan menekan kemungkinan terjadinya kehamilan yang tidak direncanakan serta mengurangi risiko pernikahan dan perceraian usia dini.”Ada baiknya biasakan ngomongin keuangan, artinya ada keterbukaan soal keuangan. Waktu tepat adalah ketika kita serius ngomongin pernikahan berarti sudah terbuka soal keuangan,” sarannya.
Berangkat dari upaya membantu mengatur keuangan bersama pasangan, BCA Digital hadirkan layanan bluGether sebagai solusi rekening bersama untuk kebutuhan kolektif. Mulai dari dana pernikahan, biaya tempat tinggal, hingga anggaran bulanan rumah tangga, semuanya bisa dikelola dalam satu tempat yang sama.

Masing masing berkontribusi sesuai kesepakatan, dan setiap transaksi tercatat transparan sehingga kedua belah pihak bisa memantau arus keuangan dengan jelas. Tidak ada lagi drama klasik setelah bayar makan, “Nanti aku transfer ya.” “Iyaaa…” yang berujung lupa atau tertunda.
Untuk kebutuhan transaksi sehari hari, bluSpending hadir sebagai akun tambahan untuk memisahkan alokasi dana khusus bertransaksi. Budgeting jadi lebih mudah dan rapi karena dana pengeluaran sudah terpisah dari dana utama, sekaligus membuat proses pembayaran terasa lebih cepat dan praktis. Pada akhirnya, pengelolaan keuangan dalam hubungan yang serius tidak lagi sensitif, melainkan kolaboratif dan terstruktur.
Kemudian bagi mereka yang memiliki hubungan di fase penjajakan belum tentu mengharuskan semua rencana langsung digabung, kan? Justru di tahap ini, yang penting adalah sama sama belajar bertanggung jawab atas tujuan finansial pribadi. Lewat fitur bluSaving dari blu by BCA Digital, masing masing tetap bisa punya pos tabungan sendiri sesuai rencana hidupnya. Mau itu bluSaving “Trip Bareng Kalau Jadi”, bluSaving “Dana Nikah 2027 (Aamiin)”, atau bluSaving “DP Rumah Versi Aku Dulu.”
Sesekali ada momen patungan nonton, makan, atau beli tiket konser bareng dan perlu saling mengingatkan, tersedia juga fitur Tagih Dana yang bikin prosesnya lebih praktis dan tidak canggung. Pada akhirnya, hubungan yang matang bukan hanya tentang “kita”, tapi juga tentang dua individu yang sama sama stabil secara finansial. Lebih rapi, lebih terarah, dan tetap nyaman di fase masing masing.
Nariswari Yudianti, Head of Corporate Communications BCA Digital, mengatakan, dalam sebuah hubungan, transparansi dan komunikasi adalah fondasi yang penting, termasuk dalam mengelola keuangan bersama. “Kami melihat semakin banyak pasangan muda yang mulai menyadari bahwa membangun masa depan tidak hanya soal perasaan, tetapi juga kesiapan finansial. Melalui fitur seperti bluSaving dan bluGether, blu by BCA Digital ingin menghadirkan solusi yang membantu pasangan merencanakan tujuan bersama dengan lebih terstruktur dan transparan. Dengan sistem yang praktis dan mudah diakses, blu berupaya menjadi partner finansial yang mendukung setiap langkah sobatblu dalam membangun komitmen jangka panjang.”tandasnya.
Berbagai solusi yang relevan dan mudah digunakan, blu by BCA Digital membantu pasangan muda mengelola keuangan bersama dengan lebih rapi dan terbuka. Ketika tujuan disusun dengan jelas dan kontribusi terasa adil, hubungan pun dapat berjalan lebih harmonis tanpa drama.






































