Senja menjelang malam aktivitas masyarakat belum juga sepi menemani kesibukan Limin (48), pedagang bakso Braling atau kepanjangan bakso Purbalingga menata dan menyiapkan mangkok untuk pembelinya yang ramai saat pulang kantor. Kemcaten lalu lintas di stasiun Lebak Bulus menjadi view tersendiri pembeli yang makan di tempat. Tak ada meja dan tenda, hanya bernaung dari lorong stasiun MRT menjadi jajanan sederhana dan merakyat bagi pelanggannya.
Gerobaknya yang mangkal di depan kantor Dinas Pemadam Kebarakan Lebak Bulus Jakarta Selatan, sudah terlihat bila turun dari lift stasiun MRT Lebak Bulus. Lokasi yang strategis ini makin memudahkan pengguna MRT untuk menyantap gurihnya bakso urat dan telur yang disajikan. Harganya pun terjangkau Rp18 ribu perporsinya bisa sudah kenyang di perut.
Usaha baksonya yang digelutinya sejak tahun 1995 dengan modal awal Rp1 juta kala itu masih bertahan hingga saat ini dan bahkan punya cabang yang tak jauh dari tempat dirinya mangkal, “Modal bakso waktu itu sekitar Rp1 juta masih murah dan hingga saat ini masih bertahan,”ujarnya kepada Neraca.
Sementara cabang lainnya di kompek Perumahan PU dipegang sang anak yang lokasinya persis disamping kantor dinas Pemadam Kebarakan Jakarta Selatan. Kelihaiannya memasak bakso buatannya sendiri dan meracik bumbu bakso, diakui bapak dua anak ini belajar dari teman. Ya, apa yang menjadi usaha Limin merupakan proses panjang usahanya merantau ke Jakarta di tahu 1992.
Di balik semangkuk bakso yang hangat, tersimpan kisah perjuangan diriya. Jauh sebelum dagang bakso, disampaikan Limin, beragam usaha dan profesi sudah dilakoninya hanya untuk bertahan di Jakarta, mulai dari sama orang sebagai cleaning service, kerja tukang di proyek, hingga kernet metro mini,”Semua pekerjaan sudah dilakukan untuk mencukupi kehidupan di Jakarta dan semua dirasakan masih kurang,”katanya.
Limin yang merupakan lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) ini tak pernah lelah untuk terus mencoba usaha lainnya demi membawa perubahan kehidupan lebih baik bagi keluarganya. Hingga pada akhirnya, dirinya dipertemukan dengan teman yang sudah lama berdagang bakso dan belajar darinya.
Menurutnya, bakso termasuk makanan yang peminatnya stabil dan luas. Setiap hari pasti ada saja orang yang ingin makan bakso, baik di siang hari maupun sore hari. Dengan modal kecil dan keahlian yang dimiliki, usaha bakso dianggap sebagai pilihan yang paling realistis dan menjanjikan.
Ia juga menilai bahwa usaha bakso bisa dikerjakan dari rumah, sehingga lebih fleksibel dan bisa tetap dekat dengan keluarga. Prinsipnya sederhana selama masih ada niat dan usaha, pasti ada jalan rezeki.
Meski sempat berpindah tempat, bakso Braling akhirnya bermuara di Lebak Bulus. Dari usaha dagangnya yang dimulai jam 12 siang hingga 12 malam, Limin bisa mengantongi omset Rp3,5 juta perharinya bila ramai. Namun kalau sepi gak sampai Rp1 juta.
Dukungan BRI
Naik turunnya usaha mewarnai perjalan Limin berwirausaha. Namun hal tersebut tak menyurutkan niatnya untuk tetap survive menjadi pedagang basko. Apalagi, dukungan modal dari PT Bank Rakyat Indonesia Tbk lewat Kredit Usaha Rakyat (KUR) membuat usahanya bisa bernafas panjang dibanding pinjam ke orang susah ya BRI pilihan tepat.”Pinjaman BRI bantu usaha saya untuk maju dari ancaman gulung tikar. Yang penting kita disiplin bayar bulanan dan jangan telat lewat bulannya,”ungkapnya.
Dirinya sendiri sudah empat kali melakukan pinjman KUR BRI dari awal tahun 2005 sebesar Rp10 juta, 20, 30 hingga Rp35 juta. Kini berkat sokongan pinjaman modal BRI, usaha bakso Bralinknya mampu membawa dampak ekonomi keluarga di kampung halaman, seperti bisa renovasi rumah dan motor untuk ke sawah. Bicara target, disampaikan Limin, dirinya yang merupakan pedagang kecil tidak terlalu ambisi besar tetapi target sederhana yakni harga barang tetap stabil dan daya beli masyarakat terjaga sehingga berdampak pada usahanya yang bertahan.
Ayu (24), pembeli bakso Braling mengaku, jajanan baksonya gurih dan harga terjangkau apalagi bayar bisa pakai QRIS,”Melepas lelah naik MRT dan perut kosong, jajan bakso disni sambil nungggu jemputan menjadi pilihan yang pas,”tuturnya.

Apa yang menjadi harapan Limin sebagai pedagang kecil merupakan gambaran harapan UMKM sebagai tulang punggung perekonomian nasional dan punya peran yang sangat strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. UMKM juga punya peran penting dalam melakukan pemerataan ekonomi karena jumlahnya tersebar di seluruh wilayah Indonesia, termasuk daerah terpencil, wilayah pedesaan, dan kawasan pinggiran kota.
BRI terus berkomitmen memperkuat perannya dalam mendukung pelaku UMKM sebagai pilar utama ekonomi nasional. Selain menyediakan akses layanan keuangan, BRI aktif mendorong pertumbuhan UMKM dalam ekosistem yang produktif dan berkelanjutan melalui berbagai program pemberdayaan. Salah satu program andalan BRI adalah Klasterku Hidupku, yang berfokus pada pengembangan klaster usaha berbasis komunitas mikro.
Direktur Utama BRI, Hery Gunardi menegaskan bahwa program tersebut merupakan langkah strategis untuk mendorong UMKM naik kelas. “Kami berkomitmen untuk terus mendampingi dan membantu pelaku UMKM, tidak hanya dengan memberikan modal usaha, tetapi juga melalui pelatihan-pelatihan usaha dan program pemberdayaan lainnya, sehingga UMKM dapat terus tumbuh dan semakin tangguh,” ujar Hery.






































