Beranda Ekonomi Ketika Dunia Bergerak Menuju Energi Bersih, Hilirisasi Batu Bara Tulang Punggung Ketahanan...

Ketika Dunia Bergerak Menuju Energi Bersih, Hilirisasi Batu Bara Tulang Punggung Ketahanan Energi

12
0

Di tengah ketidakpastian global akibat dampak geopolitik di Timur Tengah memicu kenaikan harga minyak dunia melambung tinggi. Kondisi ini memberikan dampak terhadap defisit APBN yang membangkak. Maka di saat ancaman krisis energi di depan mata, bangsa ini perlu diversifikasi potensi energi berlimpah yang dimiliki, termasuk batu bara.

Bahlil Lahadalia Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyampaikan, Indonesia memiliki cadangan batu bara yang besar sehingga pemanfaatannya masih relevan, terutama dalam menghadapi dinamika ketahanan energi global,“Sekarang Amerika buka opsi batu bara. Di Eropa membuka opsi batu bara, ada minta ke kita untuk 20 juta ton per tahun,” ujar Bahlil.

Oleh karena itu, pemanfaatan batu bara masih diperlukan sebagai bagian dari strategi menjaga stabilitas pasokan dan harga energi nasional. Bahlil yang juga Ketua Satgas Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional menambahkan, melalui hilirisasi nilai batu bara tidak lagi berhenti di tambang, tetapi mengalir ke sektor industri, yang dari situ tercipta lapangan kerja, memacu investasi, serta memperkuat struktur ekonomi nasional. Hilirisasi komoditas ini juga direncanakan menggunakan batu bara berkalori rendah yang cadangannya cukup untuk menyuplai selama masa proyek.

Hal senada juga disampaikan Direktur Eksekutif Daulat Energi, Ridwan Hanafi, pemanfaatan batu bara masih sangat relevan dalam menjaga kesinambungan energi nasional di tengah dinamika geopolitik yang terus berkembang.”Indonesia berada pada posisi yang relatif lebih aman. Salah satu faktor utamanya adalah kekuatan sumber daya energi domestik, khususnya batu bara yang hingga kini masih menjadi penopang utama pembangkit listrik nasional,”kata Ridwan.

Disampaikannya, meningkatnya ketegangan geopolitik dunia dari konflik di Timur Tengah hingga perang antara Rusia dan Ukraina menjadikan ketahanan energi menjadi isu strategis yang menentukan stabilitas ekonomi suatu negara. Apalagi, di tegah upaya pemerintah mendorong penggunaan energi baru terbarukan yang terus meningkat, batu bara tetap memegang peranan strategis dalam bauran energi nasional.

Pandangan yang sama juga disampaikan Ketua Umum Ikatan Alumni Geologi Institut Teknologi Bandung (IAGL ITB), Abdul Bari, batu bara tetap memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan energi nasional. Hal ini karena secara kumulatif Indonesia memiliki sumber daya batu bara sebesar 97 miliar ton dengan cadangan terbukti sekitar 32 miliar ton.

Pemanfaatan batu bara diarahkan tidak hanya sebagai bahan bakar pembangkit listrik, tetapi juga melalui hilirisasi seperti gasifikasi menjadi dimethyl ether (DME), peningkatan kualitas, serta penerapan teknologi yang lebih ramah lingkungan. Maka seiring dengan permintaan batubara yang semakin stabil, memicu lonjakan kebutuhan operasional secara signifikan di lapangan.

Melihat prospek industri pertambangan nasional yang semakin kokoh seiring berjalannya transisi komoditas dan masifnya hilirisasi, membuat konsumsi batu bara tetap bertumbuh konsisten sebagai penopang utama kebutuhan pembangkit listrik dan transisi energi di Indonesia. Terlebih berdasarkan dokumen Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034, permintaan listrik nasional diperkirakan meningkat 5,3% setiap tahunnya. Hal ini mendorong proyeksi pertumbuhan konsumsi batu bara yang stabil sebagai pilar utama produksi listrik tanah air. Akibatnya, skala aktivitas pertambangan menjadi jauh lebih masif dan memiliki tingkat kompleksitas teknis yang semakin tinggi.

 

Memacu Produksi

Berangkat dari prospek cerahnya bisnis batu bara, MIND ID sebagai Holding Industri Pertambangan Indonesia melalui PT Bukit Asam Tbk (PTBA) terus mendorong peningkatan kapasitas produksi yang menjadi salah satu penopang utama bauran energi nasional. Saat ini, Bukit Asam memiliki kapasitas produksi sebesar 43 juta ton per tahun dan menargetkan peningkatan kapasitas hingga mencapai 100 juta ton per tahun dalam tiga hingga empat tahun ke depan.

Sebagian besar produksi tersebut diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, dengan sekitar 52% produksi untuk mencukupi kebutuhan listrik domestik. Ke depan, permintaan batu bara domestik diperkirakan masih akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan kebutuhan listrik, ekspansi industri manufaktur, serta pengembangan hilirisasi di dalam negeri.

 

Untuk memastikan kelancaran pasokan tersebut, Bukit Asam memulai pembangunan fasilitas Coal Handling Facility (CHF) dan Train Loading Station (TLS) 6-7 pada jalur angkutan batu bara relasi Tanjung Enim-Kramasan. Fasilitas ini akan menambah kapasitas angkutan hingga 20 juta ton per tahun. Hingga periode 31 Januari 2026, progres pembangunan CHF dan TLS 6-7 mencapai 80,81%. Kemudian untuk memastikan penyelesaian proyek, PTBA telah memperoleh fasilitas pendanaan sebesar Rp3,56 triliun dari tiga bank HIMBARA.

Direktur Strategi Hilirisasi dan Ekosistem Mineral MIND ID, Tedy Badrujaman, menyampaikan kedaulatan energi merupakan kebutuhan strategis bagi Indonesia sebagai negara yang memiliki sumber daya energi yang besar. Menurutnya, MIND ID sebagai salah satu pengelola cadangan batu bara nasional terus berkomitmen mendukung pemerintah dalam mewujudkan ketahanan energi, sebagaimana tertuang dalam Asta Cita Presiden. “Proyek ini merupakan fondasi penting bagi ketahanan energi nasional, dan kami akan mengawal penyelesaiannya sesuai dengan rencana,” kata Tedy.

Dia menambahkan, melalui pilar strategis optimalisasi logistik, PTBA akan terus didorong untuk melakukan peningkatan kapasitas angkutan sebagai prioritas utama.”Kami berharap melalui proyek ini kapasitas angkutan batu bara PTBA dapat meningkat, sehingga perusahaan semakin mampu memperkuat kontribusinya dalam menjaga ketahanan energi nasional,” jelasnya.

Kata Direktur Utama PTBA, Arsal Ismail, perseroan mencatat pertumbuhan produksi dan penjualan batu bara sepanjang 2025 di tengah tekanan harga batu bara global. PTBA mencatat produksi sekitar 47,2 juta ton pada 2025 yang menunjukkan ketahanan sektor batu bara di tengah tekanan, sekaligus menjadi jaminan bahwa pasokan energi tetap tersedia bagi masyarakat dan industri.

Penjualan juga tumbuh 6% menjadi 45,4 juta ton, sejalan dengan volume angkutan batu bara yang naik 6% dari 38,2 juta ton pada 2024 menjadi 40,4 juta ton pada 2025. Lebih dari sekadar produksi dan penjualan, perseroan juga memperkuat infrastruktur logistik.  Di sisi hilirisasi, PTBA juga aktif mengembangkan berbagai inovasi, mulai dari pengolahan batu bara menjadi DME sebagai substitusi LPG hingga Synthetic Natural Gas (SNG) sebagai alternatif energi.

Langkah ini tidak hanya memperkuat kemandirian energi, tetapi juga meningkatkan nilai tambah di dalam negeri. Dunia memang bergerak menuju energi yang lebih bersih, namun bagi Indonesia, batu bara masih akan menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut.

Menurut Sukarno Alatas, Senior Equity Analyst Kiwoom Sekuritas, proyek hilirisasi yang dikerjakan PTBA diproyeksi menjadi katalis pendorong kinerja dalam jangka panjang. Dukungan pemerintah yang kuat, kejelasan peran Pertamina sebagai pembeli, dan sinergi dengan MIND ID–Danantara meningkatkan kredibilitas pelaksanaan dan mendukung transformasi PTBA menjadi pemain energi terintegrasi, dengan potensi peningkatan valuasi.

Namun, jika berhasil dilaksanakan, Sukarno menilai DME dapat memberikan kontribusi sekitar Rp 1,4 triliun – Rp 2,3 triliun dalam laba tahunan. Nilai itu sekitar 10% – 20% dari pendapatan PTBA, dengan profil pendapatan yang lebih stabil daripada batubara. Selain itu, PTBA turut berperan dalam pengembangan fasilitas pengolahan dan pemurnian Bauksit–Alumina–Aluminium di Mempawah, Kalimantan Barat, melalui penyediaan pasokan energi.

Sebagai bagian dari ekosistem hilirisasi mineral nasional, PTBA berperan dalam memastikan ketersediaan sumber energi (Power Solution) untuk memenuhi kebutuhan operasional Smelter Aluminium. Fasilitas yang telah menjadi penghubung penting dalam rantai pasok pengolahan dan pemurnian bauksit – alumina – aluminium secara terintegrasi di Indonesia ini memiliki kapasitas pengolahan mencapai 3 juta ton bauksit menjadi 1 juta ton alumina per tahun. Selanjutnya, 1 juta ton alumina itu akan diolah menjadi 600 ribu ton aluminium.

 

Artikulli paraprakKekebalan Tumbuh Untuk Generasi Emas, Menggugah Kesadaran Masyarakat Optimalisasi Vaksin Flu
Artikulli tjetërDian Widyanarti Raih Indonesia Leading Women Awards 2026 sebagai Outstanding Leader in Regulatory Advocacy and Responsible Industry Policy

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini