Membangunan ketahanan dan membentuk imunitas tubuh dari beragam penyakit, khususnya pada anak, maka vaksin anak adalah pilihannya. Namun banyak orang tua yang belum terbuka pandangannya tentang pentingnya imunisasi anak untuk kekebalan tubuh. Meski hal ini tidak wajib, namun imunisasi baik secara mandiri ataupun yang diadakan di sekolah mempunyai peran penting mewujudkan generasi sehat, kuat dan cerdas.
Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Piprim Basarah Yanuarso menekankan pentingnya peningkatan edukasi tentang manfaat imunisasi bagi kesehatan anak guna mengoptimalkan cakupan program vaksinasi. Pasalnya, pemahaman masyarakat mengenai imunisasi anak umumnya memang sudah tinggi di kota-kota besar, tetapi tidak demikian halnya dengan masyarakat di daerah. “Kita tidak pungkiri bahwa di kota-kota besar orang tua yang kesadaran akan imunisasi itu tinggi itu,”ujarnya.
Kondisi minimnya edukasi, lanjutnya, membuat cakupan program imunisasi anak tidak optimal dan meningkatkan peluang munculnya kejadian luar biasa penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi.”KLB bermunculan kembali jadi satu fakta bahwa cakupan imunisasi di Indonesia itu tidak optimal,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan edukasi mengenai pentingnya vaksinasi untuk melindungi anak dari penyakit-penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi harus ditingkatkan.”Jadi, saya kira kita tidak lagi bisa mengabaikan pentingnya edukasi terhadap imunisasi. Penting adanya penguatan kembali imunisasi, supaya hal-hal seperti ini bisa diatasi dengan baik,” katanya.
Disampaikannya, penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi jauh lebih berbahaya dibandingkan efek samping ringan setelah disuntik. OIeh karena itu, perlunya meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dalam memberikan edukasi mengenai pentingnya imunisasi anak.”Tenaga kesehatan perlu memberikan edukasi dengan bahasa sederhana agar orang tua semakin percaya bahwa vaksinasi sangat bermanfaat,” katanya.
Hal senada juga disampaikan guru besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Dr. dr. Soedjatmiko Sp.A (K) M.Si, kekebalan tubuh yang spesifik terhadap virus dan bakteri tertentu hanya bisa dicapai dengan imunisasi yang harus dilengkapi anak dari bayi hingga usia sekolah.“Yang praktis, sudah terbukti di banyak negara adalah dengan imunisasi, gratis di fasilitas kesehatan pemerintah tinggal datang,” kata Prof. Miko sapaan akrabnya.
Berdasarkan survei Kementerian Kesehatan tahun 2023, anak yang imunisasinya tidak lengkap karena 31-50% orang tua atau keluarga yang tidak mengizinkan anak di imunisasi, selain itu orang tua juga masih belum memahami bahaya penyakit yang ditimbulkan bila tidak imunisasi.
Ada juga yang beralasan ragu dengan keamanan imunisasi dan khawatir akan efek samping imunisasi atau KIPI (kejadian ikutan pasca imunisasi) sekitar 31,2-47,3%. Sementara pada survei UNICEF tahun 2023 di lima kota besar Indonesia menyebutkan 37,7% masyarakat takut anaknya diimunisasi ganda atau 2-3 dosis dalam sekali kedatangan.“Sebab utamanya tidak memahami bahaya penyakit, lebih memikirkan takut KIPI, imunisasi ganda, padahal bahaya penyakitnya jauh lebih besar daripada imunisasi ganda, banyak yang tidak tahu di rumah sakit banyak anak yang sakit berat dan meninggal,” kata Prof Miko.
Pada dasarnya, vaksin untuk menjaga kekebalan tubuh tidak hanya diperuntukkan untuk anak saja, tetapi dewasa juga perlu. Hanya saja, anak-anak menjadi prioritas karena kekebalan tubuhnya sangat rentan terhadap virus yang ada. Tengok saja virus di musim pancaroba yang penyebarannya cukup agresif dan bisa menyerang orang dewasa.
Kontribusi Kalbe
Maka berangkat dari upaya mencegah ketahanan kesehatan, PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) melalui anak usahanya, PT Kalventis Sinergi Farma (Kalventis) menghadirkan vaksin influenza trivalent. Langkah ini selaras dengan World Health Organization (WHO) yang merekomendasikan transisi penggunaan vaksin influenza quadrivalent (QIV) ke vaksin influenza trivalent (TIV).
Influenza masih menjadi ancaman kesehatan pernapasan global yang signifikan, dengan perkiraan 290.000 hingga 650.000 kematian setiap tahunnya di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Di negara tropis seperti Indonesia, sirkulasi virus yang terjadi sepanjang tahun menjadikan influenza sebagai tantangan kesehatan masyarakat yang perlu diantisipasi secara berkelanjutan.
Sejalan dengan hal tersebut, vaksin influenza tetap berperan penting dalam melindungi masyarakat dari risiko infeksi dan komplikasi. Dalam beberapa tahun terakhir, para ahli kesehatan global, termasuk WHO, tidak lagi menemukan sirkulasi virus B/Yamagata, sehingga mendorong penyesuaian komposisi vaksin. Perubahan rekomendasi WHO ini mencerminkan dinamika epidemiologi influenza global yang perlu direspons secara ilmiah dan adaptif. “Selama lebih dari satu dekade, vaksin quadrivalent dikembangkan untuk melindungi dari dua galur virus flu jenis A yaitu H1N1 dan H3N2 serta dua galur virus flu jenis B yaitu Victoria dan Yamagata. Namun, sejak tahun 2020, virus B/Yamagata tidak ditemukan lagi di seluruh dunia. Oleh karena itu, pada 2023, WHO menilai bahwa keberadaan komponen virus B/Yamagata dalam vaksin tidak diperlukan lagi,” ujar Prof. Dr. Miko yang Satgas Imunisasi IDAI.
Sejumlah studi menunjukkan bahwa vaksin influenza trivalent memiliki profil imunogenisitas, efektivitas, dan keamanan yang sebanding dengan vaksin quadrivalent. Prof. Soedjatmiko pun menambahkan bahwa efektivitas vaksin ditentukan oleh kesesuaian antigen dengan virus yang beredar. Dengan demikian, vaksin influenza trivalent tetap memberikan perlindungan optimal terhadap ancaman influenza. “Transisi dari QIV ke TIV bukanlah bentuk pengurangan perlindungan, melainkan optimalisasi vaksin sesuai dengan bukti ilmiah terbaru. Fokus utama tetap pada vaksin influenza trivalent untuk melindungi seluruh anggota keluarga, dari bayi hingga lansia, dengan harga yang lebih ekonomis sehingga dapat diberikan setiap tahun. Jadwal imunisasi anak dan dan dewasa juga tetap sama,” tambah Prof. Soedjatmiko.
Meskipun kerap dianggap ringan, influenza dapat berdampak serius, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, dan anak-anak. Secara global, tingkat kejadian influenza pada anak mencapai 20–30%. Persentase ini lebih tinggi dibandingkan orang dewasa. Berdasarkan hasil pengolahan data surveilans Influenza Like Illness (ILI) di Puskesmas Jawa Barat tahun 2023, total jumlah kasus ILI terjadi paling banyak pada populasi anak usia 5-15 tahun, dan dapat terjadi pada kelompok usia lain.“Anak-anak berkontribusi lebih besar terhadap penyebaran influenza di masyarakat karena daya tularnya yang tinggi dan keberadaan virus influenza di dalam tubuh anak yang lebih lama dibandingkan orang dewasa, sehingga sudah bisa menularkan walaupun belum ada gejala atau sesudah sembuh dari sakit influenza. Komplikasi influenza pada anak juga termasuk serius dan membahayakan, seperti pneumonia, infeksi telinga, infeksi sinus, hingga ensefalitis,”kata dokter Spesialis Anak, dr. Kanya Ayu, Sp.A.
Selain itu, tambah dr. Kanya, angka rawat inap pada anak usia pra-sekolah sebanding dengan angka rawat inap pada kelompok usia 50 hingga 64 tahun. Oleh karena itu, vaksinasi influenza tahunan disarankan diberikan kepada anak-anak, mulai usia 6 bulan. Vaksin berperan sebagai tindakan pencegahan utama untuk mengurangi kasus kematian dan rawat inap yang disebabkan virus influenza, serta penularan kepada usia lansia yang mungkin serumah dengan anak. “Peralihan ke vaksin influenza trivalent disesuaikan dengan memperkuat perlindungan pada strain yang relevan, termasuk pada anak. IDAI merekomendasikan vaksin flu mulai dari usia 6 bulan. Pada umur 6 bulan sampai 8 tahun, imunisasi pertama sebanyak 2 dosis dengan jarak minimal 4 minggu, lalu diulang 1 kali setiap tahun. Sedangkan untuk anak usia di atas 9 tahun, imunisasi pertama cukup diberikan satu dosis, lalu juga diulang setiap tahunnya,” pungkas dr. Kanya.
Sementara Vidi Agiorno, Presiden Direktur PT Kalventis Sinergi Farma menambahkan, Kalbe melalui Kalventis berkomitmen menyediakan solusi pencegahan penyakit menular yang mutakhir dan efektif bagi masyarakat Indonesia dengan menghadirkan vaksin influenza trivalent. “Ketersediaan vaksin ini penting untuk untuk mencegah perburukan akibat penyakit influenza, risiko rawat inap, dan kematian. Upaya ini juga mendukung tema World Immunization Week yaitu “For Every Generation, Vaccines Work” yang mengingatkan kita mengenai manfaat perlindungan vaksin di segala usia demi memperpanjang harapan hidup,” ujarnya.
Sebagai perusahaan farmasi yang berlandaskan sains dan data, lanjutnya, Kalventis bersama Kalbe menghadirkan solusi kesehatan yang selaras rekomendasi WHO. “Kalventis juga membangun dan ekosistem yang mencakup edukasi bagi tenaga kesehatan, penyediaan informasi layanan vaksinasi yang mudah diakses, serta kampanye kesadaran publik untuk mencapai herd immunity dan memastikan setiap keluarga Indonesia mendapatkan perlindungan optimal dari risiko influenza,” kata Vidi.




































