Beranda Ekonomi Global WTCA Dorong Peran Seni dan Budaya sebagai Instrumen Diplomasi Bisnis

WTCA Dorong Peran Seni dan Budaya sebagai Instrumen Diplomasi Bisnis

33
0

 

NERACAONLINE – Seni dan budaya semakin berperan penting dalam membangun hubungan bisnis internasional serta membuka peluang perdagangan baru. Di Indonesia, pendekatan ini juga mulai diintegrasikan dalam ekosistem bisnis global melalui berbagai inisiatif yang menghubungkan kegiatan budaya dengan aktivitas perdagangan.

Hal ini dilakukan oleh World Trade Center (WTC) Jakarta melalui program Art at WTC, yang telah diluncurkan sejak 2013. Program jangka panjang yang diinisiasi oleh Jakarta Land ini menghadirkan berbagai pameran seni dan budaya yang menampilkan karya seniman Indonesia maupun internasional. Melalui program ini, WTC Jakarta berupaya menciptakan lingkungan bisnis yang tidak hanya berfokus pada aktivitas ekonomi, tetapi juga mendorong kesadaran budaya, dialog lintas sektor, serta konektivitas komunitas global.

Salah satu pameran yang diselenggarakan dalam program tersebut adalah “Sandang Sanding Agraria”, yang berlangsung pada 29 September 2025 hingga 23 Januari 2026. Pameran ini diselenggarakan bersama kurator dan penyelenggara ISA Art & Design. Bertempat di lobi utama WTC 3, pameran ini dikunjungi sekitar 17.000 pengunjung dari dalam dan luar negeri.

Pameran “Sandang Sanding Agraria” menampilkan tradisi tekstil agraria dari Tuban, Jawa Timur, melalui karya Tenun Gedog dan Batik Tuban. Kedua tradisi ini merepresentasikan hubungan erat antara manusia dan alam, termasuk siklus pertanian, kesadaran lingkungan, serta keterampilan kerajinan yang banyak dikembangkan oleh perempuan. Melalui pameran ini, masyarakat urban diajak untuk melihat kembali asal-usul, nilai, serta keberlanjutan produksi tekstil dalam konteks sistem perdagangan global.

Managing Director WTC Jakarta, William Chai, menjelaskan bahwa Art at WTC merupakan bagian dari inisiatif jangka panjang untuk mengintegrasikan seni dan budaya ke dalam kawasan WTC Jakarta, sekaligus menjadikan ruang publik di kompleks tersebut sebagai platform dialog, refleksi, dan koneksi lintas sektor dalam lingkungan bisnis internasional. “Pameran Sandang Sanding Agraria menjadi contoh bagaimana program budaya di kawasan perdagangan dapat menciptakan keterlibatan yang bermakna antara sistem wawasan lokal dengan audiens internasional,” ujar Chai.

Pendekatan yang dilakukan WTC Jakarta juga sejalan dengan pertumbuhan sektor ekonomi kreatif Indonesia, di mana seni dan budaya semakin dipandang sebagai bagian penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus memperluas peluang perdagangan.

Indonesia memiliki potensi besar dalam memanfaatkan sektor seni untuk mendukung perdagangan global. Hal ini tercermin dari perkembangan industri kreatif nasional yang terus memberikan kontribusi positif terhadap perekonomian, dengan pertumbuhan sebesar 5,69% dan nilai ekspor mencapai US$12,89 miliar. Perkembangan ini juga terlihat dari meningkatnya minat masyarakat terhadap seni melalui berbagai pameran berskala internasional seperti ArtJog, Art Jakarta, Art Moment, dan Art Subs.

Di sisi lain, karya seniman Indonesia juga semakin mendapat perhatian di pasar global. Seniman I Nyoman Masriadi mencatat sejarah sebagai seniman Asia Tenggara pertama yang karyanya terjual lebih dari US$1 juta di Sotheby’s Hong Kong. Seniman Eko Nugroho juga berhasil menggelar pameran di berbagai institusi seni internasional seperti Mori Art Museum dan Palais de Tokyo dengan karya yang mencakup mural, bordir, hingga street art.

Pendekatan yang mengintegrasikan seni dan budaya dalam ekosistem bisnis juga semakin terlihat dalam jaringan perdagangan global. Berbagai organisasi internasional kini mulai memasukkan unsur budaya dalam program dan forum bisnis sebagai sarana memperkuat hubungan serta memperluas dialog lintas negara.

World Trade Centers Association (WTCA) turut mendukung berbagai inisiatif yang menggabungkan seni, warisan budaya lokal, serta pengalaman berbasis tempat (place-based experiences) dalam forum bisnis internasional. Pendekatan ini antara lain terlihat dalam penyelenggaraan 55th annual WTCA Global Business Forum (GBF) di Marseille, Prancis, yang diselenggarakan bersama World Trade Center Marseille Provence. Selain agenda bisnis utama, para peserta juga diajak mengunjungi galeri seni lokal dan berbagai destinasi budaya di kota tersebut untuk memahami karakter budaya dan ekonomi wilayah tersebut.

Menuju WTCA Global Business Forum 2026

Di tengah dinamika geopolitik global, pendekatan yang menggabungkan perdagangan dengan seni dan budaya semakin relevan. Melalui perpaduan arsitektur, seni, dan warisan budaya, WTCA berupaya menciptakan ruang di mana hubungan bisnis dapat terbangun secara lebih kuat.

Pendekatan tersebut juga tercermin dalam 56th annual WTCA Global Business Forum (GBF) yang akan diselenggarakan oleh WTC Greater Philadelphia pada 19–22 April 2026 dengan tema “Historic Foundations, Future Collaborations: Cultivating New Business Frontiers.”

Presiden dan CEO WTC Greater Philadelphia, Thomas Young menjelaskan, forum ini ni bertujuan untuk menghargai sejarah sekaligus membuka peluang kolaborasi di masa depan. “Kami setiap tahun merayakan keberagaman diaspora dan budaya yang berkembang di Philadelphia. Koneksi tersebut juga kami manfaatkan untuk menarik pelaku bisnis dari berbagai negara datang ke Philadelphia, karena banyak di antaranya memiliki keterkaitan alami dengan komunitas diaspora di sini.”

Chair Board of Directors WTCA, John E. Drew, menambahkan, “Bisnis World Trade Center di seluruh dunia melihat bagaimana seni dan budaya dapat memperkaya bangunan mereka, aktivitas bisnis, serta konferensi dan pameran yang mereka selenggarakan. Global Business Forum adalah tempat di mana koneksi tersebut benar-benar terwujud.”

Bagi pelaku bisnis Indonesia, WTCA GBF 2026 membuka peluang untuk menjalin kemitraan lintas negara sekaligus memperluas koneksi dengan investor global. Forum ini juga menjadi kesempatan strategis untuk mempromosikan berbagai sektor unggulan Indonesia, termasuk ekonomi kreatif, di tingkat internasional.

Artikulli paraprakHUT Pertama, Agrinas Jaladri Menuju Ekosistem Perikanan Terintegrasi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini