NERACAONLINE-Indonesia menjadi salah satu negara dengan cadangan panas bumi terbesar di dunia. Namun sayangnya pemanfaatan panas bumi sebagai sumber energi hijau atau bersih belum dilakukan secara optimal. Padahal panas bumi yang dimanfaatkan bisa menghasilkan listrik hijau yang stabil. Berbeda dengan tenaga surya dan angin yang bergantung pada kondisi cuaca, panas bumi menawarkan sumber energi yang andal dan kunci untuk mengurangi ketergantungan pada energi tak terbarukan dan impor.
Menurut Asosiasi Panasbumi Indonesia, negara ini menyimpan 40% cadangan panas bumi dunia, tersebar di Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan Sulawesi, berkat posisinya di sepanjang Cincin Api Pasifik. Namun, dari total potensi sekitar 24.000 megawatt, hanya sekitar 10% yang telah dimanfaatkan sejauh ini. Besarnya kebutuhan biaya investasi, yang disertai risiko tinggi, dan keterbatasan teknologi menjadi alasan lambatnya pengembangan panas bumi. Hal inipun dibenarkan pengamat energi, Feiral Rizky Batubara, pengembangan panas bumi sebagai sumber energi listrik masih menghadapi sejumlah tantangan. Beberapa di antaranya adalah kebutuhan investasi awal yang besar, persoalan tarif keekonomian, proses perizinan, hingga kesiapan infrastruktur jaringan kelistrikan.
Karena itu, dirinya menilai diperlukan dukungan kebijakan yang lebih kuat, mulai dari skema pembagian risiko eksplorasi, penyediaan pembiayaan jangka panjang, penyederhanaan perizinan, hingga sinkronisasi antara pengembangan pembangkit dan perencanaan jaringan kelistrikan nasional.“Kalau bicara mitigasi blackout, panas bumi sebaiknya ditempatkan sebagai salah satu opsi dalam portofolio ketahanan listrik nasional. Kuncinya bukan memilih satu teknologi saja, tetapi membangun sistem kelistrikan yang lebih tangguh, tersebar, fleksibel, dan memiliki cadangan yang memadai,” ucapnya.
Namun demikian, hambatan tersebut bisa diatasi bila dilakukan secara kolaborasi guna mewujudkan kemandirian energi. Ya, pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) menjadi opsi strategis untuk menjaga keandalan sistem listrik nasional, sehingga mengurangi risiko pemadaman listrik berskala besar atau blackout.“Menurut saya, panas bumi bisa menjadi salah satu opsi strategis untuk memperkuat ketahanan sistem kelistrikan nasional, terutama sebagai bagian dari antisipasi risiko blackout. Karakternya stabil, dapat beroperasi 24 jam, tidak bergantung pada cuaca, dan bisa berperan sebagai baseload di sistem kelistrikan,” kata Feiral.
Menurut Feiral, kemampuan panas bumi untuk beroperasi stabil selama 24 jam menjadikannya salah satu sumber energi potensial dalam memperkuat keandalan pasokan listrik nasional di tengah meningkatnya kebutuhan energi. Hal senada juga disampaikan Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE), Eniya Listiani Dewi, keandalan panas bumi sebagai sumber energi listrik bisa dilihat dari pengeboran di Kamojang, dimana karakter geothermal yang mampu memasok listrik 24 jam,“Kamojang mengajarkan kita bahwa panas bumi bukan sekadar sumber energi, tetapi warisan energi yang terus hidup. Seratus tahun sejak pengeboran pertama dilakukan pada 1926, uapnya masih mengalir dan terus memberi manfaat bagi negeri. Dari Kamojang, kita melihat bahwa geothermal memiliki kekuatan untuk menjadi energi bersih yang andal, berkelanjutan, dan menjadi bagian penting dalam perjalanan Indonesia menuju kemandirian energi,”ujarnya.
Saat ini Indonesia menempati posisi nomor dua sebagai produsen listrik panas bumi secara global. Dengan kapasitas terpasang listrik dari sumber panas bumi sebesar 2.744 Megawatt (MW), posisi Indonesia hanya berada di bawah Amerika Serikat yang memiliki 3.937 MW listrik dari panas bumi,”Kita tahu bahwa geothermal adalah salah satu sumber energi baru terbarukan, dan Indonesia mempunyai cadangan yang cukup besar, terbesar di dunia. Dan dari sini, baru kurang lebih sekitar 10% yang bisa kita kelola. Artinya masih ada 90% potensi ini,” ujar Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia.

Disampaikannya, dengan anugerah potensi panas bumi yang luar biasa besar, potensi itu tidak boleh hanya tersimpan di dalam bumi atau berhenti menjadi angka. “Energinya harus kita hadirkan menjadi listrik yang memberi manfaat bagi masyarakat, menggerakkan ekonomi, dan memperkuat kemandirian energi bangsa,” ujarnya.
Potensi dengan Kolaborasi
Oleh karena itu, percepatan pengembangan geothermal membutuhkan keberanian untuk mengubah potensi menjadi proyek nyata melalui kolaborasi. Pemerintah, disampaikan Bahlil, tidak bisa berjalan sendiri, begitu juga dunia usaha. Kuncinya adalah kolaborasi. Ketika regulator, PLN, pengembang, dan seluruh pemangku kepentingan bergerak bersama, diyakini kekayaan panas bumi Indonesia dapat dioptimalkan menjadi energi bersih yang andal dan menjadi kekuatan Indonesia di masa depan.
Dari besarnya potensi panas bumi di Indonesia, Bahlil meminta untuk segera melakukan lelang Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP). Hal ini sesuai dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk melakukan reformasi dan percepatan regulasi, demi memberikan kepastian dan percepatan bagi para pelaku usaha panas bumi. Sebagai tindak lanjut, Kementerian ESDM menyederhanakan perizinan dan regulasi, yang disinyalir dapat menghambat investasi, untuk mempercepat pemanfaatan panas bumi.
Merespon potensi tersebut, PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) siap mengakselerasi pengembangan potensi energi panas bumi nasional dengan menargetkan peningkatan kapasitas terpasang dari 2,8 gigawatt (GW) saat ini menjadi 7,9 GW pada 2033 sekaligus menuju yang terbesar di dunia. Langkah strategis ini selaras dengan dokumen Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 dan target bauran energi baru terbarukan (EBT) nasional.
Direktur Utama PLN, Suroso Isnandar mengatakan, Indonesia memiliki peluang emas untuk membawa kekayaan panas bumi menjadi pemimpin energi dunia,“Sesuai arahan Pemerintah melalui RUPTL 2025-2034, dari kapasitas 2,8 GW saat ini, ke depan kami akan mendorong penambahan kapasitas sebesar 5,1 GW atau melompat menjadi total 7,9 GW pada 2033 sekaligus berpotensi menjadi yang terbesar di dunia,” tegasnya.
Ditambahkannya, sesuai peta jalan RUPTL 2025-2034, kapasitas kumulatif direncanakan naik secara bertahap melalui penambahan 110 proyek. Di mana dari total proyek tersebut, sebanyak 25 unit dengan total kapasitas 0,6 GW akan dikembangkan oleh PLN, sementara 85 unit lainnya dikembangkan oleh Independent Power Producer (IPP) sebesar 4,5 GW.
Kemudian guna mempercepat realisasi target tersebut, perseroan juga membuka kolaborasi melalui skema Geothermal Exploration & Energy Conversion Agreement (GEECA) untuk Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) PLN serta Steam Sales & Energy Conversion Agreement (SECA) untuk WKP non-PLN. Dari total rencana 79 proyek (45 proyek GEECA dan 34 proyek SECA), penambahan kapasitas panas bumi diproyeksikan mencapai 3,1 GW.“PLN membuka kolaborasi seluas-luasnya bagi para mitra melalui skema GEECA dan SECA. Lewat kolaborasi yang fairness ini, diharapkan dapat mengakselerasi pengembangan panas bumi, sebagai salah satu energi baru terbarukan domestik,” katanya.
Sementara PLN Indonesia Power (PLN IP) sebagai satu-satunya subholding PT PLN yang mengelola pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) memiliki posisi kunci dalam pengembangan geothermal nasional, menegaskan komitmennya sebagai penggerak utama pengembangan energi baru terbarukan,“Indonesia memiliki potensi panas bumi yang sangat besar. Melalui kolaborasi PLN Indonesia Power dan PGE pada Lahendong dan Ulubelu, kami ingin mengoptimalkan potensi tersebut menjadi energi bersih yang andal sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional,”kata Bernadus Sudarmanta, Direktur Utama PLN Indonesia Power.
Menurutnya, percepatan transisi energi membutuhkan kolaborasi lintas pemangku kepentingan. “Sinergi antara PLN, PLN Indonesia Power, PGE, pemerintah, investor, dan seluruh pelaku industri menjadi kunci untuk mempercepat hadirnya pembangkit bersih yang andal dan berkelanjutan,” ungkap dia.
Melalui pengembangan Lahendong dan Ulubelu bersama PGE, PLN Indonesia Power terus memperkuat kontribusinya dalam menghadirkan energi bersih yang andal, sekaligus mendorong sistem energi nasional yang semakin hijau, tangguh, dan mandiri. Selain itu, melalui anak usahanya, PLN Indonesia Geothermal juga berkomitmen memperkuat portofolio pembangkitan berbasis panas bumi serta memperluas proyek pengembangannya di berbagai wilayah Indonesia.
Disampaikan Bernadus, pemanfaatan panas bumi menjadi solusi jangka panjang dalam menjaga ketahanan energi dan mengurangi emisi karbon.“Kami memandang panas bumi sebagai tulang punggung transisi energi di Indonesia. Dengan kapasitas teknis dan infrastruktur yang kami miliki, serta peran PLN Indonesia Geothermal sebagai key player PLTP di tanah air, kami siap mengoptimalkan potensi yang ada,” ujarnya.






































