NERACAONLINE, Seratus warga prasejahtera Kabupaten Batang memulai langkah pertama menuju dunia kerja manufaktur lewat jahitan pertama mereka. Pelatihan Siap Kerja Skema Operator Sewing Garment dan Pendampingan Penempatan Kerja resmi dibuka di Hall Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang, Senin (2/11/2026).
Mewakili Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat Desa, Daerah Tertinggal, dan Daerah Tertentu Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM), Prof. Dr. rer. nat. Abdul Haris, M.Sc., Asisten Deputi Pemberdayaan Masyarakat Desa Kemenko PM, menyampaikan keberhasilan program pelatihan kerja perlu diukur dari berapa banyak peserta yang bekerja dan tetap bekerja setelah penempatan, bukan dari jumlah orang yang dilatih.
Pelatihan yang diselenggarakan Ruang Amal Indonesia bersama LAZISMU ini berlangsung pada 2–7 November 2026. Seluruh pesertanya berasal dari keluarga prasejahtera atau mustahik di Kabupaten Batang.
Deputi Abdul Haris menilai persoalan ketenagakerjaan tidak semata soal tersedianya lowongan.
“Tantangan ketenagakerjaan kita bukan semata soal ada atau tidaknya lowongan, melainkan juga soal jarak antara keterampilan yang dimiliki pencari kerja dan keterampilan yang dicari industri,” ujar Deputi Abdul Haris dalam sambutan yang disampaikan Asisten Deputi Tri Haryanto.
Jarak itu tecermin dalam data Badan Pusat Statistik (BPS). Tingkat Pengangguran Terbuka pada Mei 2026 mencapai 4,65 persen, atau 7,22 juta orang dari 155,41 juta angkatan kerja nasional. Di Kabupaten Batang, angkanya pada 2025 tercatat 5,07 persen, atau sekitar 26 ribu orang.
Menurut Deputi Abdul Haris, bagi banyak pencari kerja, hambatan terbesarnya bukan kemauan untuk bekerja, melainkan keterampilan dan jalur masuk yang belum tersedia.
Padahal, Batang memiliki sesuatu yang tidak dimiliki banyak daerah lain. KEK Industropolis Batang, yang diresmikan Presiden Prabowo Subianto pada Maret 2025, dirancang menampung hingga 250.000 tenaga kerja saat beroperasi penuh. Pada Maret 2025, kawasan ini dilaporkan telah mempekerjakan 7.008 orang, sekitar 80 persen atau 5.600 orang di antaranya berasal dari Kabupaten Batang.
Namun, kawasan industri di depan pintu belum tentu berarti pintu itu terbuka.
“Kedekatan geografis, bagaimanapun, belum otomatis berarti kedekatan kesempatan,” tegas Deputi Abdul Haris.
Ia menjelaskan bahwa industri padat karya membutuhkan tenaga siap pakai, sementara keluarga prasejahtera sering kali belum memiliki keterampilan, sertifikasi, dan jalur untuk melamar. Di sinilah pelatihan siap kerja berperan sebagai jembatan, dan keterampilan operator sewing menjadi salah satu pintu masuk paling konkret ke dunia kerja manufaktur.
Deputi Abdul Haris mengapresiasi Ruang Amal Indonesia dan LAZISMU atas program Amal Vokasi. Menurutnya, pendekatan lembaga amil zakat ini tidak berhenti pada penyaluran bantuan, tetapi menyiapkan penerimanya menjadi pekerja.
Rangkaian program saling menguatkan dalam tiga tahap. Peserta dibekali pelatihan menjahit sebagai operator sewing garment, kemudian mengikuti sertifikasi sebagai bukti kompetensi yang diakui dunia kerja, dan selanjutnya ditempatkan bekerja dengan pendampingan karier agar tidak dilepas sendirian setelah pelatihan usai.
Kemenko PM memandang kolaborasi ini sebagai praktik baik yang perlu didukung dan diperluas. Setiap pihak mengambil peran yang berbeda dalam satu rangkaian.
“Pemberdayaan tidak dapat bekerja sendirian: lembaga zakat menyiapkan manusianya, pengelola kawasan menyediakan ekosistemnya, dunia usaha membuka lapangan kerjanya, dan pemerintah memastikan semuanya bertemu dalam satu arah,” kata Deputi Abdul Haris.
Agar ikhtiar ini tidak berhenti di ruang pelatihan, ia menitipkan tiga harapan. Kepada dunia usaha di kawasan, termasuk PT JJD Outdoor Products Indonesia, PT Bowron Footwear Industry, dan PT Widehero Toy Indonesia, ia meminta agar pintu dibuka seluas-luasnya bagi lulusan pelatihan, dengan hubungan kerja dan pengupahan yang sesuai ketentuan.
Kepada pengelola KEK Industropolis Batang, ia berharap jalur penempatan seperti ini menjadi bagian tetap dari ekosistem kawasan, agar warga sekitar menjadi pelaku utama pertumbuhan dan bukan sekadar penonton. Kepada Ruang Amal Indonesia dan LAZISMU, ia meminta data hasil program dibagikan agar dapat menjadi bahan pembelajaran kebijakan.
“Ukurlah keberhasilan program bukan dari jumlah orang yang dilatih, melainkan dari berapa banyak yang bekerja dan bertahan bekerja,” pesannya.
Kepada para peserta, Deputi Abdul Haris mengingatkan bahwa pelatihan ini tidak dipungut biaya, tetapi lahir dari kepercayaan banyak pihak yang menitipkan harapan kepada mereka.
“Ikutilah dari awal sampai selesai, patuhi aturan dan kode etik, dan jadikan disiplin sebagai kebiasaan pertama seorang pekerja profesional,” ujarnya.
Menutup sambutan, Deputi Abdul Haris, yang diwakili Asisten Deputi Tri Haryanto, membuka pelatihan secara resmi dan menyampaikan doa bagi para peserta.
“Semoga setiap jahitan yang kalian pelajari pekan ini menjadi jahitan masa depan yang kuat bagi keluarga kalian, bagi Kabupaten Batang, dan bagi Indonesia,” tutupnya.






































