NERACAONLINE- Di tengah banjir yang melanda Kota Langsa, Aceh, Puskesmas Langsa Barat menjadi salah satu tempat masyarakat mencari pertolongan medis ketika sejumlah fasilitas kesehatan, termasuk rumah sakit, turut terdampak. Petugas bahkan harus menjemput pasienlangsung dari rumah meskipun akses jalan terendam banjir.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Puskesmas Langsa Barat, Irwansyah, mengatakan petugas tetap berupaya memberikan pelayanan di tengah keterbatasan. Kendaraan operasional pun sempat kemasukan air saat digunakan untuk menjemput pasien.“Pada saat bencana, puskesmas kita menjadi tempat tumpuan harapan karena banyak rumah sakit yang mengalami kebanjiran. Banyak pasien yang dibawa ke puskesmas, bahkan kitaharus menjemput pasien ke rumah,” ungkap Irwansyah di Langsa, kemarin.
Kini, setelah melewati masa darurat, Puskesmas Langsa Barat mulai berbenah melalui proses rehabilitasi pascabencana. Sejumlah bagian bangunan mengalami kerusakan, mulai dari retakan pada dinding hingga kebocoran atap yang menyebabkan plafon runtuh. Kondisi tersebut sempat membuat ruang utama di bagian depan tidak dapat digunakan.
Proses rehabilitasi telah mencapai sekitar 50 persen. Sejumlah ruang yang sebelumnya rusak kini kembali dapat difungsikan. “Kalau kita lihat progresnya sekitar 50%. Ruang utama di bagian depan yang sebelumnya sudah tidak bisa digunakan karena banyak kebocoran, alhamdulillah setelah dilakukan revitalisasi sekarang sudah bisa dipergunakan,” jelas Irwansyah.
Meski demikian, sejumlah pekerjaan masih perlu diselesaikan, antara lain penggantian lantai vinil, perbaikan kamar mandi yang mengalami penurunan lantai, serta rehabilitasi beberapa ruang pelayanan. Perbaikan Instalasi Gawat Darurat (IGD) juga direncanakan pada tahap berikutnya.
Pemulihan fasilitas ini penting mengingat Puskesmas Langsa Barat melayani sekitar 100 hingga 150 pasien rawat jalan setiap hari. Dalam kondisi normal, fasilitas tersebut juga menerima sekitar dua hingga tiga pasien rawat inap baru per hari.
Selain perbaikan bangunan, pihak puskesmas masih membutuhkan dukungan pengadaan alat kesehatan, bahan medis habis pakai, perlengkapan kantor, serta fasilitas komputerisasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan.
Dampak bencana terhadap fasilitas kesehatan di Langsa tidak hanya dialami Puskesmas Langsa Barat. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kota Langsa, Vivi Handayani, menjelaskan bahwa seluruh lima puskesmas di kota tersebut terdampak banjir yang membawa air dan lumpur ke dalam bangunan.
Kerusakan meliputi plafon, dinding, lantai, hingga sejumlah peralatan kesehatan. Genangan air tertinggi dilaporkan terjadi di Puskesmas Langsa Baru, dengan ketinggian sekitar setengah meter. Akibatnya, pelayanan kesehatan di seluruh puskesmas sempat terganggu selama kurang lebih dua minggu.“Untuk puskesmas kita ada lima di Kota Langsa dan semuanya terdampak bencana. Pelayanan sempat terhenti sekitar dua minggu, kemudian kami membuat posko di desa-desa karena semua puskesmas terdampak dan tidak bisa difungsikan,” jelas Vivi.
Untuk memastikan masyarakat tetap memperoleh layanan medis, pemerintah daerah mengalihkan pelayanan melalui posko-posko kesehatan di desa. Proses rehabilitasi fasilitas kesehatan kemudian mulai dilaksanakan pada 1 Agustus 2026. Salah satu perkembangan terlihat di Puskesmas Langsa Kota, dengan progres pengerjaan sekitar 80%.
Vivi memastikan seluruh puskesmas kini telah kembali memberikan pelayanan kesehatan dasar, meskipun pembenahan bangunan masih berlangsung.“Alhamdulillah, untuk Puskesmas Langsa Kota pengerjaannya sudah sekitar 80%. Pelayanan juga sudah normal kembali, walaupun masih ada beberapa kekurangan yang terus dibenahi,” ungkapnya.
Namun, pemulihan bangunan belum sepenuhnya diikuti pemenuhan kebutuhan peralatan medis. Sejumlah fasilitas, seperti tempat tidur pemeriksaan, tensimeter, dan peralatan pemeriksaan lainnya, masih membutuhkan penambahan.
Menurut Vivi, bantuan peralatan kesehatan yang diterima sejauh ini lebih banyak difokuskan pada rumah sakit, sementara sejumlah kebutuhan puskesmas yang telah diusulkan masih dalam proses pemenuhan. Untuk sementara, petugas memaksimalkan peralatan yang tersedia. Pasien yang membutuhkan pemeriksaan penunjang atau penanganan lebih lanjut dirujuk ke rumah sakit sesuai kebutuhan medis.
Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Wilayah Aceh, Imran, mendorong percepatan rehabilitasi fasilitas pelayanan publik yang terdampak bencana, termasuk fasilitas kesehatan. Upaya tersebut dilakukan melalui koordinasi dengan pemerintah daerah dan instansi terkait agar pemulihan berjalan sesuai kebutuhan dan tingkat kerusakan.
Percepatan rehabilitasi tidak hanya diarahkan pada perbaikan fisik bangunan, tetapi juga pemulihan fungsi fasilitas kesehatan. Ketersediaan peralatan medis dan fasilitas pendukung perlu menjadi perhatian agar puskesmas dapat memberikan pelayanan secara optimal dan berkelanjutan kepada masyarakat pascabencana.






































